Ketika Tenda Pun Kontekstual
Di pelataran Gedung Kantor Gubernur Maluku Utara berdiri tenda-tenda yang sedianya dipersiapkan untuk acara pelantikan Gubernur Maluku Utara yang pilkada-nya masih menjadi sengketa sampai dengan saat ini.

Total terdapat 30 set tenda yang ternyata disewa dari pengusaha tenda partikelir. Iyalah, justru lucu kalo ada tender pengadaan barang berupa tenda kawinan di instansi pemerintah. Menyewa tenda adalah langkah paling efektif dan efisien yang diambil oleh Kantor Gubernur Maluku Utara.
Namun kondisi politik Maluku Utara yang tak juga membaik, bahkan berubah menjadi persoalan yang terlihat tak ada ujung pangkalnya itu, tentunya membuat prosesi pelantikan Gubernur menjadi tak jelas. Dan makin tak jelas.
Ah! Dunia politik memang dunia yang lebih gulita dari cangkrukan warung remang-remang.
Lalu bagaimana dengan nasib si tenda tadi? Setiap kali saya dan bini saya melewati Kantor Gubernur Maluku Utara, kami selalu bertanya-tanya berapa ya biaya yang dikeluarkan pemerintah propinsi untuk menyewa tenda tersebut?
Koran Malut Post edisi 5 Juli 2008 akhirnya menjawab rasa penasaran kami.
Adalah Bapak Usman Muhammad yang menjadi pemilik dari 30 tenda yang disewakan tersebut. Lelaki yang memang berprofesi sebagai penyedia jasa penyewaan tenda dan atribut pesta ini mengaku bahwa selama tendanya disewa Pemerintah Propinsi Maluku Utara dia seperti ketiban duren.

Ah, lagi-lagi saya menggunakan istilah ketiban duren yang sejatinya sangat menyakitkan untuk menggambarkan seseorang sedang ketiban rejeki yang sangat besar.
Sang pemilik tenda dalam kurun waktu satu bulan telah menerima penghasilan dari sewa tendanya sebesar Rp. 795.000.000,-. Terbilang Tujuh Ratus Sembilan Puluh Lima Juta Rupiah.
Tenda yang saya bahas ini menjadi sangat kontekstual. Di mata sang pemilik meski telah menerima bayaran yang berlipat ganda, beliau tetap merasa was-was kalau-kalau tiba-tiba tenda tersebut dirusak massa. Jangan-jangan tenda tadi meski tentu saja bisa diganti dengan uang yang diterima oleh sang pemilik tenda ataupun ganti rugi dari si penyewa (jika memang tercantum di klausul sewa-menyewa), bagi si pemilik kan bisa saja tenda yang berjumlah 30 itu menjadi semacam tenda-tenda bertuah. Pendatang rejeki, diupili dewi fortuna atau apalah istilah yang tepat.
Sedang bagi para aktifis politik, tentu makna tenda tersebut jadi lain. Bagi pendukung Thaib Armayn yang sedianya akan dilantik menjadi Gubernur Maluku Utara –sesuai SK Mendagri–, tenda dan podium itu adalah setengah dari perjuangan mereka. Seolah-olah tujuan politik mereka tinggal beberapa tetes keringat lagi untuk bisa tercapai.
Dan bagi pendukung Abdul Ghafur - Abdurrahim Fabanyo (rival Thaib Armayn - Gani Kasuba) tenda itu adalah penghinaan terhadap perjuangan mereka. Tenda tersebut adalah penghalang dan pantas dihancurkan. Makanya entah sudah berapa kali tenda tersebut menjadi target utama demonstrasi.
Demonstrasi memang tidak membenarkan perusakan terhadap fasilitas umum apapun bentuknya menjadi ritual. Tapi kini, seolah-olah kurang afdol bagi demonstran untuk tidak merusak sesuatu. Minimal pagar.
Dan pagar pun menjadi kontekstual….
KETERANGAN GAMBAR : diambil dari versi cetak Koran Gorontalo Post edisi 05 Juli 2008
Tags: Abdul Gafur, Gorontalo Post, Gubernur, Kontekstual, maluku utara, malut, Pilkada, TA-GK, Tenda, ternate, Thaib Armayn






12 Comments, Comment or Ping
syamsu
tenda…tenda… malang benar nasibmu nak….
Jul 8th, 2008
juansuandi
iseng bener di fotoin korannya
juansuandi last post: ya dan AOSI itu berdiri
Jul 8th, 2008
Hedi
kata yg ngurus tenda…asyik saya dapet uang tambahan lagi
Hedi last post: The Guardian dan Gosip Bola (1)
Jul 8th, 2008
abdee
Apa tidak bosen ya yang berkonflik di pilkada Malut…
Yang baca di koran, dan liat di tv aja bosen je…
Kasian yang nggak ada sangkut pautnya pada kedua kubu…
Eh, yang bener malut pos ato gorontalo post sih bang…
abdee last post: Ahli Therapi Jiwa Asli Jogja
Jul 8th, 2008
bini
sekalian nunggu acara tujuh belasan kali !!!
Ayah… makasih sudah nemenin Bunda lembur :*
Jul 8th, 2008
bangpay
SYAMSU | anak sampeyan?
JUAN SUANDI | siapa yang motret?????
HEDI | jelang dos!
ABDEE | datanya dari malut post, gambarnya dari gorontalo post, puas???
BINI | tujuh belasan itu tanggal berapa?
Jul 8th, 2008
sluman slumun slamet
uang segitu terbuang sia-sia….

ah Indonesia-ku
Jul 8th, 2008
rerere
buset, sewa tenda aja sampe segitu…
pikada berikutnya di mana ya? biar bisa bisnis sewain tenda
rerere last post: ga usah modern aja gimana?
Jul 9th, 2008
Panda™
Buseeeetttttttttt…..
emang kaum2 birokrat itu pada dodol yahh….
kayaknya kalo beli tenda sendiri gak bakal sampe segitu deh pengeluarannya…lha ini harga sewa aja sampe segitu banyak duit yg terbuang…
bener-bener mubadzirrrrr……
Jul 9th, 2008
bangpay
SLAMET | indonesia kita…
RERERE | begitulah!
PANDA | liat sisi terangnya donk… politik bisa juga menguntungkan (salah satu) rakyat…
Jul 9th, 2008
ranny
pay kapan ke manado???eh pindah juga ke manado ta?hayahhh
tenda tenda hihihihih
ranny last post: Candu itu bernama BUKU
Jul 11th, 2008
babal
dah dihimbau buat npwp-nya lom mas???
Jul 16th, 2008
Reply to “Ketika Tenda Pun Kontekstual”