Tanda Petik
Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.
Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.
Mengetuk pintu rumah yang lama tak saya kunjungi, ada berjuta perasaan nyempil disana. Tapi rasa malulah yang ternyata paling besar. Kemaluan eh rasa malu yang teramat besar ini bisa muncul karena berbagai hal. Malu kalau-kalau dianggap sudah tak mampu lagi bahkan menjadi tak pantas. Malu kalau-kalau upaya ini sekedar usaha untuk kembali namun cuman sekali itu saja, setelah ini melempem lagi.
Kepulangan saya dengan anak-bini saya di penghujung tahun 2008 –kemarin bertepatan dengan ultah-nya Kanjeng Yesus kemarin justru makin menegaskan bahwa kita ini memang niba-tangi mengejar takaran, standar atau ukuran yang sebenarnya kita bikin-bikin sendiri. Setidaknya menurut saya.

Next,