Mari Kita Bicara Soal…. Oknum
Bagaimanapun juga pada akhirnya ungkapan: “terserah orang mau bilang apa tentang saya dan keluarga saya….” adalah sebuah pernyataan yang cenderung tergesa-gesa. Imej atau pandangan orang banyak tentang sesuatu boleh jadi benar-benar nyata.
Melihat tayangan berita televisi dimana saat demonstrasi ada mahasiswa yang memukuli polisi yang saat itu sedang lewat, mungkin mau pulang ke rumah membuat saya miris.
Miris bukan lantaran saya mempunyai mertua seorang polisi, tapi lebih kepada bodohnya mahasiswa tersebut. Seorang intelektual, itu julukan yang diberikan kepada masyarakat pada para mahasiswa. Penyambung lidah rakyat, itulah yang dicita-citakan para mahasiswa dan diamini masyarakat.
Tapi intelektual macam apa yang tiba-tiba memukul dada seorang polisi tua yang sedang lewat di area demonstrasi?
Emosi apa yang membuat pemuda itu membuat tindakan aniaya seperti itu? Salah apa bapak tua itu pada dia? Pada Mahasiswa? Pada Masyarakat?
Kira-kira jawabannya ya hanya karena dia adalah seorang polisi.
Lalu timbul pertanyaan lagi, sebenarnya siapa sih yang didemo para mahasiswa? Pemerintah dalam hal kenaikan BBM? Institusi Kepolisian dalam kasus Unas Jakarta? Lalu, apakah Bapak Polisi Tua tadi yang menaikkan harga BBM? Atau disinyalir Bapak Tua tadi terlibat penyerangan Kampus Unas?
Oalah, le… le… Mbok baca koran dan buku dan cari tau bagaimanakah sistem pemerintahan dijalankan dan bagaimana sebenarnya sistem keamanan yang dipegang oleh kepolisian. dan yang lebih penting lagi belajarlah tata cara demonstrasi.
Menjadi polisi, menjadi petugas pajak, menjadi Polisi Pamong Praja, menjadi pengacara, apakah lantas menjadikan pribadi masing-masing dari mereka mempunyai kepribadian dan sifat serta tindak tanduk yang sama?
Tak semua orang cina bisa kungfu. Tak semua orang pekalongan suka pake batik. Harusnya permisalan seperti ini bisa dipahami oleh para mahasiswa tersebut.
Kemarin tatkala ada Wajib Pajak meminta bantuan kepada saya mengenai kewajiban perpajakan dan pembuatan NPWP serta Surat Keterangan Fiskal, saya jadi merenung. Setelah selesai urusannya, si Wajib Pajak menanyakan berapa uang administrasinya. Saya menjawab gratis.
Tiba-tiba sang bapak menyalami saya, mencium tangan saya, lalu memeluk saya dan berbisik :
“…Jazakumullah….”
Pikiran saya berputar-putar. Saya menjadi bingung, sebenarnya, bagaimana sih pandangan masyarakat tentang Kantor Pelayanan Pajak, tentang Perpajakan itu sendiri, dan tentang para petugas pajak?
Jangan-jangan kami ini dianggap buta, kala atau monster… Kasihan anak saya nanti kalo beneran begitu…
Tags: anarki, BBM, demo, demonstrasi, mahasiswa, oknum, polisi, unas






12 Comments, Comment or Ping
bini
yah syukurlah… setidaknya dirikuh tidak perlu capek2 lagi nulis di blog ku. wong semuanya yang mo kuungkapkan sudah ada di sini. Kita kok sering skali barengan keluar idenya. Dan lagi-lagi dirikuh terlambat!!!
yak!!! kasihan bapak tua ituw… waktu disakiti pun bapak itu cuman bilang ” saya ini orang tua lho!” bukan memakai kalimat “saya ini polisi lho!”. ckckckkck… banyak orang yang tidak bisa merasakan pendidikan di bangku kuliah seperti mahasiswa-mahasiswa itu, tapi mereka masih bisa berpikir lebih pinter, lebih bijak, lebih dewasa dan lebih sabar dalam menghadapi masalah-masalah.
Kayaknya sekarang itu mereka menganggap “bukan demo namanya kalo gak anarkis”.
weh.. mo jadi apa bangsa ini kalo kebanyakan mahasiswa seperti itu?
apa nanti anakku ku didik di rumah saja daripada disekolahin tapi begitu kelakuannya???
May 28th, 2008
bini
wuih… dirikuh kok jadi berapi-api mpe berasap gini yah kalo dahngomongin soal mahasiswa…..
ayah… bunda butuh es krim kayaknya!!!
terang bulan jugah!
May 28th, 2008
milvan
Malam2 ke kantor, sambil buat pr membaca tulisan bangpay, hehehe…
Udah lama saya tidak mendapat angin segar seperti ini lagi…
May 28th, 2008
beacukai
“… Kasihan anak saya nanti kalo beneran begitu…”
Sing luwih nelangsa ya wong tuwane mbok mas, jajal nek anakke pas lagi ndaftar ulang sekolah trus gurune komentar: “masak sumbangan orang keuangan kalah ama sumbangan pegawai kelurahan…??!@#”
Duh gusti, paringana power…..
May 29th, 2008
Adis
Baca komentar bini yang kedua:
Wekeke….
binibono makannya banyak ya??May 29th, 2008
bini
Dis.. bononya sih makannya sedikit, bundanya yang makan buanyak hehehe.. namanyajuga ibu hamil. Makan buat beruda. Tapi gak semuanya dihabisin kali. Dikit-dikit tapi sering!!
Ayah… pisang gorengnya kok gak kunjung tiba?
May 29th, 2008
bini
RALAT : “makan buat beruda —> makan buat berdua
May 29th, 2008
satrio
wah wah..
aku pengen pandangan orang berubah.
tapi ketika dicoba mengandani dengan sopan bin baik-baik, mereka ngelunjak.
ketika diberitahu peraturannya dibilang hanya alasan agar dikasih duwit..
pusying sayah..
May 29th, 2008
Hedi
mahasiswa pendemo itu…tai kucing!!! (maaf, mas…)
May 29th, 2008
cukopara
maaf, tapi jujur saja, saya gak pernah simpati sama demo-demo mahasiswa, selama mereka masih berusaha nerobos pagar petugas keamanan, memaksa masuk ke kantor, atau membakar-bakar…
saya yakin mereka itu cuma idealisme sesaat, cuma karena di pundak mereka tersandang nama “Mahasiswa”, yang katanya Agent of Change. Paling ntar kalo udah di dunia nyata idealismenya ilang entah kemana….macam beberapa tokoh nasional kita yang kini dihujat dan jadi koruptor
(kecuali yang memang bisa menjaga idealismenya ketika di dunia nyata, saya salut…)
May 30th, 2008
nindityo
“aku ini orang tua lho”
.. harusnya dengan kalimat tadi dah cukup mewakili.
Jun 29th, 2008
Reply to “Mari Kita Bicara Soal…. Oknum”