Mbah Surip
Monggo jika tulisan saya kali ini dianggap aji mumpung. Kenapa baru sekarang? Kenapa nunggu meninggal? Sebenarnya nafsu nulis saya beberapa bulan ini bener-bener menguap. Akan halnya tiba-tiba saya menulis pas ada kejadian yang cukup bikin geger negeri ini adalah murni karena rasa hormat saya pada almarhum. Silakan saja saya dianggap ikut-ikutan, keli dudu mbanyu mili alias hanyut oleh riak lakunya massa, atau apapun sebutannya.

Jika penguasa negeri ini, Prabu Yudhoyono saja secara langsung mengucapkan rasa bela sungkawanya. Jika jutaan orang mengelu-elukan Mbah Surip dan bersedih secara serentak pada hari ini. Jika para tua maupun muda, dewasa maupun kanak-kanak bersenandung lagu Ta’ Gendong dengan rasa bahagia yang menjalar entah kenapa. Jika hanya dengan nada sambung telepon seluler saja beliau bisa mengantongi (konon) 4,5 miliar. Maka saya, yang jelas bukan siapa-siapa di hadapan jutaan manusia di negeri ini, merasa tak sungkan apalagi malu untuk ikut larut digendong Mbah Surip kemana-mana.
Kenduri Cinta-Nya Cak Nun adalah momen pertama saya berkenalan dengan Mbah Surip. Mbah yang satu ini tentu lain nuansanya dengan Mbah-mbah terkenal lain di negeri ini. Mbah Surip dianggap sekedar lelucon, orang yang kebanyakan ketawa, tak serius dan tak ada isinya. Bandingkan dengan Mbah Maridjan, misalnya. Meski banyak yang –sudah—tidak percaya dengan Gunung Merapi dan spiritualitasnya (yang merupakan spesialisasi Mbah Maridjan, toh ketika bertemu banyak dari kita yang tatkala berjumpa beliau akan hormat, salah tingkah, cium tangan, minta nasehat atau minimal deg-degan dan tak tahu harus apa.
Atau bandingkan kharisma Mbah Surip dengan kepopuleran Mbah Putri Erot (alm.) yang meski sudah Mbah-mbah lebih sering dipanggil Mak. Mak Erot.
Mbah Surip menerobos gambaran stereotip tentang para Mbah. Beliau tak hadir dalam bungkusan kopiah putih, sorban, pici, tutur kata yang lembut tapi mantap menggurui, pamer soal seberapa banyak sudah makan asam garam. Tidak Mbah Surip hadir dengan bungkusan warna-warni khas anak-anak reggeae, rambut gimbal dan gitar buluk.

Tapi salah jika dibilang Mbah Surip itu tidak pernah serius. Beliau malah orang yang sangat-sangat serius di mata saya. Ketika beliau bilang bahwa dia bahagia dan berusaha untuk tertawa setiap saat, apakah ada yang mau membantahnya? Adakah yang berani bilang kalo beliau tidak serius dalam kebahagiaannya?
Seserius itulah Mbah Surip. Namun tergantung kerelaan kita untuk masuk ke dalam cakrawala yang Mbah Surip bangun. Beliau mengajari banyak hal, tak tak kenal pamrih, makanya saya pikir beliau itu sangat serius tatkala berkata: “Kalo toh ndak bisa bikin masyarakat Indonesia jadi pinter, semoga saya bisa bikin mereka tertawa, menyanyi bersama….”
Tentu saja Mbah Surip tanpa mantra, tanpa keris dan kemenyan ketika terbukti mampu menyatukan generasi muda dengan generasi senior dengan lagu –yang buat kebanyakan orang tak ada maknanya.
Jika Metallica yang disetel bisa membuat berang para orang tua yang merasa kebrebegen pekak telinga atau koleksi Betharia Sonata yang diputar para orang tua membuat para ABG memilih keluar dari rumah, maka bukankah kita harus mengakui kesaktian Mbah Surip yang mampu mempersatukan perbedaan itu?
Semoga, Mbah, makin banyak orang-orang yang mau “menggendong” orang lain, kemana-mana bila perlu. Karena seperti yang Mbah bilang dulu :
“Digendong itu enak, tapi nggak banyak orang yang mau nggendong…”
Kalimat yang sepintas sepele, namun jika yang dimaksud dengan “gendong” itu adalah support, dukungan, bantuan atau arahan. Jika yang nggendong itu artinya para pemimpin, alim ulama atau pesohor. Jika yang digendong itu adalah rakyat kecil, masyarakat tertinggal, orang tertindas, maka niscaya lagu Ta’ Gendong itu lagu yang sangat berat dan sarat makna.
Selamat Jalan, Mbah. I Love You Full!
Dan I Love You Full itu sendiri kan ya sebuah usaha, harapan ataupun doa agar cinta yang kita mulai adalah yang seutuhnya. Bayangkan jika kata “you” dalam “i love you full” itu ditujukan pada Sang Gusti?
Selamat jalan, Mbah….
NB : Mbah Surip dimakamkan di komplek Bengkel Teater-nya WS. Rendra, dan tulisan ini dibuat bertepatan dengan meninggalnya WS. Rendra. Takkan seramai pemakaman Mbah Surip memang, tapi merekalah yang benar-benar mencintaimu yang mengantarkanmu ke dunia sana, wahai Si Burung Merak.
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’un…
KETERANGAN GAMBAR : semua digambar diambil dari internet, lupa sumbernya. Maaf.
Tags: Cak Nun, Emha, hidup, Kenduri Cinta, Mbah Surip, seni, WS. Rendra




11 Comments, Comment or Ping
suci
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un… Selamat Jalan Mbah Surip… Bener-bener perjalanan hidup yang mengagumkan buat saya. Mbah Surip pulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa di puncak ketenarannya, tapi justru itulah yang bikin (kenangan tentang) Mbah Surip abadi di hati kita semua…
Aug 7th, 2009
hedi
WS Rendra mau pulang ke rumah karena mau ikut tahlilan seminggu Mbah Surip, eh malah sekalian nyusul. Selamat Jalan, para master
Aug 7th, 2009
bangpay
SUCI | saya dan temen-temen malah lebih suka Mbah dengan kegiatan sebelum setenar kemarin, Mbah itu orangnya kan gak enakan, jadi diundang kesana-kemari (biar gak dibayarpun) bakal disambangin… belakangan memang kelihatan capek sekali (bahkan di layar televisi)..
HEDI | sedih..
Aug 7th, 2009
yudha permana
dengan tidak mengecilkan dan mengurangi rasa hormat pada mbah surip, saat semalam mendengar WS Rendra meninggal dunia, gue baru nyadar…iya ya..kemana dia saat perhelatan akbar mengantar kepergian Mbah Surip, yang notabene diramaikan di bengkel beliau, tapi kok WS Rendranya gak kelihatan, apa jangan2 beliau lagi sakit?.
Mengutip getaran kalimat Cak Nun dalam wawancara radio yang gue denger di perjalanan tadi siang (maap gak inget radio mana..cuma asal pencet saluran doang soalnya)
“saat rumahnya diinjak2 ribuan kaki, tapi tak ada satupun yang menanyakan dimana sang empu rumah”, padahal beliau saat itu menyaksikan semuanya dalam keadaan terbaring lemah..media seperti juga halnya gue, gak peka akan hal ini
tak ada niat membanding-bandingkan, mereka orang-orang besar, orang-orang hebat bagi gue…mengutip kalimat mas hedi di atas..”selamat jalan para master”
Aug 7th, 2009
Bangpay
YUDHA | kalo soal dimana WS Rendra, saya tahu, bang… Bahkan di metro tv pernah ada newsticker yg memberitahu soal sakitnya WS Rendra… Soal media, you know lah..
:p
Aug 7th, 2009
vedder
dulu… biasanya ikut klayapan sama ibu bapak di pengajian padhang mbulan ndek jombang.
si embah kui yo kadang muncul…..
lha wong omah e mojokerto….
-pokok e komen-
Aug 10th, 2009
adipati kademangan
dilihat dari perjalananya bersama kenduri cinta, sebenarnya mbah surip sudah eksis meski tidak disorot oleh media. Beliau akan tetap membuat orang tertawa dengan atau tanpa media elektronik dan cetak.
Selamat jalan mbah Surip dalam “gendongan” malaikat
Aug 11th, 2009
mautauaja
Hehehe… pa kabar Pay ???
Lama gak ketemu di KuBlog yang “mati suri”.
Aug 20th, 2009
genthokelir
selamat berpuasa
postingan mbiyen wakakakaka
jarang posting tibake ora mung aku dewek wakakakaka
Aug 24th, 2009
bangsari
pada kang. aku malah ngertine nang KC TIM. cak nun menjulukinya sufi sejati. karena tak peduli dengan uang, penampilan dan tak punya rasa takut.
Oct 12th, 2009
Reply to “Mbah Surip”