<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>bangpay.org</title>
	<atom:link href="http://bangpay.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangpay.org</link>
	<description>Kumpulan Tulisan. Koleksi Kutipan. Pamer Gambar. Atau Grundelan Yang Mungkin Tak Penting Buat Anda. Tapi Penting Buat Saya.</description>
	<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 08:45:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mencoba Sukses (Menulis) Kembali</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 08:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cekeremes]]></category>

		<category><![CDATA[bangpay]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Mengetuk pintu rumah yang lama tak saya kunjungi, ada berjuta perasaan nyempil disana. Tapi rasa malulah yang ternyata paling besar. Kemaluan eh rasa malu yang teramat besar ini bisa muncul karena berbagai hal. Malu kalau-kalau dianggap sudah tak mampu lagi bahkan menjadi tak pantas. Malu kalau-kalau upaya ini sekedar usaha untuk kembali namun cuman sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengetuk pintu rumah yang lama tak saya kunjungi, ada berjuta perasaan <em>nyempil</em> disana. Tapi rasa malulah yang ternyata paling besar. Kemaluan eh rasa malu yang teramat besar ini bisa muncul karena berbagai hal. Malu kalau-kalau dianggap sudah tak mampu lagi bahkan menjadi tak pantas. Malu kalau-kalau upaya ini sekedar usaha untuk kembali namun cuman sekali itu saja, setelah ini melempem lagi.</p>
<p><span id="more-91"></span>Menulis. Di tengah badai kerinduan saya akan menulis, ada banyak sekali rasa yang membuncah seperti bisul imajiner yang ingin meletus di dalam dada saya. <em>Sampeyan </em>semua tahu blog ini lama (sekali) absen, tapi bukan berarti saya berhenti menulis apalagi berhenti <em>ndopok</em> <em>(Sir Mbilung says; <a title="Sir Mbilung" href="http://ndobos.com" target="_blank">ndobos!</a>)</em>.</p>
<p>Jaman SMA dulu, menulis itu relatif lebih gampang dibanding saat ini tapi jaman itu saya masih setia dengan dunia membaca (apa saja), dan belum mulai (belajar) menulis. Jaman itu saya mabuk kepayang dengan ide-ide, pendapat, pola pikir milik para penulis yang buku-bukunya saya baca.</p>
<p>Saking mabuknya, saya minder kalau disuruh menulis. Minder kalau-kalau dengan begitu banyaknya yang saya baca, begitu hebatnya pemikiran para penulisnya, begitu beragamnya wawasan yang saya bisa cerna kemampuan menulis saya bahkan tak mencapai seujung kuku dari <em>slilit </em>para orang hebat itu.</p>
<p>Ketika akhirnya saya makin berumur, saya melihat, tak semua dari kawan-kawan saya menjadi nomer satu, menjadi yang terhebat, menjadi orang di puncak singgasana dunia. Namun meskipun begitu, tak menjadi alasan bagi seseorang untuk minder apalagi merasa tak pantas untuk hidup dengan penuh bangga dan syukur. Hal ini membuat saya mulai berani menulis, meski sekedar hanya menyampaikan uneg-uneg. Tak banyak yang bisa dilakukan. Melucu, masih banyak yang lebih lucu. Nulis soal serius seperti urusan duit biar pas ama kerjaan saya, masih banyak yang lebih jago. Mo nulis soal birokrasi, duh! <em>Abot, dab&#8230;</em> Jadi blog saya dan dunia saya ini melulu berisi uneg-uneg yang seringnya bikin <em>eneg</em>.</p>
<p>Pernah saya ketemu dengan kawan sekolah yang kini menjadi montir cabutan di sebuah bengkel, ketika melihat saya tak sedikitpun ada rasa minder atau malu itu. Padahal dulu ia dikenal sebagai anak yang lumayanlah dari segi status sosial apalagi soal duit. Dengan hangat ia sapa saya, dengan <em>sumringah</em> namun takzim ia meminta maaf tak bisa menjabat tangan saya betapapun inginnya dia lantaran tangannya masih gopak berlumuran oli dan dan bensin.</p>
<p>Persahabatan dan momentum yang langka ini ternyata tak membuat sepeda motor saya menerobos antrian di bengkel itu. Saya tetap harus ikut ngantri. Alhamdulillah-nya saya ndak mangkel ataupun jengkel. Saya malah dibuat kagum olehnya, betapapun bengkel itu bukan miliknya, kawan saya itu tetap menjaga nama baik bengkel di mata para konsumen dengan tidak membiarkan persahabatan mengacaukan segalanya.</p>
<p>Jadi <em>ngungun</em> dengan kawan-kawan yang lain, yang kuliahnya <em>nyundul</em> langit (<em>dus,</em> biayanya <em>nyundul </em>surga), yang jabatannya <em>mentereng</em>, yang tak boleh sembarang orang cengengesan dengannya, yang… pokoknya bukan <em>sak baen</em>-nya orang. Herannya mereka itu kok lain banget kalo dengan kawan-kawan mereka lho, jadi baik banget, jadi ramah banget, jadi punya banyak waktu senggang. Pokoknya lain.</p>
<p>Lain lagi kalo mereka sedang ketemu konsumen atau masyarakat (khusus buat yang bergerak di bidang <em>public service),</em> isinya itu melulu soal ndak punya waktu, <em>merengut</em> ndak mau senyum, paling <em>banter </em>nyengir yang <em>ndak sedep disawang</em>.</p>
<p>Kawan lain berkata, orang macam begitu itu kawannya boleh jadi banyak, Pay. Tapi temennya pasti lebih sedikit, apalagi sahabatnya!</p>
<p>Duh, ini pasti saya sedang menua. Lha wong jaman cilikan dulu kata “kawan” itu bersinonim dengan “teman” dan “sahabat” je. Lha sekarang… Duh! <em>D’oh!</em></p>
<p>Mari menjadi profesional, apapun profesi kita. Terutama buat yang bergerak di bidang <em>public service</em>, jangan sampai dianggep <em>pubic service</em> alias pelayanan j*mbut!</p>
<p><em>Wis ah, kerjo sik!</em> Nanti nulis lagi, Insya Allah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Legend Of Lan Aang</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 05:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Aang]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[Avatar]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Yang namanya anak, selalu saja menjadi semacam pelipur lara bagi orang tuanya. Bagaimanapun tingkah pola sang anak, toh rasa sayang itu ada. Sialnya bagi si anak. Anak-anak perempuan sering jadi semacam boneka cantik yang bisa didandani apa saja oleh orang tuanya. Suka atau tidak suka, si anak nurut saja. Entah itu pake baju putri dongeng, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang namanya anak, selalu saja menjadi semacam pelipur lara bagi orang tuanya. Bagaimanapun tingkah pola sang anak, toh rasa sayang itu ada. Sialnya bagi si anak. Anak-anak perempuan sering jadi semacam boneka cantik yang bisa didandani apa saja oleh orang tuanya. Suka atau tidak suka, si anak nurut saja. Entah itu pake baju putri dongeng, kupu-kupu atau sailor moon, terserah orang tuanya.</p>
<p><img src="http://img27.imageshack.us/img27/1074/avatarlanang4001.jpg" alt="Avatar: The Legend Of Aang" width="400" height="107" /></p>
<p><span id="more-90"></span>Anak-anak juga sering jadi pelampiasan ambisi tak tercapai milik bapak-ibunya. Banyak anak dipaksa menempuh bidang ilmu tertentu, atau profesi tertentu meski tidak suka, hanya lantaran sang orang tua gagal meraihnya. Tapi lagi-lagi, anak bisa apa?? <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://img21.imageshack.us/img21/9701/avatarlanang4002.jpg" alt="Avatar: The Legend Of Aang" width="400" height="287" /></p>
<p>Tulisan ini tanpa maksud apa-apa, sekedar majang foto Lanang, anak saya, yang saya edit dengan segala adigang-adigung-adiguna saya sebagai Bapaknya Lanang. Piss!</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR<br />
Model : <a title="Lanang Sabrang Baruna Aji" href="http://bangpay.org/2008/09/15/lanang-sabrang-baruna-aji/" target="_blank">Lanang Sabrang Baruna Aji</a><br />
Kamera : Nikon D60<br />
Image Editing Tool : PhotoFiltre</p>
<p>*) Avatar : The Legend Of Aang, merupakan salah satu tokoh film animasi kesukaan saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dagelan Pabrik Skeptisme</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 16:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[caleg]]></category>

		<category><![CDATA[kampanye]]></category>

		<category><![CDATA[negara]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu sebentar lagi. Se-antero Indonesia bingung. Tapi bingungnya macam-macam. Tergantung kedudukan, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kepentingan pribadinya soal pemilihan umum. Otomatis respon masyarakat jadi macem-macem.

Buat yang serius menthelengi pulitik bak gebetan baru, maka lahirlah ini. Buat yang ingin tertawa dan mentertawakan aksi para calon wakil rakyat, dibuatlah ini. Macem-macem.
Tapi berhubung saya ngendon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu sebentar lagi. Se-antero Indonesia bingung. Tapi bingungnya macam-macam. Tergantung kedudukan, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kepentingan pribadinya soal pemilihan umum. Otomatis respon masyarakat jadi <em>macem-macem</em>.</p>
<p><img src="http://img158.imageshack.us/img158/1408/kampanye.jpg" alt="kampanye" /></p>
<p><span id="more-89"></span>Buat yang serius <em>menthelengi pulitik</em> bak gebetan baru, maka lahirlah <a title="Politikana adalah sahabat dagdigdug" href="http://politikana.com" target="_blank">ini</a>. Buat yang ingin tertawa dan mentertawakan aksi para calon wakil rakyat, dibuatlah <a title="Jangan Bikin Malu 2009" href="http://janganbikinmalu2009.com" target="_blank">ini</a>. Macem-macem.</p>
<p>Tapi berhubung saya <em>ngendon</em> di pelosok Indonesia yang jelas jarang sekali dibahas, maka tulisan kali ini hanya akan bersifat lokal saja.</p>
<p><em><strong>&#8220;The less you know, the more you believe&#8221; &#8212; Bono.</strong></em></p>
<p><em>Mangkel</em>, asyik, akrab, itulah yang saya rasakan selama berada di Luwuk dan mengobrol soal pilihan dan pandangan politik para penduduknya. <em>Mangkel,</em> karena seringnya obrolan itu hanya berujung kepada hal klenik dan nostalgia masa lalu.</p>
<p>Soal kesalahan terbesar bangsa ini adalah karena telah memilih SBY sebagai presiden republik ini pada pemilu sebelumnya. Alam murka dan menunjukkan kuasanya. Mulai dari tsunami Aceh, bencana kelaparan di papua, lumpur Lapindo yang sampai sekarang malah mulai dilupakan media dan yang paling gres ya soal Situ Gintung.</p>
<p>Lebih nelangsa lagi tatkala muncul semacam kawicaksanan entah bagaimana yang dengan begitu gampang menyimpulkan bahwa kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan jaman Orde Baru. Tak heran ada Caleg yang tanpa malu-malu (baik kucing maupun anjing) memajang foto dirinya sedang duduk di samping mantan presiden Suharto, atau lebih keren lagi, bersalaman.</p>
<p>&#8220;Waktu Pak Harto menjabat, Situ Gintung baik-baik saja kan?&#8221; ucap salah seorang kader partai di sebuah warung tatkala saya bersantap malam.</p>
<p>Belum lagi soal isu penting macam BBM ataupun BLT.  Berebut siapa yang paling berjasa bagi rakyat. Jika elit politik di <em>puser-</em>nya Indonesia saja sedemikian lucunya, apa kabar elit politik lokal?</p>
<p>Dalam menggalang dukungan, para Caleg memang melakukan banyak cara, hampir segala cara. Mulai dari poster-poster narsis bertebaran bak pohon tumbuh di mana-mana, kalender, kaus, jaket untuk Tukang Ojek, stiker di mobil bahkan <em>wallpaper</em> dinding-dinding tak bertuan.</p>
<p>Ketika tiba saatnya harus mengutarakan visi dan misi politiknya, inilah saat yang mendebarkan. baik buat si Caleg maupun buat para pendengarnya. Jangankan orasi langsung, <em>wong</em> kadang visi, misi dan tag line kampanye mereka dalam poster dan stiker saja ambigu dan belepotan lho.</p>
<p>Mulai dari sekedar memakai <em>boso walikan</em> alias bahasa kebalikan &#8220;membangun SULUT dengan TULUS&#8221;, sampai cari aman dari tanggung jawab bahkan cenderung memerintah: &#8220;Bangunlah persatuan dan kesatuan demi kesejahteraan kita&#8221;.</p>
<p>Beberapa kali saya juga terlibat perbincangan dengan para Caleg yang entah bagaimana ceritanya bisa <em>katut</em> jadi Caleg. Berbusa-busa mereka bicara, ada yang <em>micara</em> tapi adapula yang sama sekali tidak komunikatif namun sok pinter pada saat yang sama.</p>
<p>&#8220;Jadi, mas&#8230; misi saya adalah memperjuangkan APBD yang adil dan membela rakyat kecil!&#8221; sumbar si Caleg.<br />
&#8220;Lha memang APBD kabupaten ini tahun lalu berapa, Pak?&#8221; tanya saya memancing perkelahian.<br />
&#8220;Wah tahun lalu kan saya belum jadi apa-apa, mas&#8230; wajar donk ndak tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>Bahkan ada Caleg dari partai yang iklan di televisi yang sering diplesetin menjadi: &#8220;Geli, Ndra&#8230; Geli, Ndra&#8230;&#8221; itu mau ikut-ikutan dengan kandidat calon Presiden dari partai tersebut dengan membawa isu-isu penerimaan daerah termasuk pajak. Dengan jumawa ia pidato di depan seluruh pengunjung warung makan ikan bakar bahwa selama ini pemerintah pusat sudah sedemikian keterlaluannya dalam mengeruk bumi daerah ini. Bahwa sumber daya alam yang begitu melimpah ini habis digunakan justru untuk membangun Jawa. Bahwa pajak yang diperas dari penduduk lokal malah dinikmati oleh orang-orang kota besar.</p>
<p>Hampir saja saya keselek alias tersedak teh botol mendengarnya. Namun kali ini saya tak mau angkat bicara. Dasar sial, tetap saja saya kejatuhan sampur untuk ikut jual kecap. Nafsu makan sirna sudah. Sang caleg dengan tatapan penuh percaya diri berkata:</p>
<p>&#8220;Kebetulan saat ini ada orang pajak di sini, silakan bicara, mas&#8230; Apakah yang saya bilang soal pajak tadi itu ada yang kurang betul? Ndak usah takut, bicara saja, mas&#8230;&#8221;</p>
<p>Hati saya ndredeg, bukan apa-apa, saya bener-bener tak ingin menjatuhkan wibawa sang caleg di depan orang-orang, apalagi hendak menonjolkan ilmu dan wawasan dengan beliau. tapi toh saya harus bicara. Saya katakan dengan angka-angka bahwa penerimaan pajak daerah ini sangat kecil bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan dana APBN/ APBD-nya.</p>
<p>Kalimat saya tentu saja disambut dengan tepuk tangan dan merah padam muka sang caleg. Sungguh, saya tak bermaksud demikian&#8230;</p>
<p>Lain lagi cerita tatkala ada partai bergambar banteng dan berwarna dominan merah (banyak ya?) berkampanye, ada Caleg yang berteriak lantang di tengah orasinya: &#8220;Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!&#8221;, lalu ada orang nyeletuk: &#8220;Emang partai ini kenal Allah??? Kalo Partai Jenggot Sejahtera sih wajar teriak-teriak takbir!&#8221; Sejak kapan partai politik jadi agama baru? Sejak lama, dan kita tak juga menjadi pintar!</p>
<p>Konon di pemilu kali ini, yang menang justru dari sebuah partai <em>grassroot</em>. Namanya Golongan Putih! jika benar demikian, maka tingkat atau level skeptisme negara ini sedemikian tingginya.</p>
<p>Dan seperti yang sering saya bilang, saya sama sekali tak akan memilih golput dalam pemilu ini. Hanya saja, saya tak terdaftar sebagai pemilih. Itu saja! <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kampanye, apapun ceritanya banyak menyisakan kisah pilu. Atau jangan-jangan benar adanya soal rumor yang mengatakan bahwa pemilu itu berasal dari kata pilu. Pemilu, pembuat pilu?</p>
<p>&#8212;-Foto diambil dari <a title="kampanye" href="http://media.vivanews.com/thumbs/63710_atribut_kampanye_pemilu_partai_thumb_800_.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Baby Walker Untuk Lanang</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/02/21/baby-walker-untuk-lanang/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/02/21/baby-walker-untuk-lanang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 08:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[baby walker]]></category>

		<category><![CDATA[bini]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Setelah acara temu Dirjen itu, sebenarnya kantor wilayah saya masih ada satu acara lagi, yaitu Rakorda alias Rapat Koordinasi Daerah. Selain karena ndak punya interest di situ dan memang tidak ditugaskan untuk nguri-uri rapat macam begitu, di otak saya yang ada hanyalah, saya harus cepat-cepat ke Gorontalo lagi. Untuk apa?

Ya agar bisa main lagi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah <a title="temu dg dirjen" href="http://bangpay.org/2009/02/20/jelajah-tiga-propinsi-demi-ketemu-dirjen/" target="_blank">acara temu Dirjen itu</a>, sebenarnya kantor wilayah saya masih ada satu acara lagi, yaitu Rakorda alias Rapat Koordinasi Daerah. Selain karena ndak punya <em>interest</em> di situ dan memang tidak ditugaskan untuk <em>nguri-uri</em> rapat macam begitu, di otak saya yang ada hanyalah, saya harus cepat-cepat ke Gorontalo lagi. Untuk apa?</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/lanangberjalan1.jpg" alt="baby walker - ijo" width="400" height="147" /></p>
<p><span id="more-85"></span>Ya agar bisa main lagi dengan anak lanang saya. Membayangkan kesempatan yang sangat berharga untuk bermain-main, membuat tersenyum, menyuapinya dengan bubur bayi, memberinya minum susu <span style="text-decoration: line-through;">(hampir khilaf menggunakan kata: menyusui)</span>, dan menidurkan anak saya, memang membuat saya semangat. Menandak-nandak juga gelisah, seolah-olah ada bara api di kantung belakang celana saya.</p>
<p>Karena <a title="Lanangku!" href="http://lanang.bangpay.org" target="_blank">Lanang</a>, anak saya, <em>Alhamdulillah</em>-nya sudah sangat lincah dan <em>Subhanallah</em>-nya dia berhasil membuat neneknya selalu kelelahan dalam mengurusnya. Lanang memang jika sedang tidak tidur sangatlah aktif. Tak suka berlama-lama di atas ranjang. Maunya digendong dengan posisi duduk dan berjalan keliling rumah.</p>
<p><em>&#8212;jika memang anak saya 100% mirip saya, lalu sifat ndak suka berlama-lama di tempat tidur yang merupakan kebalikan dari sifat saya itu dari mana ya? </em> <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>LANANG DAN <em>BABY WALKER</em>-NYA</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/lanangberjalan2.jpg" alt="lanang and his baby walker" width="400" height="330" /></p>
<p>Dan <a title="Lanangku!" href="http://lanang.bangpay.org" target="_blank">Lanang</a> seperti ingin sekali bisa berjalan. Dia suka sekali jika <span style="text-decoration: underline;">dititah</span> alias diposisikan seperti sedang berjalan. Kakinya dengan penuh semangat seolah tengah berlatih keras agar mau dan mampu untuk berjalan. Dan yang namanya titah, itu jauh lebih melelahkan dari gendong jenis lainnya. Baik si pengasuh maupun si bayi sendiri karena lengan bayi belum cukup kuat untuk terus-terusan menopang berat tubuhnya.</p>
<p><a title="biniku sayang!" href="http://bini.bangpay.org" target="_blank">Bini</a> –seperti biasa, mempunyai ide bagus. <em>Baby walker</em> untuk Lanang!</p>
<p>Sebelum berangkat ke Gorontalo menggunakan travel, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Manado Town Square bersama Mas Dony, senior saya. Ketika hendak membayar di kasir, Mbak kasir (cantik)-nya memandangi kami berdua. Mungkin aneh baginya menemukan dua lelaki tambun membeli baby walker. Seperti biasa, ketika muncul sifat iseng, saya dengan cueknya nyeletuk: “Kami baru mengadopsi anak, Mbak”. Mbak kasir tadi tampak lebih shock dari sebelumnya.</p>
<p>Dan <em>baby walker</em> berkelir kuning dan biru itu resmi saya beli setelah meninggalkan kesan <em>gay</em> pada mbak-mbak kasir yang cantik tadi.</p>
<p>Dan, hampir menangis rasanya ketika Lanang saya angkat untuk lalu saya dudukkan di atas <em>baby walker</em>-nya. Girang bukan main. Senyum yang <em>merak ati</em>, meluluhkan hati siapapun yang melihatnya (menurut saya sih senyuman bayi akan begitu). Senyum tulus tanpa prasangka apa-apa, polos dan murni cerminan rasa gembira dan suka cita.</p>
<p>Anakku tersenyum!</p>
<p>Seperti belajar nyetir mobil, awalnya Lanang agak kesusahan dengan “kendaraan” barunya itu. Tapi kaki-kakinya yang cukup kuat itu mampu menggerakkan <em>baby walker</em>-nya. Lucu, karena pada hari pertama, lanang hanya mampu bergerak mundur. Makanya lebih sering dipasangi alas kaki agar bisa didorong untuk jalan-jalan keliling rumah. Lanang tertawa girang. <em>Priceless!</p>
<p></em><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/lanangberjalan3.jpg" alt="lanang main jalan-jalan" width="400" height="331" /><em><br />
</em></p>
<p>Hari kedua, Lanang bak kepiting, ia mampu menggerakkan baby walker-nya ke kanan. Selalu ke kanan. Ke kanan, <em>Mbah Marx!</em></p>
<p>Hari ketiga Lanang sudah begitu lekat dengan <em>baby walker</em>-nya. Ketika digendong, jika baby walkernya berada dalam jarak pandangnya, tatapan matanya tak bisa lepas, lalu merengek untuk mendekatinya.</p>
<p><strong>Sehat ya, Lanang! Nanti kalo ayah pulang, kita main lagi.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/02/21/baby-walker-untuk-lanang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Tiga Propinsi (Demi Ketemu Dirjen)</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/02/20/jelajah-tiga-propinsi-demi-ketemu-dirjen/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/02/20/jelajah-tiga-propinsi-demi-ketemu-dirjen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 12:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kantor]]></category>

		<category><![CDATA[Baronang]]></category>

		<category><![CDATA[Darmin Nasution]]></category>

		<category><![CDATA[Dirjen pajak]]></category>

		<category><![CDATA[ferry]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[luwuk]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<category><![CDATA[pagimana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;AMAZING RACE OF YOUR OWN, PAY?&#8221;
Tempat saya bekerja sekarang ini (cukup) lumayan terpencil. Tapi lagi-lagi saya beruntung. Pas saya bertugas di Luwuk, Maskapai Merpati tak lagi menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani jalur penerbangan dari dan keluar Luwuk. Kini ada Batavia Air, sodara-sodara sebangsa dan se tanah air!

Saya dan beberapa makhluk kantor yang sedianya diundang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;AMAZING RACE OF YOUR OWN, PAY?&#8221;</em></p>
<p>Tempat saya bekerja sekarang ini (cukup) lumayan terpencil. Tapi lagi-lagi saya beruntung. Pas saya bertugas di Luwuk, Maskapai <a title="(burung) merpati" href="http://www.merpati.co.id/" target="_blank">Merpati</a> tak lagi menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani jalur penerbangan dari dan keluar Luwuk. Kini ada <a title="Betawi Air" href="http://www.batavia-air.co.id" target="_blank">Batavia Air</a>, <em>sodara-sodara</em> sebangsa dan se tanah air!</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/sawah2.jpg" alt="pemandangan gorontalo - manado" width="400" height="230" /></p>
<p><span id="more-84"></span>Saya dan beberapa makhluk kantor yang sedianya diundang menghadiri acara <a title="Oh MoU" href="http://www.pajak.go.id/index.php?view=article&amp;catid=88%3Aagenda&amp;id=8818%3Apenandatanganan-mou-tax-center-dengan-universitas-sam-ratulangi&amp;tmpl=component&amp;print=1&amp;page=&amp;option=com_content&amp;Itemid=128" target="_blank">penandatanganan MoU antara DJP dengan Universitas Samratulangi, Manado</a> tentang pembentukan Tax Center di kampus tersebut pada minggu pertama di bulan februari, harus kelabakan tatkala acara tersebut diundur menjadi Jumat, 13 Februari 2008. Apa pasal?</p>
<p>Oke, maskapai sekarang ada dua. <em>Dus</em> maksimal dalam satu hari ada satu penerbangan dari dan ke luar Luwuk, tapi orang yang <em>blebar-bleber</em> naik pesawat kan ya ada banyak. Teori <em>supply and demand</em> bener membuat kami ngenes menghadapi kenyataan bahwa kami (semua) tak bisa mendapat tiket pesawat untuk menghadiri acara tersebut.</p>
<p>Tentu saja pembatalan pada minggu sebelumnya tak bisa kami jadikan alasan untuk ketidakhadiran kami. Mosok nyalahke kantor yang secara birokrasi lebih <em>inggil</em> nan tinggi? (Prekik!)</p>
<p>Lantas bos saya, <span style="text-decoration: line-through;">yang imut dan berkumis lucu itu</span> memanggil saya bersama seorang teman saya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kalian berdua saja yang berangkat mewakili kantor, kalian tempuh saja jalur darat menuju Palu lalu dari sana kalian cari tiket pesawat menuju Makassar, lalu di Makassar baru cari tiket lagi ke Manado??&#8221;</p>
<p>Rabu yang indah bukan? Luwuk ke Palu itu, <em>sodara-sodara,</em> sekitar 600 kilometer jika ditempuh lewat darat. Jika jarak sampeyan dalam lompat kodok bisa satu meter, maka butuh lompatan sebanyak 600.000 kali!!! Tidak, saya tak mau melintasi hutan-hutan sulawesi lewat darat, apalagi jika harus lompat kodok! Otak saya mulai bekerja keras mengingat-ingat jadual ferry. Muncul ide yang brilian demi menuju Manado.</p>
<p>LUWUK &gt; PAGIMANA (lewat darat) &gt; GORONTALO (naik ferry) &gt; MANADO (darat lagi).</p>
<p>Jika hari rabu itu ada jadual kapal. Maka matematika sederhana saya menghitung, minimal saya akan sampai di Manado pada hari kamis malam. <em>Perfect!</em> Dan orang seperti saya ini alhamdulillah-nya punya jaring sosial yang lumayan. Jaring sosial yang jelas bukan lewat media macam Friendster atau Facebook ini teramat sering menyelamatkan saya dalam kondisi kejepit seperti saat itu.</p>
<p>Saya hubungi salah satu awak Kapal Ferry Baronang yang saya kenal baik, menanyakan jadual kapal dan kemungkinan saya (dan teman saya) bisa menyewa kamar ABK untuk beristirahat. Atas nama kenyamanan dan semilir AC, mengingat hawa di ferry yang mirip dengan kompor tukang penggorengan.</p>
<p>Setelah semuanya oke, termasuk pekerjaan yang musti diselesaikan, saya mengantar Supervisor saya ke bandara. Beliau hendak pulang ke Surabaya, sakit yang dideritanya mengharuskan beliau pulang untuk berobat. Lagi pula sudah (cukup) lama beliau berjauhan dengan anak-bininya.</p>
<p>Sesampainya di bandara, rupanya beliau juga tak beruntung. tak ada seat. Dengan sedikit rasa kecewa, tapi dengan penuh semangat mudik, Bos saya itu memutuskan untuk ikut menempuh jalur yang akan saya tempuh. Sebelumnya bos saya itu membeli tiket pesawat dari Gorontalo - Surabaya secara online untuk hari kamis.</p>
<p>Oke, formasi sudah lengkap. Dengan menculik salah seorang supir kantor, kami menuju ke Pagimana, sebuah kecamatan di Kabupaten Banggai. Satu-satunya alasan kami mau melintasi medan yang bak sungai kering selama dua jam adalah karena di pagimana-lah pelabuhan ferry berada.</p>
<p>Entah kesambet setan petualang bermarga apa, <a title="Kanjeng Adipati Geomatika" href="http://www.thegeom.com/" target="_blank">Kanjeng Adipati Geomatika Van Suroboyo-Kudus PP.</a> ini ikut mengantar kami sampai di pagimana. Sebuah keputusan yang (mungkin) agak beliau sesali kemudian saat sadar rute yang kami tempuh itu seperti perjalanan semi-offroad.</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/thegeommaster.jpg" alt="makan di pagimana" width="400" height="169" /></p>
<p>Maghrib menjelang, kami berlima sampai di Pagimana. Setelah menaruh barang-barang bawaan di salah satu kamar ABK dan shalat di atas ferry, kami turun dari kapal menuju salah satu rumah makan. menu malam itu adalah ikan bakar. Suatu kenikmatan tersendiri tiap kali menyaksikan Bos saya dan <a title="kanjeng Adipati Geom" href="http://www.thegeom.com/" target="_blank">Ahli geomatika</a> kawan saya itu makan. Muka serius, penuh cinta (akan makanan), semangat membara, dan peluh yang bercucuran sebesar biji jagung dan mengalir bak Kali Code. Duet Surabaya - Batak ini benar-benar mantap kalau makan. Mantap, lamanya&#8230;</p>
<p>Seusai makan, <a title="Ahli Geomatika Kita" href="http://thegeom.com" target="_blank">Ahli Geomatika</a> yang saya hormati dan supir melanjutkan perjalanan (darat) kembali ke Luwuk. jam delapan malam, kapal ferry Baronang angkat sauh dan mulai berlayar menuju Gorontalo.</p>
<p>Kondisi panas luar biasa di dalam ferry tak kami rasakan lantaran saya berhasil mendapatkan kamar ABK yang berfasilitas AC. <span style="text-decoration: line-through;">Oke, ini KKN yang menyenangkan, bukan?</span> Tak terbayang kalau kami harus semalaman duduk di atas kursi <em>fiber</em> yang memang disediakan sebagai tempat penumpang.</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/transsulawesi.jpg" alt="tanah longsor" width="400" height="270" /></p>
<p>Jam 7 pagi, kami tiba di Gorontalo setelah berlayar semalaman. Mobil carteran yang hendak mengantar kami menuju Manado sudah menunggu. Mumpung di Gorontalo, saya tak menyia-nyiakan kesempatan utnuk bertemu Lanang, anak saya. Setelah mampir sebentar untuk mandi, ganti baju dan kangen-kangenan dengan Lanang, kami menuju bandara Gorontalo untuk mengantar Supervisor saya. Lalu, perjalanan sekitar 530 km menuju Manado pun dimulai.</p>
<p>Pukul 8 malam, hari Kamis, saya dan seorang teman saya akhirnya menginjak kota manado. Selepas mendapat hotel dan mandi, kami keluar untuk makan malam, setelah itu kembali ke hotel dan tidur.</p>
<p>Jum&#8217;at pagi, saya sudah berada di Manado Convention Center (MCC) tempat Pak Darmin, Dirjen Pajak, Bos saya itu, akan <a title="Berita dari manado post" href="http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15197&amp;Itemid=39" target="_blank">tanda tangan MoU dengan Rektor Unsrat</a>.</p>
<p><img src="http://i24.photobucket.com/albums/c46/pangiinside/blog/temudirjen.jpg" alt="Dirjen pajak Cs." width="400" height="163" /></p>
<p>Perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi kami berhasil melaluinya. Kepala Kantor saya (yang berkumis amboi itu) rupanya berhasil sampai di Manado tepat waktu meski harus membeli tiket pesawat dengan harga tiga kali lipat, dan membujuk penumpang lain untuk menyerahkan tiketnya.</p>
<p>Sebagai orang kecil, <a title="Darmin Nasution's Quotes" href="http://thinkexist.com/quotes/darmin_nasution/" target="_blank">Pak Darmin</a> tentu hebat belaka di mata saya. Untuk tanda tangan saja, ada petualangan seru di dalamnya. Petualangan saya tentu saja.</p>
<p>FOTO: Koleksi Pribadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/02/20/jelajah-tiga-propinsi-demi-ketemu-dirjen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
