Ketika Denmas Singo Gimbal Makan Nasi
Kadung janji nulis sambungan kisah saya dan Denmas Bule Singo Gimbal, kali ini saya tulis kelanjutannya. Setengah perjalanan menuju Gorontalo telah terlampaui, tiba saatnya untuk pipis, sejenak istirahat dan mengisi perut. Seperti biasa mobil travel berhenti di rumah makan di daerah Bintauna, rumah makan sederhana namun cukup layak untuk sekedar mengisi perut.

Saya dan Denmas Singo Gimbal masih terlibat obrolan seru. Kala itu kami tengah mengobrol soal kondisi keamanan di Indonesia karena sebagaimana kita tahu imej Indonesia (terutama) di mata pers internasional sangatlah buruk adanya. Akan halnya yang membuat Denmas Singo Gimbal mbahas soal itu ya lantaran sepanjang perjalanan kami yang 4 jam sebelumnya, beberapa kali mobil kami dicegat oleh polisi (yang bukan polisi lalu lintas).
“Its just routine… Nothing’s special..” jawab saya dengan malas-malasan karena memang malas membahas hal itu. Malu. Razia yang ndak jelas.
Nah tibalah saatnya kami makan. Rumah Makan yang diberi nama sesuai pemiliknya “Gusnar” ini merupakan rumah makan yang prasmanan dimana para pengunjung bisa mengambil makanan sesuai maunya baik dari menu maupun takarannya.
Denmas Singo pun ikut mengambil sepiring nasi dengan penuh gusto. Tak nampak ada rasa canggung di wajahnya, pertanda ia telah berjumpa dengan nasi sebelumnya. Bule makan nasi.. hmmm… bayangan saya melayang kembali ke jaman saya SD, kira-kira kelas 5. Ada seorang guru, bernama Sukamdi yang selalu mengajarkan kami agar selalu hidup dengan penuh kebanggaan. Bangga sebagai orang Indonesia, tepatnya.
Menurut beliau, kita bisa dijajah sekian lama sama Londho (baik londho belanda, londho nginggeris maupun londho jepang) itu lantaran kita bangsa indonesia minder dengan bule dan orang asing. Bangsa kita bangsa gumunan, katanya. Sedikit-sedikit heran dan ujung-ujungnya minder.
Kata beliau juga, ini disebabkan oleh kesalahan para orang tua dahulu dalam mendidik anaknya. Dan mungkin bahkan sampai saat ini. Untuk memupuk kepercayaan diri anak-anaknya, para orang tua sering memberi dorongan dengan tipikal seperti:
“Nak… jangan takut.. wong yang kamu hadapi sama-sama menungso, sama-sama manusia! Kenapa takut dan minder? Sama-sama makan nasi dan (maaf) eek taik lho…”
Mungkin saja wejangan semacam itu berhasil. Dan bisa saja dari wejangan semacam itu muncul para pemuda pemimpin atau pendiri kerajaan di nusantara ini. Nah yang bikin bangsa kita melempem pas ketemu londho ya lantaran wejangan tersebut di atas jadi gugur dan batal demi hukum. Mungkin nenek moyang kita ngungun dan heran mendapati para bule tersebut tidak makan nasi (meski eek-nya ya sama-sama baunya). Minder, lalu takut.
Tiga ratus lima puluh tahun kemudian, muncullah londho jepun datang ke negeri kita. Orang-orang tua kita dulu sempet ketipu menganggap jepang akan membebaskan Indonesia dari penjajahan. Anggapan demikian mungkin lantaran orang jepang itu sama dengan kita, makan nasi. Kecele, Jepang bahkan satus sewidak rolas persen (ada angka begitu?) lebih kejem dari penjajah sebelumnya.
Sejarah a la Pak Sukamdi ini bener-bener nancep di otak saya. Entah bener entah tidak.

Kembali ke Denmas Singo Gimbal, dia mengambil sup (yang dibanding dengan sup di negara lain sup ini lebih banyak barang-barang padatnya), lalu dengan semangat membara mengambil sedemikian banyak porsi tumis kangkung.
Melihat bule makan kangkung sih saya sudah pernah, ning kalo yang ngemel alias kemaruk makan kangkung? Baru kali ini.
Setelah itu Bule Gila ini dihadapkan dengan 3 buah jenis masakan yang berbahan dasar daging ayam. Ada ayam kecap pedas, ayam goreng rica yang juga pedas, serta ayam goreng biasa.
“Wait, by the way, which one of these chicken that’s not spicy??” tanyanya, ya, lidah kami memang mati rasa. Makanan yang kami sebut pedas tentu sudah membuat lidah para bule terbakar dan dehidrasi tingkat tinggi.
Setelah menyelesaikan pembayaran, yang saya amati bahwa si Bule dikenakan harga yang wajar membuat saya tersenyum.
Saya dan Denmas makan satu meja saling berhadap-hadapan. Jika di antara kami ada lilin tentu akan ada yang mengira bahwa kami berdua adalah pasangan gay lintas budaya dan suku! Oh no! Kami ngobrol kesana kemari, ngetan ngulon ngalor trus mbalik ngidul, nemu prapatan belok ngiwo….
Seusai makan, akhirnya saya berani nanya soal ngemel dan kemaruknya Denmas Singo Gimbal makan nasi, kangkung dan sebaginya tadi.
“Its a good way to eat!” jawabnya singkat. Ingat cerita bini soal episode Oprah yang ditontonnya bahwa sebenarnya pola makan orang asia (tenggara) itu pola makan paling seimbang dan sehat (dengan syarat dan ketentuan yang berlaku –tentunya).
Saya makin nyaman untuk cerita banyak soal negara saya pada Simon si Singo Gimbal ini. Terlintas di kepala bayangan wajah Pak Sukamdi:
“Kowe jadi tambah ora minder sama bule lantaran dia makan nasi tho, le??”
Blaik! Gawat!
KETERANGAN GAMBAR:
- atas: diambil dari sini.
- bawah : diambil dari sini.
NB: Perjalanan menuju Gorontalo masih sekitar 3 jam lagi, masih ada cerita, haruskah di sambung? Kok jadi panjang ya???
Tags: gorontalo, kuliner, manado, pariwisata, sulawesi, sulawesi utara, sulut, visit indonesia 2008




32 Comments, Comment or Ping
abdee
ngguyu disik….
hahahahahaha
Nov 22nd, 2008
abdee
Saya jadi inget dengan Dosen Tamu asal Australia di kampus dulu…
dia nggak mau disebut Bule…. karena menurut dia bule adalah penyakit/kelainan.
Dia lebih suka dipanggil Londo Australi.
abdee last post: Balada KTP Tembak Buat Naik Haji
Nov 22nd, 2008
abdee
Sekalian Hetriick !!!
abdee last post: Balada KTP Tembak Buat Naik Haji
Nov 22nd, 2008
syamsu
londo..londo… hehehe ditunggu sambungannya bang
Nov 22nd, 2008
namada
haha..
bener2 enak dibaca tulisannya yang ini
ada lanjutannya gk bang?
namada last post: Menunggu
Nov 23rd, 2008
satrio
oohh.. jadi gitu kelakuannya si singo gimbal..
eh, aku rep ujian kiy. njaluk doane, kang! ben ujianku lancar njuk hasile apik.
Nov 23rd, 2008
endar
masih berlanjut? saya nunggu adegan klimaks-nya.. he.. he..
endar last post: Mengumpulkan PR
Nov 23rd, 2008
Hedi
dilanjut wae kang…aku nunggu lanjutannya ya
Hedi last post: Muktamar, Pesta and Wetiga
Nov 23rd, 2008
Somet
hahahaha…., hmmmm….., gawe kenchot temen yha gambare……
Priwe kabare Kang? Keluarga sehat?
Nov 23rd, 2008
elmo
hehe.. dulu elmo juga masih sering liat bule makan nasi goreng kok.. walo ada juga yang nggak..
Nov 24th, 2008
adipati kademangan
lek jare guruku, Indonesia iki sakjane yo londo, nanging Londo Gosong.
“seluruh kelas ngakak sejadi-jadinya”
Nov 24th, 2008
senny
and the story goes….
senny last post: The Always There Feeling
Nov 24th, 2008
mpokb
si denmas singo gimbal apa tahu, makan nasi kalo kebanyakan suka bikin ngantuk?
jadi inget, dulu aye pernah ketemu oom londo, makan nasi pake gula pasir.. 
Nov 24th, 2008
lala
wah.. Tampaknya enak, dan si bule hrs diajak makan bakso!
Nov 24th, 2008
TENGKU PUTEH
Karena makanan Indonesia murah dimata bule bang, makanya dia semangat. Soalnya Rupiah kita melemah terus… Hiks…Hiks…Hiks…
Nov 24th, 2008
miTadRiani
AAhhhhh jadi lapeeerrr….
Nov 24th, 2008
omiyan
yang jelas otong jadi laper…..ketemu lagi nih ma bangpay…apa khabar bang
omiyan last post: Dudul Dasar Jadul (AWARD Euy)
Nov 25th, 2008
easy
aku jadi keinget nemenin bule makan pecel lele lengkap dgn nasi sepiring..
ya ampun…. nunggu dia ngabisin nasi sepiring aja bisa 2 jam !
easy last post: Nama Menunjukkan Jenis Kelamin ?
Nov 25th, 2008
hasan
lanjut…
mas, cerita ga si bule ttng pengalaman awalnya makan dabu-dabu? sy aja yg biasa makan sambel dijawa, langsung “lancer & panas” setelah menikati sedapnya dabu-dabu manado. he..he..
btw, kata ‘bule’ dari bhasa apa sebenarnya?
Nov 25th, 2008
utchanovsky
Mantabfh juga tu juragan, doyan makan kangkung. Udah diterangin efek sampingnya yg bisa bikin ngantuk ke bule ntu bang?
utchanovsky last post: Paradoks, terkadang hampir gak kerasa
Nov 25th, 2008
ebeSS
fotonya itu . . . sangat tidak sopan . . . bikin perutku kukuruyuuuuuuk

aku yang makan rutin . . . apalagi mereka yang kekurangan ya . .
ebeSS last post: Ngayogjakarta, Genk Kobra
Nov 25th, 2008
pudakonline
Yang menjadikan heran, kenapa para orang tua kita menjadi bangga jika anaknya bisa kerja sama bule. Padahal kita tidak pernah berdiri sama tinggi duduk sama rendah sama mereka alias kita masih menjadi bawahan mereka, padahal,kekayaan negeri ini yg dikuras tak karuan jumlahnya.
wis…embuh, enaknya gimana saya juga ndak tahu jawabannya, manut sampean wae!
pudakonline last post: Divide Et Impera
Nov 25th, 2008
pranajayas
betul tuh kebanyakan makan kangkung bisa ngantuk abis heheheheheh
pranajayas last post: Bersih Bersih konten
Nov 25th, 2008
Gelandangan
wahhh porsinya gede juga yah
Nov 25th, 2008
yu2n
ke Gorontalo lagi bang pay..?
Nov 26th, 2008
sapimoto
Tuh bule udah gak makan berapa hari, kok makannya banyak banget???
Hebat nih cerita tentang bule jadi merunutnya ke sejarah.
Eh, aku kok durung tau krungu ukoro satus sewidak rolas persen, wis nganggo sewidak kok tambah rolas nganggo persen pisan, wis mboh wis, sak karepmu…
sapimoto last post: Jangan Takut Jadi Pemula
Nov 26th, 2008
ALex
sambung trus bangpay, sy nyimaknya trus..hehe
kayaknya si denmas singo gimbal udah pengalaman makan nasi yah….???
ALex last post: GURU DAN PERADABAN
Nov 26th, 2008
kucingkeren
what? Asian ’s food s healthy? Which one? Did he know that most of our cuisine has a lot of part of coconut? Kolesterolnya tinggi bo! Kecuali bakar ikan tuna sama sambal dabu-dabu..is fine lahh.. Kangkung juga bukannya sumber asam urat? Hihi temen bule mu itu harus banyak belajar lagi soal makanan asia, khususnya Indonesia… salam!
kucingkeren last post: Desember dan Dubai…
Nov 26th, 2008
perempuan
klklklk… blaikk… =))
Nov 26th, 2008
Musa
Kalo orang perancis makan bisa 4 baru selesai. Dan lebih parahnya makannya bisa 3 macam menu. Dari menu pembuka, makanan inti ama makanan penutup. Itu baru makan, minum pun sama bisa lebih 2 macam minuman.
Musa last post: Ibu seorang pembohong
Nov 26th, 2008
Kyai slamet
Jadi yang jadi ”cewek”nya siapa nih? Hahahaha
Nov 26th, 2008
grubik
weh, jebul kowe muride pak kamdi to mas?
tapi bule kenalanmu pancen spesial mas, wis gimbel, maruk meneh…
grubik last post: tentang sebuah awarD
Nov 28th, 2008
Reply to “Ketika Denmas Singo Gimbal Makan Nasi”