Gusti, Ajari Kami Memanusiakan Manusia
Di umur bumi yang sudah begitu tua, sangat tua sehingga panasnya pas sampai-sampai makhluk hidup bisa melata di atasnya. Dalam panjangnya sejarah manusia sejak turunnya Nabi Adam sampai sekarang. Kenapa saya merasa kita para manusia ini malah semakin ndak kenal dengan diri kita (sesama manusia)?

Status, kekayaan, intelektualitas bahkan merek celana dalam bisa membuat manusia lupa diri dan gede sirah menganggap dirinya jauh melebihi manusia lain.
Entah bagaimana pandangan manusia begitu ketika memandang kedudukan nyamuk dalam tata kosmik kehidupan ini. Padahal jelas kita ini belum mampu mengungkap segala rahasia dalam seekor binatang bernama nyamuk, apalagi menciptakan yang serupa.
Saya masih sendika dawuh kalo ada yang bilang “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”. Karena kesejatian bukan mengembara ke luar mencari kebenaran, namun menggali ke dalam. Celakalah saya kalo ndak mau belajar mengenal wujud saya sebagai manusia.
Di dunia yang serba konotatif dimana segala sesuatu tidak dimaknai sebagaimana ia yang sebenarnya. Maka kata sukses dan kesuksesan pun ikut bermutasi. Suksesnya manusia kini bukan tentang bagaimana ia menjadi figur ayah yang bijaksana dalam seribu kacamata dan sejuta pertimbangan, tapi bagaimana seorang ayah mencukupi segala kebutuhan keluarganya. Suksesnya seorang pemimpin kini diukur dengan sejauh mana ia mampu meningkatkan pendapatan per kapita, bukan soal bagaimana ia berlaku adil dan amin lagi terpercaya serta mampu menjaga harga diri dan nama baik bangsa di mata internasional.
Lalu dimana posisi Tuhan di dunia moderen?
Jika saya naik bus dalam kota, maka niscaya saya lebih memilih untuk menyumbat telinga saya dengan MP3 player daripada mengajak penumpang lain di sebelah saya untuk ngobrol. Ya dunia penuh syak wasangka memang menyebabkan kita untuk lebih banyak tenggelam dalam usaha menjaga keamanan pribadi. Karena konon di angkutan umum kalo ada yang mengajak ngobrol biasanya justru penjahat, tukang racun, tukang hipnotis. Makanya saya lebih milih diam daripada diteriaki sebagai penjahat.
Manusia makin tak kenal dengan manusia dan kemanusiaan. Tanyakan saja sama anak SD apa yang namanya kemanusiaan? Jangan kaget kalo jawabannya adalah : “Kalo ada pengemis ya kita harus nyumbangin sedikit uang jajan…”. Ah makin susah saja cuek dengan yang namanya uang. Asu!
Kecendekiaan juga begitu. Tolak ukurnya adalah bagaimana kepintaran seseorang menghasilkan uang, baik buat dirinya sendiri, keluarganya, orang banyak atau negara. (baca puisi ini, jangan tertawa, itu kita)
Konon kejernihan hati justru ada pada kesederhanaan, baik kesederhanaan dalam pola pikir, tutur kata maupun tingkah laku. Karena itulah saya ingin menjadi bagian dari mereka yang banyak, bagian dari mereka yang ingin rame-rame diberantas. Kaum marjinal, kere, wong cilik, proletar, pinggiran atau apapun sebutan yang intinya sama itu.
Menjadi bagian dari mereka itu beda dari menjadi mereka. Menjadi bagian dari mereka adalah lebih kepada belajar memandang kehidupan a la survival. Mengerti isi hati mereka. Untuk lalu mencari solusi terbaik. Mungkin bukan untuk mencoba mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan. Sekedar membuat tersenyum pun (semoga) sudah menjadi ibadah. Kalo memang mentok, minimal saya tahu apa yang tak boleh saya lakukan yang bisa membuat mereka marah dan bersedih. Karena konon orang miskin tak memiliki apapun kecuali Tuhan.
Gusti, saat kata gusur berkonotasi menjadi kata penertiban. Ketika kata arogan menjadi “tegas membela kebenaran versi pribadi”. Ketika kata hak berubah wujud menjadi “kewenangan untuk tidak menghormati sedikitpun hak makhluk lain untuk sekedar numpang hidup”. Ketika anarkisme disulap menjadi “tindakan yang dianggap perlu demi tercapainya tujuan mulia, demi rakyat”. Saat caci maki jadi halal karena telah menjelma menjadi “pendongkel ketulian yang menahun”.
Saat itu semua terjadi —mungkin sudah— tolong lembutkan hati hamba, tajamkan penglihatan mata dan hati hamba, perjelas pendengaran hamba, permudah langkah hamba, perpanjang uluran tangan hamba, permurah air mata hamba sehingga tak malu untuk menangisi sesuatu yang memang pantas untuk ditangisi.
Dan bagi manusia-manusia yang terpinggirkan di dunia materialis hedonis seperti saat ini, tolong beri mereka sebanyak-banyak kesabaran, tundukkan hati mereka dalam ketabahan, lembutkan urat nadi mereka, perlambat aliran darah emosi mereka. Beri mereka kesabaran, ketabahan, kelembutan namun jangan beri mereka kekuatan. Karena bisa saja jika kekuatan yang Engkau beri maka banjir darah sesama manusia akan terjadi, Gusti. Dan (memang) sudah sering terjadi. Entah bagaimana masa depan dunia nanti.
Karena manusia yang terpinggirkan itu jumlahnya,
………..sangat banyak!
Tulisan ini ditulis dengan penuh amarah dan duka yang teramat dalam setelah mengalami sendiri makan malam di gerobak pinggir jalan yang lalu gerobak tersebut diusir (hampir ditabrak dengan mobil) tanpa ba-bi-bu oleh si empunya lahan. Cerita lengkapnya mengenai kejadian itu ditulis bini saya di sini. Tai Kucing!
Tags: hedonisme, kekayaan, kemiskinan, kuliner, materialistis, moderen, Sosial, status, tai kucing





20 Comments, Comment or Ping
jane
Aku dah baca itu postingannya mba tika… hadduuh.. emang yah jaman sekarang… pangkat boleh tinggi, baju boleh bermerek, umur boleh lebih tua.. tapi otaknya gak tau ada dimana.. moralnya juga udah gak tau terbang kemana.. beraninya cuma sama orang kecil doank… kasian banget tuh bapak penjualnya…
Jul 18th, 2008
Adis
Bangpay merek celana dalamnya apa? *OOT*
Jul 19th, 2008
bangpay
JANE | sedih tho?

ADIS | macem2… dua puluh ribu dapat 5 ?
Jul 19th, 2008
alfredo endrian sudiro
lagi-lagi sisi buruk penduduk ternate ya bang..
ngga jauh dari tempat lu makan, gw n fahmi juga jadi korban tabrak lari. untunglah bangpay bentar lagi pergi. nah gw kayanyanya masi lama nih dimari.
btw, makan cumi mahal di swering yu bang. di manado ga ada kan? apalagi gorontalo. cumi disana murah kan?
Jul 19th, 2008
ma6ma
bang, sekarang tuhan telah menjelma dalam bentuk uang kekuasaan.
tak ada lagi yang namanya hati nurani… .
ma6ma last post: SLANK – THE BIG HIP
Jul 19th, 2008
jane
bang pay… sayah punya pe er tuw buat anda… dikerjakan yaahh..
*tuntutan pe er dari orang juga nih.. deeuhh..
*
Jul 19th, 2008
heddy
aduh jadi inget paklek nasi goreng langganan waktu masih kuliah and ngekos..hikz..paklekkk….
Jul 19th, 2008
mahadewa
komentar yang lain.
saatnya kita memendam amarah dan menyisihkan sebagian rejeki kita buat membantu mereka. Lha kalau kita ini hobinya sekedar marah saja, kan yo ndak bakalan membantu si penjual kan?
dimulai dari satu orang dulu, sampai sukses, karena kebanyakan kita membantu orang itu ndak fokus. semua dikasih, meski sedikit. lha kalau menurut saya si, yang lain dibantu seadanya, yang berpotensi didukung penuh. biar kalau nanti sukses, bisa membantu yang lain juga…
komentar yang sama di blog-nya bunda ya…
mahadewa last post: Biro jodoh paling top markotop!
Jul 20th, 2008
sluman slumun slamet
turut berduka cita atas pudarnya rasa kemanusiaan…


na pindah… mumpung durung perang sodara (lagi)!
Jul 21st, 2008
emfajar
kadangkala hati nurani hilang seiring timbulnya kekuasaan
Jul 21st, 2008
pudakonline
soal Tuhan, kata seorang teman saya sedikit agnostic tapi belum berlebihan, hehehehe…
mungkin agama dan Tuhan, tidak perlu diperjuangkan, yang perlu diperjuangkan adalah orang-orang yang mengaku beragama itu.
Inilah potret negeri ini, dimana intelektualitas, dimana ajaran religius seolah semua hanya ada dalam buku pelajaran, tapi sialnya kita dianggap lulus dengan nilai hebat, sementara content kereligiusan dan pendidikan sebenarnya bukan berada disitu.
Jul 21st, 2008
abdee
Sabar mas… sabar.
Sampe pisuhane keluar je.
abdee last post: Balada PNS Perempuan
Jul 22nd, 2008
merahitam
Aku sudah baca postingannya Jeng Tika. Duh, makin hari makin banyak orang yang suka semena-mena sama orang lain ya bang. Postinganku yang waktu itu sebenarnya pengen nyindir aja, kalau kita sudah mulai diperbudak dengan uang dan keegoisan masing-masing
Btw, pakabar bang? Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Doakan Agustus nanti acaraku lancar ya bang
Jul 23rd, 2008
chigi28
tapi kalo mo hidup sederhana itu menurut dakuw hidupnya ngga bakal nyaman , ngga bisa belanja tiap hari, ngga bisa ol tiap hari dll
chigi28 last post: Kebacut
Jul 25th, 2008
Ray Rizaldy
grrrrr…. kayak tanahnya punya dy aja, cuma dititipin sama Yang di atas aja belagu.
trus si abangnya sekarang jualannnya gimana?
Ray Rizaldy last post: Turut Berduka Cita …
Jul 25th, 2008
sKyR!d3R
..bangPay. Kalo perhatikan di Bandara Sam Ratulangi, ada tulisan besar di atas terminalnya “Si Tou Timou Tumou Tou”. Slogan pak Ratulangi, yang artinya kira2 sama dengan harapan bangPay “Manusia hidup untuk menghidupi/memanusiakan orang lain”.
Sayang ya…. semuanya telah terkikis karena hedonisme belaka..
sKyR!d3R last post: Hati-Hati Jalan Licin/Berpasir
Jul 26th, 2008
milvan
bang keren ya situsnya, kira2 bagaimana cara membuatnya. Saya jadi tertarik…
Jul 31st, 2008
milvan
Memanusiakan manusia lainnya, betapa indahnya hidup jika kita semua meresapi kata-kata itu
milvan last post: KEKUATAN SYAIR
Aug 1st, 2008
agung
yang kaya mengendalikan yang berkuasa. tadinya saya pikir klo dah punya tahta bisa mendapat harta dan wanita. Ternyata di dunia nyata, punya harta dulu baru dapat tahta dan wanita…
untungnya umur ada batasnya, smoga generasi mendatang lebih baik
Aug 4th, 2008
Reply to “Gusti, Ajari Kami Memanusiakan Manusia”