Wahyu Cakraningrat
Jaman kecil dulu (almarhum, amin!) Simbah saya suka bercerita soal wayang. Lamat-lamat masih ada yang saya ingat juga. Salah satunya soal Wahyu Cakraningrat. Tentang bagaimana wahyu itu betapa sulit didapat namun lebih sulit lagi untuk mempertahankannya.

Saat Lesmana Mandrakumara dengan sukses dapat kesempatan untuk men-download wahyu cakraningrat, eh ketika digoda dengan kecantikan perawan yang entah darimana, ia kepincut dan lupa dengan kewajibannya nglakoni empat puluh hari lagi. Begitu pula dengan Samba yang lagi-lagi gagal dengan godaan yang sama.
Alkisah, Raden Angkawijaya lah yang berhasil mengunduh wahyu berkat keteguhan hati dan niatnya. Bahkan ketika didatangi prawan gaib ia dengan tegas menghunus kerisnya.
Mungkin maksud Mbah saya cerita soal Wahyu Cakraningrat itu agar saya mempunyai hati yang kuat dan niat yang teguh agar di masa depan saya bisa sukses, terserah apa definisi sukses bagi anda.
Makin hari saya (mungkin) makin paham makna cerita tersebut, minimal dengan pemahaman saya secara empiris. Bahwa tapa brata atau nglakoni itu bisa saja berarti kerja keras, doa maupun ikhtiar tan kena kendat tanpa putus. Bahwa wahyu itu bisa saja soal ilmu, penghasilan, rejeki nomplok, menikah, kekuasaan, maupun kedudukan.
Ya, saya memang tidak seperti Raden Angkawijaya yang teguh puguh hora mingkuh, kukuh pendiriannya dan tidak miyar miyur. Kalo Simbah saya melihat jadinya saya sekarang semoga beliau bakal cekikikan saja. Saya tak pernah mendapat disiplin besi, tidak pernah dipaksa menjadi apapun.

Dari kecil saya seperti ayam yang tiap pagi diumbar agar bebas keluyuran. Makanan disediakan. Dan sepanjang siang saya bebas berkelana mengelilingi lingkungan mencari apapun yang saya mau. Dan di sore hari kembali saya harus di kandang. Lha kok sekarang jadinya lumayan juga. Alhamdulillah.
Saya jadi mikir, nglangut bahkan cenderung tenger-tenger memikirkan tentang bagaimana nanti anak saya si Lanang jadinya. Bagaimana nanti saya akan mendidiknya. Mengajarinya banyak hal. Membimbingnya. Ah akankah saya akan malah lupa daratan dan menerapkan disiplin besi kepadanya? Atau manut miturut Khalil Jibran dengan menganggap saya hanyalah busur sedang Lanang adalah anak panah?
Dan jalan membesarkan Lanang terasa begitu panjang di hadapan saya.
Bicara soal wahyu, ribuan orang saat ini tengah sibuk mengejar-ngejarnya. Bajunya warna-warni. Mulutnya sama-sama berbusa. Foto besar dan kecil terpampang dimana-mana. Tidak soal apakah mereka benar-benar pantas mengejar wahyu atau apakah nanti kalo sudah ketiban wahyu mereka bisa menjaganya. Pokoknya kejar saja, lha wong bukankah kita kini dididik untuk lebih bersifat oportunis?
Dan wahyu tersebut sangatlah berat adanya, karena konon Vox Populi Vox Dei! Suara rakyat suara Tuhan….
KETERANGAN GAMBAR :
bawah : Calvin and Hobbes karya Bill Watterson.
atas : Lanang, anak saya, diedit dengan PhotoFiltre.





16 Comments, Comment or Ping
Aulia
Bisa ja Parta Kambing Guling (enak dong di makan), kalau saya dulu dapat tugas web malah dikasih judul Parta Kambing Hitam (PKH 234).
Nov 21st, 2008
TENGKU PUTEH
To be or not to be bang, kata Sastrawan pecandu canabis dari English…
Jika busur kuat, muda2an anak panahnya mantap… hehehe…
TENGKU PUTEH last post: SELAMAT JALAN GURU
Nov 21st, 2008
genthokelir
hahaha sip sip sentilan sekaligus nasihat juga yang di selipkan hahaha
salam untuk anak lanang mudah mudahan nggon saya juga metu lanang hahahaha
sehat semua dan salam sukses selalu
genthokelir last post: Buah Manis Persaudaraan
Nov 21st, 2008
syamsu
haha sekarang udah beda mas, Suara Rakyat Suara Duit
Nov 21st, 2008
welly
ada pesan2 tersurat yang disisipkan dalam postingan kali ini yah mas…?
welly last post: terowongan yang aneh
Nov 21st, 2008
satrio
sentil sana sentil sini.
sini sini ta’ sentil..
btw, aku rep ujian tgl 25-26 Nov, mohon didoakan agar ujiannya dapat dikerjakan dgn baik dan dapat nilai yg optimal.
Nov 21st, 2008
Hedi
lanang sik bayi, kang…ojo dipakani daging kambing, gurung kuat utek e
Hedi last post: Belum Berubah
Nov 21st, 2008
namada
kreatif..dari berbicara soal wayang, bisa sampai filosofi kehidupan sehari2, bahkan nyerempet politik..
sip dah
namada last post: Menunggu
Nov 22nd, 2008
abdee
wahyu cakraningrat versi Ki Hadi Sugito bikin saya terpingkal pingkal meski dengar berkali kali…
kalo bangpay mau mp3nya bisa ambil di javawayang.com.
btw, menurut orang jawa…. “hidup itu kan laku”… hidup itu proses…
jadi mari kita lihat bersama bagaimana Lanang berproses…
abdee last post: Balada KTP Tembak Buat Naik Haji
Nov 22nd, 2008
bocahcilik
hemm…
let it flow kang…
bocahcilik last post: an ending without any beginning
Nov 24th, 2008
Masenchipz
ooo.. tapabrata ntuh maksudnya kerja keras ya… gw kira males2an… he..he..
Nov 25th, 2008
Kyai slamet
Suara rakyat bisa dibeli berarti suara tuhan juga bisa! Dasar tuhan matre!
Nov 26th, 2008
skah
hhmm..hmmm.. mas.. kok jero banget to yo.. aku dadi mikir…bener2 siapkah aku nek diparingi anak? atau Ingkang Nduwe Karsa isih merasa aku sih koyo cah cilik sing urung iso dipercaya… huhuh…
Dec 3rd, 2008
fadly
menurut saya wahyu cakraningrat itu sudah ada, tinggal kita “ngunduh” atau menjemput (mungkin seperti pengertian rejeki). Proses menjemput atau “ngunduh” mungkin yg lebih penting adalah waktunya yg berkaitan dengan maksud dan tujuan/ niat….
Dec 4th, 2008
Kang Nur
wah, saya malah kasihan sama Lanang kalo dipasang dgn poster kayak gitu.

Soalnya, ya itu, .. poster2 semacam itu ‘kan identik dgn orang2 yg tidak tahu diri ?
kita tidak tahu dia/mereka itu sudah berbuat apa, berjuang apa, membela apa; tahu2 mengotori jalan2 dg poto2nya.
Kasihan Lanang kalo disejajarkan dg mereka.
Kang Nur last post: Psikoanalisa Politik Publik: Empat Model Adaptasi Mental Keturunan Anak Bangsa Terjajah
Dec 4th, 2008
Reply to “Wahyu Cakraningrat”