Roso Kangen Kampung Dalam 5000 Rupiah
APA ALASAN JUTAAN ORANG RAME-RAME RELA MERANTAU MENINGGALKAN KAMPUNG HALAMAN MENUJU KAMPUNG YANG TAK DIKENAL?

Banyak jawabannya. Dan jika rajin ngobrol dengan orang lain maka kita sering dibuat terpukau oleh ajaibnya jawaban-jawaban para perantau itu. Bukan cuma jawaban standar macam ndak adanya pekerjaan di kampung tapi juga ada yang lantaran di jawa habis mbacok orang atau menghamili tetangga sehingga ia nekat keluar pulau merantau.
Tapi saya sedang tak ingin ngomong hal itu. Saya akan ngomong soal roso kangen kampung buat para perantau seperti saya. Roso yang tentu tidak terfermentasikan dengan baik jika seseorang tak pernah keluar kampung. Roso yang mengendap berubah wujud menjadi kebanggaan menjadi bagian dari kampung dan udik asal para perantau itu.
Banyak kawan yang jadi demen musik tradisonal jawa justru setelah bedol desa merantau keluar jawa. Dan agaknya roso itu merembet pula hingga ke dunia kuliner karena tiba-tiba orang bisa saja menjadi sadis dan kejem tatkala di rantau ada orang yang jualan makanan khas kampung, ala udik namun tak seenak selezat senyamleng apa yang ada diangan-angan para perantau itu.

Lantas makanan-makanan itu dituduh bajakan, palsu atau niru-niru. Mulai dari sayur asem yang rasa asemnya lain (tak sama dengan bikinan emboknya di jawa), masakan padang yang cuer encer santannya (lagi-lagi tak mirip bikinan inangnya di nun jauh di mato) atau tempe mendoan penghianat hanya lantaran dibuat dari tempe yang berbeda (dari yang dibuat oleh mamaké si perantau).
Tapi roso kangen itu ada. Mengkristal dan ujung-ujungnya menjadi jati diri. Lantas jikalau ada orang yang memanfaatkan kondisi seperti itu dengan cara menjual makanan khas kampung apakah lantas bisa dibilang aji mumpung?
Saya tak punya jawabannya, sejak dahulu saya kurang begitu tertarik mbaca buku antropologi, sosialogi atau psikologi, ketambahan saya dijejali dengan bacaan makro ekonomi dan mikro ekonomi melulu.
TAPI KIRA-KIRA BEGINI,
Buat para perantau kelas menengah ke bawah, tentunya tak banyak yang bisa dilakukan untuk rekreasi. Baik itu rekreasi batin, fisik atau lidah. Tak banyak sisa uang wong nabung saja susahnya bukan main. Maka minimal ada kepuasan lidah. Nah jika ada yang “berani” jualan makanan khas kampungnya tentunya akan dia letakkan si penjual tadi dalam status sosial tepat di bawah bapak-ibunya.

Pagi di hari sabtu itu mataharipun sudah begitu terik membakar bumi ternate. Saya dan istri saya dengan sabar ngantri di pinggiran jalan di pusat kota ternate. Diantara puluhan pedagang buah dan tas, nyempil di sana seorang penjual nasi kuning dan nasi rames kelas jelata. Istri saya ngobrol dengan beberapa orang sedang saya dan kamera jepret sana-sini lantaran memang sengaja sedang mencari bahan tulisan untuk sekedar turut meramaikan lomba posting kuliner ndeso a la Chef Slamet itu.
Tak mewah memang yang dijual, hanya sebatas nasi kuning dan rames yang lauknya hanya satu jenis sayur.
LALU KENAPA BISA LARIS BEGITU?

Dari logat dan dialek yang dipakai oleh para calon pembeli bisa disimpulkan bahwa mereka semua adalah para perantau dari Gorontalo, kampungnya istri saya. Penjualnya pun berasal dari sana. Lidah yang dimanjakan dengan cita rasa khas masakan kampung Gorontalo tentunya membuat para pelangggan merasa seperti kembali ke pelukan mbok-mbok mereka, kalo tidak kenapa pula mereka setia?
Soal harga juga masuk dalam pertimbangan. Ya menjadi rakyat Indonesia memang tak ada kamus “semakin mudah”, barang kebutuhan yang makin melambung tentunya membuat usaha memanjakan lidah harus dilakukan secara bijaksana. Ternate yang merupakan tempat mahalnya segala sesuatu, tentunya jika menemukan makanan dengan hraga murah plus mengingatkan akan kampung halaman tentunya akan seperti oase di tengah sahara, bukan? (sebagai gambaran, di ternate dengan uang Rp. 2.000,- anda hanya akan mendapatkan dua batang bawang daun yang kurus kering)
Nasi rames yang dihargai Rp. 5.000,- per bungkus itu hanya berisi nasi seadanya, sayur semacam oseng kacang buncis dan bihun, ayam ataupun potongan ikan goreng (dalam ukuran mini), plus sambal khas orang gorontalo yang pedasnya bisa membakar lidah. Mirip nasi kucing milik angkringan di Jawa sana namun beda rasa pun beda harga. Tambah telur, anda harus menggenapinya menjadi Rp. 7.000,-. Saya memilih nasi ayam, istri saya memilih nasi ikan. Lalu kami bawa pulang. Dan sebagai abdi negara jempolan, kami menghabiskan sarapan pagi kami di kantor saya. Kantor libur, tapi maaf jika kami numpang sebentar untuk ngadem numpang AC.

Melihat lahapnya istri saya membuat saya bahagia. Enak memang makanan kelas jelata yang tersaji di depan saya saat itu. Dalam bayangan, saya berpikir bahwa istri saya sembari menikmati sarapan harapan untuk pulang kampung makin tebal. Ayo nabung, istriku! Untuk persiapan persalinanmu, untuk pulang kampung ke kampungmu, dan juga mudik ke kampungku. Mari makan istriku, halal ini. halal makanannya, halal pula uang yang dipakai untuk membelinya.
DAN HALAL UNTUK IKUT LOMBA NDESO INI KAN, CHEF SLAMET?
Tags: bini, lomba wisata kuliner jelata, sarapan, slamet widodo, ternate






13 Comments, Comment or Ping
Ndoro Seten
Roso kangen pada kampung halaman itulah yang menjadi bumbu sehingga makanan nggak enak bagaimanapun jika sudah berhubungan dengan kampung asal-usul terasa kian mak nyuuuuuus….
Itulah roso itu!
POSTING TERBARUNYA Ndoro Seten : PERSAUDARAAN
Jun 9th, 2008
hanggadamai
jadi kepengen seperti apa masakannya..
BTW benar bang apa yg abang katakan, menjadi perantauseperti diriku tak bnyak yg bisa dilakukan untuk rekreasi
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA hanggadamai : Nama Jepangku
Jun 9th, 2008
bini
rasa enaknya nambah karena makannya bareng suami tercinta lho!!
sayang gak ada yang jualan mendoan di sini. lumayan kan bisa mengobati rasa kangen mertua…
Jun 10th, 2008
SaintPooney
“…Lantas makanan-makanan itu dituduh bajakan, palsu atau niru-niru…”
itu yang gw keluhkan waktu ketemu penjual pempek di kampus dulu.
dari njualnya aja udah aneh…jual pempek kok pake gerobak…
tapi toh saya beli juga…kangen…
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA SaintPooney : pindah rumah
Jun 12th, 2008
bangpay
NDORO SETEN | bukan mbah roso yang para normal itu kan, ndoro?
HANGGADAMAI | mosok?
BINI | mendoan lagi….
SAINTPOONEY | begitulah…
Jun 12th, 2008
sluman slumun slamet
hmmmm. kelihatannya enak juga tuh… ini makan-makan dari gubernur baru ya?

Jun 12th, 2008
satrio
sayang, masakan disini gak semurah diatas
bahkan untuk makanan rumahan yang kembali mengkristalkan rindu rumah yang menggebu -halah, bosomu, leee..-
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA satrio : Alhamdulillah..!!!
Jun 14th, 2008
mahadewa
lah..lah..lah…ndak nyangka saya…
ternyata bangpay ini yo wong banyumas tho…
mak jebule tanggane dhewe…
wadhuh kang…bingung aku…
awakmu nek mudik ki ming ndi..gorontalo po ming banyumas?
bingung juga mbayangna awakku ngemben nek nduwe bojo beda daerah, adoh meneh saka tempat kerja…
bingung aku nek adoh sekang umahe wong tuwa, sekang umahe mertua…
Jun 14th, 2008
bangpay
SLAMET | iya
MAHADEWA | lha baru tau? saya sudah tau sampeyan orang mana gitu loh sejak dulu… mudik ya dua2nya no…
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA bangpay : Melawan Mitos Tentang Orang Pajak
Jun 15th, 2008
Donald56
walah…
ternyata bangpay ini wong banyumas toch…
banyak kesamaan neh kita…
sama-sama gemini (cuma beda sehari doank ultahnya)…
tetanggan aslinya (saya asli purwokerto, ibukotanya banyumas)…
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA Donald56 : BPHTB VS PPh Final PHTB
Jun 16th, 2008
wieda
itu makanan menggiurkan…..sampai nelan ludah ngeliatnya…
“pasti enak buanget”
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA wieda : cerita "kesembuhan"
Jul 5th, 2008
bangpay
DONALD56 | saya lahir di pewete kok..

WIEDA | memang enak…
Jul 6th, 2008
Reply to “Roso Kangen Kampung Dalam 5000 Rupiah”