bangpay.org

Avatar

Grundelan, ngunandika, ngomyang dan ngromed di kala senggang. Sekedar mampir ngombe di jagad maya.

Dagelan Pabrik Skeptisme

Pemilu sebentar lagi. Se-antero Indonesia bingung. Tapi bingungnya macam-macam. Tergantung kedudukan, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kepentingan pribadinya soal pemilihan umum. Otomatis respon masyarakat jadi macem-macem.

kampanye

Buat yang serius menthelengi pulitik bak gebetan baru, maka lahirlah ini. Buat yang ingin tertawa dan mentertawakan aksi para calon wakil rakyat, dibuatlah ini. Macem-macem.

Tapi berhubung saya ngendon di pelosok Indonesia yang jelas jarang sekali dibahas, maka tulisan kali ini hanya akan bersifat lokal saja.

“The less you know, the more you believe” — Bono.

Mangkel, asyik, akrab, itulah yang saya rasakan selama berada di Luwuk dan mengobrol soal pilihan dan pandangan politik para penduduknya. Mangkel, karena seringnya obrolan itu hanya berujung kepada hal klenik dan nostalgia masa lalu.

Soal kesalahan terbesar bangsa ini adalah karena telah memilih SBY sebagai presiden republik ini pada pemilu sebelumnya. Alam murka dan menunjukkan kuasanya. Mulai dari tsunami Aceh, bencana kelaparan di papua, lumpur Lapindo yang sampai sekarang malah mulai dilupakan media dan yang paling gres ya soal Situ Gintung.

Lebih nelangsa lagi tatkala muncul semacam kawicaksanan entah bagaimana yang dengan begitu gampang menyimpulkan bahwa kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan jaman Orde Baru. Tak heran ada Caleg yang tanpa malu-malu (baik kucing maupun anjing) memajang foto dirinya sedang duduk di samping mantan presiden Suharto, atau lebih keren lagi, bersalaman.

“Waktu Pak Harto menjabat, Situ Gintung baik-baik saja kan?” ucap salah seorang kader partai di sebuah warung tatkala saya bersantap malam.

Belum lagi soal isu penting macam BBM ataupun BLT.  Berebut siapa yang paling berjasa bagi rakyat. Jika elit politik di puser-nya Indonesia saja sedemikian lucunya, apa kabar elit politik lokal?

Dalam menggalang dukungan, para Caleg memang melakukan banyak cara, hampir segala cara. Mulai dari poster-poster narsis bertebaran bak pohon tumbuh di mana-mana, kalender, kaus, jaket untuk Tukang Ojek, stiker di mobil bahkan wallpaper dinding-dinding tak bertuan.

Ketika tiba saatnya harus mengutarakan visi dan misi politiknya, inilah saat yang mendebarkan. baik buat si Caleg maupun buat para pendengarnya. Jangankan orasi langsung, wong kadang visi, misi dan tag line kampanye mereka dalam poster dan stiker saja ambigu dan belepotan lho.

Mulai dari sekedar memakai boso walikan alias bahasa kebalikan “membangun SULUT dengan TULUS”, sampai cari aman dari tanggung jawab bahkan cenderung memerintah: “Bangunlah persatuan dan kesatuan demi kesejahteraan kita”.

Beberapa kali saya juga terlibat perbincangan dengan para Caleg yang entah bagaimana ceritanya bisa katut jadi Caleg. Berbusa-busa mereka bicara, ada yang micara tapi adapula yang sama sekali tidak komunikatif namun sok pinter pada saat yang sama.

“Jadi, mas… misi saya adalah memperjuangkan APBD yang adil dan membela rakyat kecil!” sumbar si Caleg.
“Lha memang APBD kabupaten ini tahun lalu berapa, Pak?” tanya saya memancing perkelahian.
“Wah tahun lalu kan saya belum jadi apa-apa, mas… wajar donk ndak tahu…”

Bahkan ada Caleg dari partai yang iklan di televisi yang sering diplesetin menjadi: “Geli, Ndra… Geli, Ndra…” itu mau ikut-ikutan dengan kandidat calon Presiden dari partai tersebut dengan membawa isu-isu penerimaan daerah termasuk pajak. Dengan jumawa ia pidato di depan seluruh pengunjung warung makan ikan bakar bahwa selama ini pemerintah pusat sudah sedemikian keterlaluannya dalam mengeruk bumi daerah ini. Bahwa sumber daya alam yang begitu melimpah ini habis digunakan justru untuk membangun Jawa. Bahwa pajak yang diperas dari penduduk lokal malah dinikmati oleh orang-orang kota besar.

Hampir saja saya keselek alias tersedak teh botol mendengarnya. Namun kali ini saya tak mau angkat bicara. Dasar sial, tetap saja saya kejatuhan sampur untuk ikut jual kecap. Nafsu makan sirna sudah. Sang caleg dengan tatapan penuh percaya diri berkata:

“Kebetulan saat ini ada orang pajak di sini, silakan bicara, mas… Apakah yang saya bilang soal pajak tadi itu ada yang kurang betul? Ndak usah takut, bicara saja, mas…”

Hati saya ndredeg, bukan apa-apa, saya bener-bener tak ingin menjatuhkan wibawa sang caleg di depan orang-orang, apalagi hendak menonjolkan ilmu dan wawasan dengan beliau. tapi toh saya harus bicara. Saya katakan dengan angka-angka bahwa penerimaan pajak daerah ini sangat kecil bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan dana APBN/ APBD-nya.

Kalimat saya tentu saja disambut dengan tepuk tangan dan merah padam muka sang caleg. Sungguh, saya tak bermaksud demikian…

Lain lagi cerita tatkala ada partai bergambar banteng dan berwarna dominan merah (banyak ya?) berkampanye, ada Caleg yang berteriak lantang di tengah orasinya: “Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!”, lalu ada orang nyeletuk: “Emang partai ini kenal Allah??? Kalo Partai Jenggot Sejahtera sih wajar teriak-teriak takbir!” Sejak kapan partai politik jadi agama baru? Sejak lama, dan kita tak juga menjadi pintar!

Konon di pemilu kali ini, yang menang justru dari sebuah partai grassroot. Namanya Golongan Putih! jika benar demikian, maka tingkat atau level skeptisme negara ini sedemikian tingginya.

Dan seperti yang sering saya bilang, saya sama sekali tak akan memilih golput dalam pemilu ini. Hanya saja, saya tak terdaftar sebagai pemilih. Itu saja! :)

Kampanye, apapun ceritanya banyak menyisakan kisah pilu. Atau jangan-jangan benar adanya soal rumor yang mengatakan bahwa pemilu itu berasal dari kata pilu. Pemilu, pembuat pilu?

—-Foto diambil dari sini.

Tags: , , , ,

Tulisan Yang Lain :

9 Comments, Comment or Ping

  1. ranah yang aku nggak mudeng adalah politik..
    memang bener bang, semua seperti dagelan saja.
    lucu nggak, muak iya..

    muhamaze last post: Dunia blogger terasa indah, begitukah?

  2. hahaha. jenius si abang. tidak terdaftar tidak sama dengan golput ya. bener juga.

    Ray Rizaldy last post:

  3. udah ilfil ama kampanye pemilu…

  4. cha

    uhm, tidk terdaftar dan tidak mencoba mendaftarkan diri juga sesuatu yang berbeda sih menurut saya ya,,,.. dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang warga negara yang tidak punya kobtribusi besar seperti saya ini selain berpartisipasi dalam pemilu.
    cheers.

    cha last post: i just cant say anything

  5. Hahahaha, kembali ke gaya Pak Kayam bang…
    Nyentil tapi menggelikan…
    Berada jauh dari pusat berita bukan berarti ketinggalan berita…
    Idiom-idiom loka yang abang tampilkan cukup mengena :)
    Tengku Puteh last post: HANYALAH LELAKI BIASA

  6. Hahahaha, kembali ke gaya Pak Kayam bang…
    Nyentil tapi menggelikan…
    Berada jauh dari pusat berita bukan berarti ketinggalan berita…
    Idiom-idiom lokal yang abang tampilkan cukup mengena :)
    Tengku Puteh last post: HANYALAH LELAKI BIASA

  7. mangkanya sampeyan harus nyalon di 2014. men dunyane tambah maen kaya gue.

    bangsari last post: Soto Madura Terminal Kampung Melayu

  8. walah cara menasehatinya memang boleh sekali sampean hahaha

  9. saya dengan bangga mengangkat kelingking saya dan menunjukkan bahwa kelingking saya bersih pada hari Pemilu.
    bukan tidak mau turut membangun negeri ini melalui Pemilu hanya saja saya terlanjur kecewa dengan segala omongan caleg yang sok tau dan sok bijak. sama seperti bos-bos di pusat yang kadang menyamaratakan fasilitas di pusat dan di daerah!

    orang baru di ranah blog last post: Glory, No Less than Glory

Reply to “Dagelan Pabrik Skeptisme”