Tanda Petik
Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.
Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.
Hari-hari menjelang lebaran, meski Ramadhan masih sangat belia, isi kepala perantau macam saya jelas sudah penuh dengan bayangan akan pulang kandang ke kampung halaman. Sudah empat kali lebaran saya tidak mudik ke Jawa. Atas nama penghematan, pekerjaan maupun pertimbangan lain, saya justru lebih sering pulang (ke Jawa) di luar hari lebaran.

Tiga kali lebaran saya lewatkan di tanah kelahiran istri saya di Gorontalo dan satu kali saya berlebaran di Ternate. Jadi dengan semangat, tekad dan tabungan yang ada, saya beserta istri sepakat akan merayakan lebaran kali ini di Jawa.
Monggo jika tulisan saya kali ini dianggap aji mumpung. Kenapa baru sekarang? Kenapa nunggu meninggal? Sebenarnya nafsu nulis saya beberapa bulan ini bener-bener menguap. Akan halnya tiba-tiba saya menulis pas ada kejadian yang cukup bikin geger negeri ini adalah murni karena rasa hormat saya pada almarhum. Silakan saja saya dianggap ikut-ikutan, keli dudu mbanyu mili alias hanyut oleh riak lakunya massa, atau apapun sebutannya.

Next,