Jelajah Tiga Propinsi (Demi Ketemu Dirjen)
“AMAZING RACE OF YOUR OWN, PAY?”
Tempat saya bekerja sekarang ini (cukup) lumayan terpencil. Tapi lagi-lagi saya beruntung. Pas saya bertugas di Luwuk, Maskapai Merpati tak lagi menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani jalur penerbangan dari dan keluar Luwuk. Kini ada Batavia Air, sodara-sodara sebangsa dan se tanah air!

Saya dan beberapa makhluk kantor yang sedianya diundang menghadiri acara penandatanganan MoU antara DJP dengan Universitas Samratulangi, Manado tentang pembentukan Tax Center di kampus tersebut pada minggu pertama di bulan februari, harus kelabakan tatkala acara tersebut diundur menjadi Jumat, 13 Februari 2008. Apa pasal?
Oke, maskapai sekarang ada dua. Dus maksimal dalam satu hari ada satu penerbangan dari dan ke luar Luwuk, tapi orang yang blebar-bleber naik pesawat kan ya ada banyak. Teori supply and demand bener membuat kami ngenes menghadapi kenyataan bahwa kami (semua) tak bisa mendapat tiket pesawat untuk menghadiri acara tersebut.
Tentu saja pembatalan pada minggu sebelumnya tak bisa kami jadikan alasan untuk ketidakhadiran kami. Mosok nyalahke kantor yang secara birokrasi lebih inggil nan tinggi? (Prekik!)
Lantas bos saya, yang imut dan berkumis lucu itu memanggil saya bersama seorang teman saya.
“Bagaimana kalau kalian berdua saja yang berangkat mewakili kantor, kalian tempuh saja jalur darat menuju Palu lalu dari sana kalian cari tiket pesawat menuju Makassar, lalu di Makassar baru cari tiket lagi ke Manado??”
Rabu yang indah bukan? Luwuk ke Palu itu, sodara-sodara, sekitar 600 kilometer jika ditempuh lewat darat. Jika jarak sampeyan dalam lompat kodok bisa satu meter, maka butuh lompatan sebanyak 600.000 kali!!! Tidak, saya tak mau melintasi hutan-hutan sulawesi lewat darat, apalagi jika harus lompat kodok! Otak saya mulai bekerja keras mengingat-ingat jadual ferry. Muncul ide yang brilian demi menuju Manado.
LUWUK > PAGIMANA (lewat darat) > GORONTALO (naik ferry) > MANADO (darat lagi).
Jika hari rabu itu ada jadual kapal. Maka matematika sederhana saya menghitung, minimal saya akan sampai di Manado pada hari kamis malam. Perfect! Dan orang seperti saya ini alhamdulillah-nya punya jaring sosial yang lumayan. Jaring sosial yang jelas bukan lewat media macam Friendster atau Facebook ini teramat sering menyelamatkan saya dalam kondisi kejepit seperti saat itu.
Saya hubungi salah satu awak Kapal Ferry Baronang yang saya kenal baik, menanyakan jadual kapal dan kemungkinan saya (dan teman saya) bisa menyewa kamar ABK untuk beristirahat. Atas nama kenyamanan dan semilir AC, mengingat hawa di ferry yang mirip dengan kompor tukang penggorengan.
Setelah semuanya oke, termasuk pekerjaan yang musti diselesaikan, saya mengantar Supervisor saya ke bandara. Beliau hendak pulang ke Surabaya, sakit yang dideritanya mengharuskan beliau pulang untuk berobat. Lagi pula sudah (cukup) lama beliau berjauhan dengan anak-bininya.
Sesampainya di bandara, rupanya beliau juga tak beruntung. tak ada seat. Dengan sedikit rasa kecewa, tapi dengan penuh semangat mudik, Bos saya itu memutuskan untuk ikut menempuh jalur yang akan saya tempuh. Sebelumnya bos saya itu membeli tiket pesawat dari Gorontalo - Surabaya secara online untuk hari kamis.
Oke, formasi sudah lengkap. Dengan menculik salah seorang supir kantor, kami menuju ke Pagimana, sebuah kecamatan di Kabupaten Banggai. Satu-satunya alasan kami mau melintasi medan yang bak sungai kering selama dua jam adalah karena di pagimana-lah pelabuhan ferry berada.
Entah kesambet setan petualang bermarga apa, Kanjeng Adipati Geomatika Van Suroboyo-Kudus PP. ini ikut mengantar kami sampai di pagimana. Sebuah keputusan yang (mungkin) agak beliau sesali kemudian saat sadar rute yang kami tempuh itu seperti perjalanan semi-offroad.

Maghrib menjelang, kami berlima sampai di Pagimana. Setelah menaruh barang-barang bawaan di salah satu kamar ABK dan shalat di atas ferry, kami turun dari kapal menuju salah satu rumah makan. menu malam itu adalah ikan bakar. Suatu kenikmatan tersendiri tiap kali menyaksikan Bos saya dan Ahli geomatika kawan saya itu makan. Muka serius, penuh cinta (akan makanan), semangat membara, dan peluh yang bercucuran sebesar biji jagung dan mengalir bak Kali Code. Duet Surabaya - Batak ini benar-benar mantap kalau makan. Mantap, lamanya…
Seusai makan, Ahli Geomatika yang saya hormati dan supir melanjutkan perjalanan (darat) kembali ke Luwuk. jam delapan malam, kapal ferry Baronang angkat sauh dan mulai berlayar menuju Gorontalo.
Kondisi panas luar biasa di dalam ferry tak kami rasakan lantaran saya berhasil mendapatkan kamar ABK yang berfasilitas AC. Oke, ini KKN yang menyenangkan, bukan? Tak terbayang kalau kami harus semalaman duduk di atas kursi fiber yang memang disediakan sebagai tempat penumpang.

Jam 7 pagi, kami tiba di Gorontalo setelah berlayar semalaman. Mobil carteran yang hendak mengantar kami menuju Manado sudah menunggu. Mumpung di Gorontalo, saya tak menyia-nyiakan kesempatan utnuk bertemu Lanang, anak saya. Setelah mampir sebentar untuk mandi, ganti baju dan kangen-kangenan dengan Lanang, kami menuju bandara Gorontalo untuk mengantar Supervisor saya. Lalu, perjalanan sekitar 530 km menuju Manado pun dimulai.
Pukul 8 malam, hari Kamis, saya dan seorang teman saya akhirnya menginjak kota manado. Selepas mendapat hotel dan mandi, kami keluar untuk makan malam, setelah itu kembali ke hotel dan tidur.
Jum’at pagi, saya sudah berada di Manado Convention Center (MCC) tempat Pak Darmin, Dirjen Pajak, Bos saya itu, akan tanda tangan MoU dengan Rektor Unsrat.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi kami berhasil melaluinya. Kepala Kantor saya (yang berkumis amboi itu) rupanya berhasil sampai di Manado tepat waktu meski harus membeli tiket pesawat dengan harga tiga kali lipat, dan membujuk penumpang lain untuk menyerahkan tiketnya.
Sebagai orang kecil, Pak Darmin tentu hebat belaka di mata saya. Untuk tanda tangan saja, ada petualangan seru di dalamnya. Petualangan saya tentu saja.
FOTO: Koleksi Pribadi.
Tags: Baronang, Darmin Nasution, Dirjen pajak, ferry, gorontalo, Lanang, luwuk, manado, pagimana




14 Comments, Comment or Ping
abdee
gak kebayang mas… kalo harus menjalani perjalanan seperti itu.
aku pasti sudah mabuk sebelum berangkat
abdee last post: Balada Coklat …eh Coklit
Feb 21st, 2009
karangsati
saya pikir anda akan lompat kodok 600.000 kali bangpay hehehe…
untunglah …
~ nice trip ~
karangsati last post: JAM SAKIT (JIWA) ORANG JAKARTA
Feb 21st, 2009
wku
saya sekali pernah jalan darat lewat palu… emang kayak horse riding yak?
wku last post: ‘Menye-menye’
Feb 21st, 2009
tante siskah
selamat yah mas.. sak ora2ne dari perjalanan panjang itu panjenengan bisa ketemu lanang… nikmat bukan memeluk putra???? pasti ga kerasa lagi capeknya… ya to ya tooo…
*sok teuuu aku.. jian…*
tante siskah last post: cold feet and a warm heart
Feb 21st, 2009
hedi
kata kawan saya, kalo mau tahu soal situasi indonesia sebenernya datanglah ke Indonesia Timur, posting sampeyan ngasih gambaran itu
hedi last post: Logo
Feb 21st, 2009
zenteguh
edan, jauh banget mass..
zenteguh last post: Lucky is Important
Feb 22nd, 2009
mervandi
perjalanan yang seru, walau cuman bisa ngikut ke pagimana..
seru banget, karena abis itu pinggang jadi sakit dua hari..
tambah ngantuk di jalan plus pusing2 dikit waktu diatas feri..
salut buat teman2 deh.. perjalanan kayak gitu.. demi ketemu Bos Besar….
pertanyaannya: anda mau..?
mervandi last post: Sunset Policy
Feb 23rd, 2009
TENGKU PUTEH
Berkeliling Indonesia lagi bang…
Menjelajah terus…
TENGKU PUTEH last post: TIDAK SEDANG MENCARI CINTA
Feb 23rd, 2009
NANGKRING
klo saya pasti tetep pada prinsip saya.. ABS (Asal Bukan Saya).. hihihi
gila cuy…jauh amiiiirr.. cuman mo ketemu kepala suku!! not worthed..really
Feb 24th, 2009
kyai slamet
hahahahahaa…. lewat gorontalo biar bisa menyelam sambil ngelihat ikan

Mar 8th, 2009
cb100
wow.. petugas pajak memang harus siap ngiteri indonesia
cb100 last post: Indosat 3,5G Broadband makin lemot
Mar 9th, 2009
bangsari
sampeyan juga hebat, bisa numpak pesawat koh…
bangsari last post: Pajak dan ruang publik
Mar 12th, 2009
Reply to “Jelajah Tiga Propinsi (Demi Ketemu Dirjen)”