Di Atas Atap Speedboat Sidangoli - Ternate
Memang Ujian Nasional telah lewat. Pengumuman kelulusan juga sudah selesai. Dan kejadian dimana saya bertemu dan ngobrol dengan seorang guru itu juga sudah lama berlalu. Namun saya ingin berbagi apa sih yang kami obrolkan di atap speedboat terakhir berpenumpang 8 orang dari Sidangoli menuju Ternate sore itu.

Berawal dari buruknya cuaca sehingga saya tak bisa kembali ke Ternate menggunakan pesawat carteran, saya menempuh jalur darat dari Gosowong menuju Sidangoli. Setibanya di Sidangoli hari telah begitu sore dan hujan rintik-rintik. Langit agak gulita. Tapi saya harus pulang. Bini menunggu.
Akhirnya di dermaga kecil itu beberapa orang telah menunggu. Mereka adalah orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari transportasi Sidangoli - Ternate. Speed Boat berjajar rapi.
“Abang, mari naik.. ini Speedboat terakhir menuju Ternate, Abang!”
Ah, di jawa dan di Maluku Utara sama saja. Biar penumpang tak sempet mikir mereka selalu bilang bahwa kendaraan mereka adalah kendaraan terakhir di hari itu. Lima puluh ribu tarif yang diminta untuk perjalanan setengah jam itu. Tak ada calon penumpang lain sedang speed boat hanya butuh satu penumpang lagi untuk berangkat.

Seorang bapak bertubuh gempal naik ke atas atap speed boat, entah kenapa saya malah mengikutinya. Kini ada dua orang bertubuh tambun di atas atap yang terbuat dari fiber. Si anak buah kapal bertanya kepada si nakhoda, apakah tidak terlalu beresiko jika dua orang gendut berada di atas atap?
Nakhoda cuman memberi kode, saya tahu maksudnya: “Biar sudah!”
Speedboat mulai meninggalkan dermaga. Dua dari tiga mesinnya dinyalakan, satu sebagai cadangan. Kenapa pula saya harus berada di atas atap? Ombak begitu ganas, mengombang-ambingkan speedboat seperti anak kecil yang ingin menjatuhkan kedua orang gendut di atas atap speedboat yang begitu imut.
Saya jelas memucat, ini kali pertama saya naik speed boat Sidangoli - Ternate, dan saya tak mau mati di sini. Tentu saja tak ada obat penenang yang bisa saya minum, maka saya memilih mengajak ngobrol Bapak-bapak di depan saya. Meski kini tak hanya kami berdua yang berada di atap. Beliau ternyata seorang guru.
Entah ilmu ekonomi macam apa yang ia imani sehingga ia rela bolak-balik Sidangoli - Ternate setiap hari. Sekolah tempatnya mengajar di Sidangoli, sedang anak istrinya di Ternate. Kami ngobrol kesana kemari, dari cuaca sampai politik. Dari keseimbangan kapal, sampai berat tubuh kami. Dari pekerjaan sampai tak jelasnya sistem pendidikan Indonesia. Tapi kami lupa bertanya nama. Ah, kondisi seperti ini memang tak penting bertanya nama. Tapi bisa jadi tak terlupa.

Bapak itu bercerita soal Ujian Nasional yang baginya adalah penghianatan terhadap potensi Guru. Dia sama sekali tak bisa mengerti bagaimana dia tiap hari ngoceh mendidik anaknya yang kemudian hanya ditentukan dengan nilai hasil ujian dalam waktu yang hanya dalam hitungan hari.
Tentang bagaimana guru dianjurkan dan diharuskan untuk mendidik watak masa depan bangsa sedangkan di kepala mereka hanya ada kekuatiran tentang momok Ujian Nasional. Di dalam kondisi ekonomi yang bobrok ini, apalagi di Indonesia Timur beliau takut jika Ujian Nasional begitu menakutkan dan memakan korban tak lulus terlalu banyak, maka jangan-jangan suatu saat nanti sekolah akan kosong.
“Jika mas punya kepokanakan yang bodoh, sedang tak punya banyak biaya untuk sekolah, apa mas mau menyekolahkan keponakan mas? Bukankah lebih baik disuruh kerja di kebun daripada nanti juga tak lulus Ujian Nasional?”
Masuk akal juga tatkala beliau bilang sangat menyakitkan tatkala melihat muridnya yang berperangai santun, berbudi luhur dan sopan tak lulus sedang troublemaker di sekolahnya malah lulus UN dengan gemilang. Entah badai psikologis macam apa yang mendera batin si anak baik tadi.

Ah! Dunia memang tak adil, kata beliau. Mati-matian dia mengajari anak didiknya dengan sistem pendidikan yang dibuat di pusat tanpa mau tahu dengan kondisi di Indonesia Timur, eh anak didiknya juga harus diuji dengan soal-soal PILIHAN GANDA yang juga dibikin lagi-lagi di pusat.
Mas, saya percaya, anak-anak saya jauh lebih hebat dari siswa SMA di jawa sana. Mereka bisa les, mereka bisa panggil guru privat, mereka bisa beli buku. Sedang murid saya… Kalimat itu tak selesai. Kapal keburu menepi.
Tapi saya mengamini saja. Terima Kasih, Guru….
Tags: Guru, Indonesia Timur, maluku utara, malut, Pendidikan, Sidangoli, ternate, Transportasi, Ujian nasional, UN






29 Comments, Comment or Ping
bini
yah… sekolah bertahun-tahun tapi penentu berhasil tidaknya hanya dalam tiga hari! bingung… bingung…
deg-degan bukan main waktu menunggu kepulangan abang yang satu ini (ada yang lain githu?) tapi begitu ketemu tetap pasang tampang sok cool… abis itu berpelukan
gambar orang gendut yang satunya mana yaks?
*ngumpet*
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA bini : Laporan Penglihatan : Jerman vs Turki
Jun 29th, 2008
utchanovsky
Terlepas dari itu…
UN mereduksi konsep belajar jadi sebatas evaluasi saja. Sekarang siswa belajar bukan untuk mencari ilmu, tapi untuk sukses ujian
Berdasarkan prinsip pedagogik pendidikan, yg berhak melakukan evaluasi adalah penyelenggara pembelajaran (sekolah), bukan pemerintah.
Evaluasi memang perlu, tapi harus jelas yang seperti apa. Mekanisme penentuan standar sepertinya harus digoyang.
Btw kalo gak salah pengadilan telah memutuskan bahwa UN tidak sah (antara JK+Mendiknas dan Prof Haar Tilaar). Entah kenapa program ini masih terus jalan
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA utchanovsky : Penjelasan Paling Bodoh Mengenai Core2Duo
Jun 29th, 2008
SaintPooney
yup….
saya setuju kalo siswa sekarang belajar cuma buat lulus ujian, bukan nyari ilmunya…
mereka mati-matian belajar supaya mereka bisa melalui tiga hari yang menentukan itu…
saya adalah hasil dari proses itu, dan kini saya bahkan tidak lagi ingat apa yang saya pelajari di sekolah, karena saya cuma ingin lulus sekolah…
Jun 30th, 2008
gempur
Ikut berduka cita atas pendidikan Indoensia…. salam buat pak gurunya bang! itu kalo ketemu lagi…
btw, ati-ati di atas speedboat… hiks, jadi ngeri sendiri…
Jun 30th, 2008
Panda™
SEEEPPPPPPPPPPP !!!
aku tersentuh setelah baca postingan sampeyan…emang pendidikan bagus cuma di Jawa aja?? kesempatan yg lebih luas udah seharusnya diberikan kepada daerah-daerah luar Jawa…
hehehe…wisata air juga?
emang luar Jawa itu indah sobat…jangan takut naik kapal, perahu, speedboat, atau apalah namanya
bagus juga dibentuk kayak koran gini
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA Panda™ : Chapter II: Strange Foreign Beauty
Jun 30th, 2008
bangpay
BINI | awas kowe….
UTCHANOVSKY | karena “cring… cring…”
SAINT POONEY | lha bukankah kita semua begitu?
GEMPUR | insya allah!!!
PANDA | hehehe saya lebih timur dan lebih lama lho dari sampeyan…
Jun 30th, 2008
zawawi
bagaimanapun UN salah satu bentuk peningkatan mutu pendidikan melalui penaikan standar nilai kelulusan. Kalo ga digituin ntar pada ga belajar lagi:-)
Yang mesti diperhatikan kualitas sarana, guru, dan proses mengajar di kelas ditingkatkan. terutama di daerah luar jawa.
saya kira begitu
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA zawawi : Terinfeksi
Jun 30th, 2008
bangpay
ZAWAWI | lha masalahnya yang lucu itu cara yg diambil untuk menentukan kelulusan…. mbok yao dikembalikan ke sekolah dus gurunya sendiri yang paling tahu muridnya pantes lulus apa enggak…
Jun 30th, 2008
Hedi
lha kalo soal teriakan “ini terakhir”, di jkt banyak, mas..apalagi kalo udah lewat mahgrib dikit
Jun 30th, 2008
sluman slumun slamet
gak perlu sekolah, cukup menghafal rumus dan aneka hafalan selama enam bulan langsung ikut unas. hemat kan?

BTW saya kemarin kaget juga pas nyebrang dari jailolo ke ternate. waktu itu selepas maghrib. lha kok lampu kapal cuma senter alias sentolop saja. jadi seorang ABK naik ke atap terus megangi senter dan digerakin ke kanan atau ke kiri.
Jun 30th, 2008
abdee
mendiknas nya itu lho bikin gemesss….
pingin jitak trus bilang “hapus un, bisa ndakk”
ups…
Jun 30th, 2008
eva
sayang sekali sistem pendidikan negara ini tidak mengenal kata gagal. kelulusan adalah tiket untuk kemanamana, sedangkan ketidaklulusan adalah akhir dunia yang ‘lebih baik’
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA eva : perihal yang romantis*)
Jun 30th, 2008
hanggadamai
bikin pengen
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA hanggadamai : Silaturahim Disela-sela Kesibukan
Jun 30th, 2008
utchanovsky
@ Zawawi
Standar seperti apa?? Dari awal kurikulum saja sudah salah sasaran. Kurikulum kita lebih mengarahkan siswa untuk menjadi ahli, bukan praktisi. Jelas pembentukan standar yang digelontorkan pemerintah sangat tendensius.
Contoh. Pada pelajaran bahasa di sekolah, kita pernah belajar soal morfem, sufiks, klausa turunan, dsb. Apakah ilmu2 tersebut dipakai dan diimplementasikan dlm khidupan sehari2. Sepertinya tidak.
Kenapa kita tidak mengarahkan pembelajaran bahasa lebih kepada praktik berbahasa sehari2 dengan mengembalikannya pada hakikat belajar bahasa, yakni untuk berkomunikasi. Jadi, pemberian materi bahasa tidak sampai ke situ (menjadi ahli) tapi cukup bagaimana penerapannya dan kaidah penggunaannya di lapangan (praktisi).
Kalau sudah begini, evaluasi mungkin bisa dilakukan. Dan satu hal lagi. Evaluasi bukan segalanya dalam proses pembelajaran. Standar yg dimaksud di sini menurut siapa?
Jun 30th, 2008
juned
awas kecebur bangg..
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA juned : Mengatasi komedo di wajah anda
Jul 1st, 2008
Adis
Gendut 2 dimana ya? Fotonya cuman Gendut 1 terus dari tadi…
Jul 1st, 2008
bangpay
HEDI | itu sudah kultur bangsa kita?



SLAMET | daripada ndak ada senter??
ABDEE | ha jangan.. ndak ada rambutnya, kalo dijitak nanti mencolok… (ampun pak menteri!!!)
EVA | lho kenal… cuman tidak menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran…
HANGGADAMAI | pengen apa? naik speed? punya bini yg nungguin? ke halmahera? jadi orang pajak? atau naik di atap? jawab!!!
UTCHANOVSKY | nah zawawi… modar kowe!
JUNED | hehehehehe…
ADIS | ha badai kok… motret narsis malah blur semua….
Jul 1st, 2008
waterbomm
susah juga ya mas..
musti dibikin standarisasi pengajaran.
apa sudah ya?
Jul 1st, 2008
mba deni
jamanku dulu…namanya ebtanas tho…rasanya gak semenakutkan UN pada masa sekarang ini. yang lulus juga banyak. lha nek tiba2 UN jadi momok bagi pelajar-alih2 alasan memperbaiki kualitas bangsa dengan menaikan standar kelulusan, saya yakin yang didapat pemerintah hanyalah manusia2 indonesia yg menghalalkan segala cara untuk memperoleh pengakuan…sesuai tema yg diajarkan di sekolah…
salut buat bapak2 genduttt…!!
Jul 1st, 2008
Satrio
pay, panda itu penempatan lebih dulu dari kita lho..
mencermati tulisan anda, saya bingung mau bicara apa.
semua yang mau saya omongkan sudah dibicarakan oleh orang-orang yang posting komentar sebelom saya..
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA Satrio : Alhamdulillah..!!!
Jul 1st, 2008
bangpay
WATERBOOM | standar sudah ada, tapi untuk siapa, oleh siapa dan untuk apanya itu yg gak jelas…
MBA DENI | jaman sampeyan? wah sebelum gunung ini meletus ya?
SATRIO | ha siapa yang mbahas penempatan??
Jul 1st, 2008
ranny
ngapain di sidangoli pak?ternate na dimana tinggalnya?salam wat jeng tika
Jul 1st, 2008
sapimoto
Gak takut bikin tenggelam tuh dua orang gendut naik diatas atap kapal???
Huehehehehehe….
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA sapimoto : Plugin Pengelola Iklan Banner
Jul 1st, 2008
gunawanwe
hasil jepretannya oke juga bang..
Jul 1st, 2008
Panda™
tentu saja….anda lebih lama di Ternate dari saya, soalnya saya blm pernah ke Ternate…

tapi saya sudah 4 tahun 5 bulan di Maumere, yg tentunya lebih lama dari anda, karena anda blm pernah menginjakkan kaki di Maumere
TULISAN TERBARU DI BLOGNYA Panda™ : Sunset Policy Dalam Undang-Undang Pajak Yang Baru
Jul 2nd, 2008
Jane
Hmm.. tapi kalo gak ada UN apa jadinya anak2 sekolah sekarang.. ada UN ajah yang lulus gak semuanya, gimana kalo gak ada UN? sebenernya.. kalo dipikir2 apa sih bedanya yang lulus sama yang gak lulus.. mereka toh belajar di bawah atap sekolah yang sama.. mungkin yang gak lulus itu kurang berusaha.. yah tapi gak bisa dijudge gitu juga sih.. hmm.. kadang mungkin ada yang merasa gak tertarik sama pelajaran2 tertentu sampe gak mo belajar..
ada baiknya mending kalo udah masuk smu gituh kalo emang dah tau minatnya apa masuknya langsung ke smk yah.. biar lulus semua
btw tuh kyny seru naik speedboat.. terombang ambing ditengah ombak *syerem*
Jul 2nd, 2008
heru
WAH HEBAT BANG PAY……
AKU JADI SEMAKIN BINGUNG
DISAAT INI MASIH ADA JUGA YANG SEMPAT NULIS RUTIN
KADANG AKU GEREGETAN
PINGIN NULIS DAN NULIS
TAPI O ALLAH
KALAU UDAH DIDEPAN LAYAR
MUMET DAN NGANTUK.
HEHEHE SELAMAT. SALAM KENAL. TERIMAKASIH TELAH MAMPIR DI BLOG SMPNEGERI1KUTASARI
heru last post: Jawabane Bahrul Ulum
Jul 26th, 2008
orangndut
Kenapa UAN gak dihapus aja? Abis, seolah2 UAN itu adalah penentu nasib siswa setelah belajar bertahun2. Padahal, keberhasilan dalam UAN belum tentu mengindikasikan keberhasilan seseorang dalam menghadapi hidup lho. Kan sekolah itu seharusnya menjadikan atau membimbing siswanya menjadi tahu akan ilmu sehingga bisa berhasil dalam hidupnya.
orangndut last post: KPR Syariah: Salah Satu Solusi bagi Anda yang Ingin Beli Rumah
Aug 6th, 2008
Reply to “Di Atas Atap Speedboat Sidangoli - Ternate”