<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>bangpay.org</title>
	<atom:link href="http://bangpay.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangpay.org</link>
	<description>Kumpulan Tulisan. Koleksi Kutipan. Pamer Gambar. Atau Grundelan Yang Mungkin Tak Penting Buat Anda. Tapi Penting Buat Saya.</description>
	<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 23:52:22 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mudik Online</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 23:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[13897]]></category>

		<category><![CDATA[bini]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<category><![CDATA[kereta]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<category><![CDATA[mudik]]></category>

		<category><![CDATA[online]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat terbang]]></category>

		<category><![CDATA[PT. KAI]]></category>

		<category><![CDATA[purwokerto]]></category>

		<category><![CDATA[ternate]]></category>

		<category><![CDATA[tiket]]></category>

		<category><![CDATA[tiket kereta]]></category>

		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari menjelang lebaran, meski Ramadhan masih sangat belia, isi kepala perantau macam saya jelas sudah penuh dengan bayangan akan pulang kandang ke kampung halaman. Sudah empat kali lebaran saya tidak mudik ke Jawa. Atas nama penghematan, pekerjaan maupun pertimbangan lain, saya justru lebih sering pulang (ke Jawa) di luar hari lebaran.

Tiga kali lebaran saya lewatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari menjelang lebaran, meski Ramadhan masih sangat belia, isi kepala perantau macam saya jelas sudah penuh dengan bayangan akan pulang kandang ke kampung halaman. Sudah empat kali lebaran saya tidak mudik ke Jawa. Atas nama penghematan, pekerjaan maupun pertimbangan lain, saya justru lebih sering pulang (ke Jawa) di luar hari lebaran.</p>
<p><img src="http://rollit.roll.co.id/area%2051/sites/roll/leisure/images/stories/lionairplane.jpg" alt="Pesawat Lion Air" width="385" height="256" /></p>
<p>Tiga kali lebaran saya lewatkan di tanah kelahiran <a title="Blog Bini" href="http://bini.bangpay.org" target="_blank">istri saya</a> di Gorontalo dan satu kali saya berlebaran di Ternate. Jadi dengan semangat, tekad dan tabungan yang ada, saya beserta istri sepakat akan merayakan lebaran kali ini di Jawa.</p>
<p><span id="more-94"></span>Ternyata mempersiapkan segala sesuatu untuk mudik kali ini cukup repot. Pertama soal transportasi. Kampung saya itu terletak di lutut gunung tertinggi nomor dua di pulau Jawa. Jadi dari Gorontalo, tempat saya mengambil start mudik saya harus naik pesawat ditambah dengan perjalanan darat. Harga tiket (pesawat) jelas menjadi pertimbangan yang bukan main bolehnya saya serius menentukan hari mudik.</p>
<p>Tentu menentukan tanggal mudik bagi saya dan istri yang sama-sama abdi negara di departemen yang sama menjadi sebuah kesulitan tersendiri. Saya dan juga istri harus mempertimbangkan volume tunggakan pekerjaan, sisa jatah cuti, kebijakan Kepala Kantor dan lain-lain yang membuat kami sering gregetan sendiri.</p>
<p>Alhamdulillah, ada yang sudah mathuk gathuk antara hari yang tepat dengan harga tiket yang murah. Tanggal 19 September. Seperti biasa, saya membeli tiket secara online. Bukan lantaran sok hi-tech namun lebih karena malas bolak-balik ke agen tiket baik secara langsung maupun via telepon.</p>
<p>Rencananya saya pulang-pergi akan menggunakan maskapai yang berlogo singa. Mudik akan ditempuh dengan penerbangan Gorontalo – Makassar, lalu Makassar – Jakarta dan Jakarta – Jogja. Dan sesampainya di Jogja nanti, saya, Bini dan juga Lanang akan dijemput oleh keluarga saya dengan mobil. Lalu untuik balik saya akan menempuh perjalanan darat dari Purwokerto menuju Jakarta disambung dengan penerbangan langsung tanpa transit dari Jakarta ke Gorontalo.</p>
<p>Nah perjalanan darat inilah yang merupakan pengalaman baru bagi saya dimana saya untuk kali pertama <a title="booking tiket kereta" href="http://infoka.kereta-api.com/i/template/juklak%20e-tiketing.pdf" target="_blank">membeli tiket kereta secara online</a>. On line telepon, bukan internet! Sebagai pemalas dan tipikal bangsa Indonesia yang nyari gampang, sebelumnya saya menghubungi kawan karib saya yang kebetulan punya hubungan dekat dengan dunia perkeretaapian agar beliau mencarikan tiket kereta lewat pintu belakang. Jawaban kawan saya membuat takjub.</p>
<p><img src="http://akuinginhijau.files.wordpress.com/2007/07/argo_bromo.jpg" alt="Kereta Api" width="400" height="248" /></p>
<p>“Ndak bisa lagi, Pay! Sekarang jauh lebih ketat dari yang sebelumnya.. Aku saja gak dapet…”</p>
<p>Nah dari situlah saya mencari tiket via telepon. Menggunakan ponsel GSM (PT. KAI bilang belum bisa booking tiket pake ponsel CDMA) saya menghubungi nomor 13897 dan disambut oleh Mbak Operator. Oleh beliau saya ditanyakan tujuan dan tanggal keberangkatan, lalu dicarikan kereta yang bisa saya pilih. Pilihan saya jatuh kepada Taksaka Pagi seperti kepulangan saya di tahun baru 2009 kemarin. Sayangnya semua kursi sudah full booked.</p>
<p>Tak menyerah, dengan pola pikir bahwa tak semua orang yang beli tiket online akan membayarnya, maka saya juga mikir jangan-jangan ada orang yang sudah booking namun tidak membayarnya. Alasannya bisa macem-macem. Entah nemu alternatif kereta atau transportasi yang lebih baik, atau kelupaan sehingga batas pembayaran yang 3 jam dari waktu booking terlewati.</p>
<p>Saya telepon kembali. Kali ini Mbak Operatornya beda dengan yang pertama, namun nasib masih belum berpihak pada saya, kereta masih <em>full booked</em>. Lima menit kemudian saya telepon kembali, masih saja full. Sepuluh menit kemudian dengan sedikit <em>aras-arasen</em> alias males, saya telpon kembali, eh syukur <em>ngalkamdulillah</em>-nya ada kursi kosong sebanyak 4 buah!</p>
<p>Kemudian Mbak Operator menanyakan nama, alamat identitas saya. Karena lewat telpon yang belum tentu setiap saat terjamin kualitas kejernihan suaranya, saya harus berulang kali menyebutkan nama dan alamat saya sesuai dengan KTP saya.</p>
<p>Misalnya ketika menyebutkan Ternate, saya sampai harus mengejanya baik pake coro nginggris maupun pake <em>coro ndeso</em>. Tapi si Mbak akhirnya paham ketika saya eja dengan Teleprompter&#8230;. Eragon&#8230;. Rhapsody&#8230;. Namibia&#8230;. Alkohol&#8230;. Telek&#8230;. Enak!!!!</p>
<p>Lalu saya diberi nomer kode booking saya yang diperlukan untuk membayar via ATM. Setelah membayarnya via ATM, saya diwajibkan menyimpan slip ATM tersebut untuk ditukarkan dengan tiket yang sebenarnya di stasiun.</p>
<p>Cukup praktis, meski nampak ribet. Salut buat PT. KAI! Calo memang ada tapi perubahan itu cukup terlihat kok, bos… Jadi inget para blogger, fesbuker, twitterer, plurker atau forumer yang mencaci maki PT. KAI tanpa ampun. Ndak tahu saja mereka kalo merubah sesuatu di negeri ini itu bukan main susahnya. Ya sarananya, ya pejabatnya, ya lingkungannya, ya kepentingan ekonominya, ya transaksi politisnya, ya masyarakatnya, ya mentalnya… Ah! Pokoke salut!!!</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR :<br />
-  Gambar Pesawat dari <a title="Pesawat Singa" href="http://rollit.roll.co.id/area%2051/sites/roll/leisure/images/stories/lionairplane.jpg" target="_blank">sini</a>.<br />
-  Gambar Kereta Api dari <a title="Kereta Api" href="http://akuinginhijau.files.wordpress.com/2007/07/argo_bromo.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Surip</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/08/06/mbah-surip/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/08/06/mbah-surip/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 21:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Cak Nun]]></category>

		<category><![CDATA[Emha]]></category>

		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Kenduri Cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Mbah Surip]]></category>

		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<category><![CDATA[WS. Rendra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Monggo jika tulisan saya kali ini dianggap aji mumpung. Kenapa baru sekarang? Kenapa nunggu meninggal? Sebenarnya nafsu nulis saya beberapa bulan ini bener-bener menguap. Akan halnya tiba-tiba saya menulis pas ada kejadian yang cukup bikin geger negeri ini adalah murni karena rasa hormat saya pada almarhum. Silakan saja saya dianggap ikut-ikutan, keli dudu mbanyu mili [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Monggo</em> jika tulisan saya kali ini dianggap aji mumpung. Kenapa baru sekarang? Kenapa nunggu meninggal? Sebenarnya nafsu nulis saya beberapa bulan ini bener-bener menguap. Akan halnya tiba-tiba saya menulis pas ada kejadian yang cukup bikin geger negeri ini adalah murni karena rasa hormat saya pada almarhum. Silakan saja saya dianggap ikut-ikutan, <em>keli dudu mbanyu mili</em> alias hanyut oleh riak lakunya massa, atau apapun sebutannya.</p>
<p><img src="http://img41.imageshack.us/img41/919/mbahsuripmuda.jpg" alt="Mbah Surip Muda" /></p>
<p><span id="more-92"></span>Jika penguasa negeri ini, <a title="Presiden SBY" href="http://presidensby.info" target="_blank">Prabu Yudhoyono</a> saja secara langsung mengucapkan rasa bela sungkawanya. Jika jutaan orang mengelu-elukan Mbah Surip dan bersedih secara serentak pada hari ini. Jika para tua maupun muda, dewasa maupun kanak-kanak bersenandung lagu <em>Ta’ Gendong</em> dengan rasa bahagia yang menjalar entah kenapa. Jika hanya dengan nada sambung telepon seluler saja beliau bisa mengantongi (konon) 4,5 miliar. Maka saya, yang jelas bukan siapa-siapa di hadapan jutaan manusia di negeri ini, merasa tak sungkan apalagi malu untuk ikut larut digendong Mbah Surip kemana-mana.</p>
<p><a title="Kenduri Cinta" href="http://kenduricinta.com" target="_blank">Kenduri Cinta</a>-Nya <a title="Padhangmbulan" href="http://padhangmbulan.com" target="_blank">Cak Nun</a> adalah momen pertama saya berkenalan dengan <a title="Mbah Surip" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mbah_Surip" target="_blank">Mbah Surip</a>. Mbah yang satu ini tentu lain nuansanya dengan Mbah-mbah terkenal lain di negeri ini. Mbah Surip dianggap sekedar lelucon, orang yang kebanyakan ketawa, tak serius dan tak ada isinya. Bandingkan dengan Mbah Maridjan, misalnya. Meski banyak yang &#8211;sudah—tidak percaya dengan Gunung Merapi dan spiritualitasnya (yang merupakan spesialisasi Mbah Maridjan, toh ketika bertemu banyak dari kita yang tatkala berjumpa beliau akan hormat, salah tingkah, cium tangan, minta nasehat atau minimal deg-degan dan tak tahu harus apa.</p>
<p>Atau bandingkan kharisma Mbah Surip dengan kepopuleran Mbah Putri Erot (alm.) yang meski sudah Mbah-mbah lebih sering dipanggil Mak. Mak Erot.</p>
<p>Mbah Surip menerobos gambaran stereotip tentang para Mbah. Beliau tak hadir dalam bungkusan kopiah putih, sorban, pici, tutur kata yang lembut tapi mantap menggurui, pamer soal seberapa banyak sudah makan asam garam. Tidak Mbah Surip hadir dengan bungkusan warna-warni khas anak-anak reggeae, rambut gimbal dan gitar buluk.</p>
<p><img src="http://img38.imageshack.us/img38/430/caknunmbahsurip.jpg" alt="Mbah Surip dan Cak Nun" width="400" height="284" /></p>
<p>Tapi salah jika dibilang Mbah Surip itu tidak pernah serius. Beliau malah orang yang sangat-sangat serius di mata saya. Ketika beliau bilang bahwa dia bahagia dan berusaha untuk tertawa setiap saat, apakah ada yang mau membantahnya? Adakah yang berani bilang kalo beliau tidak serius dalam kebahagiaannya?</p>
<p>Seserius itulah Mbah Surip. Namun tergantung kerelaan kita untuk masuk ke dalam cakrawala yang Mbah Surip bangun. Beliau mengajari banyak hal, tak tak kenal pamrih, makanya saya pikir beliau itu sangat serius tatkala berkata: “Kalo toh ndak bisa bikin masyarakat Indonesia jadi pinter, semoga saya bisa bikin mereka tertawa, menyanyi bersama….”</p>
<p>Tentu saja Mbah Surip tanpa mantra, tanpa keris dan kemenyan ketika terbukti mampu menyatukan generasi muda dengan generasi senior dengan lagu &#8211;yang buat kebanyakan orang tak ada maknanya.</p>
<p>Jika <a title="Metallica" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metallica" target="_blank">Metallica</a> yang disetel bisa membuat berang para orang tua yang merasa kebrebegen pekak telinga atau koleksi <a title="Betharia Sonata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Betharia_Sonata" target="_blank">Betharia Sonata</a> yang diputar para orang tua membuat para ABG memilih keluar dari rumah, maka bukankah kita harus mengakui kesaktian Mbah Surip yang mampu mempersatukan perbedaan itu?</p>
<p>Semoga, Mbah, makin banyak orang-orang yang mau “menggendong” orang lain, kemana-mana bila perlu. Karena seperti yang Mbah bilang dulu :</p>
<p>“Digendong itu enak, tapi nggak banyak orang yang mau nggendong…”</p>
<p>Kalimat yang sepintas sepele, namun jika yang dimaksud dengan “gendong” itu adalah support, dukungan, bantuan atau arahan. Jika yang nggendong itu artinya para pemimpin, alim ulama atau pesohor. Jika yang digendong itu adalah rakyat kecil, masyarakat tertinggal, orang tertindas, maka niscaya lagu Ta’ Gendong itu lagu yang sangat berat dan sarat makna.</p>
<p>Selamat Jalan, Mbah. I Love You Full!</p>
<p>Dan I Love You Full itu sendiri kan ya sebuah usaha, harapan ataupun doa agar cinta yang kita mulai adalah yang seutuhnya. Bayangkan jika kata “you” dalam “i love you full” itu ditujukan pada Sang Gusti?</p>
<p>Selamat jalan, Mbah….</p>
<p>NB : Mbah Surip dimakamkan di komplek Bengkel Teater-nya WS. Rendra, dan tulisan ini dibuat bertepatan dengan meninggalnya WS. Rendra. Takkan seramai pemakaman Mbah Surip memang, tapi merekalah yang benar-benar mencintaimu yang mengantarkanmu ke dunia sana, wahai Si Burung Merak.</p>
<p><em>Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji&#8217;un&#8230;</em></p>
<p>KETERANGAN GAMBAR : semua digambar diambil dari internet, lupa sumbernya. Maaf.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/08/06/mbah-surip/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba Sukses (Menulis) Kembali</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 08:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cekeremes]]></category>

		<category><![CDATA[bangpay]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Mengetuk pintu rumah yang lama tak saya kunjungi, ada berjuta perasaan nyempil disana. Tapi rasa malulah yang ternyata paling besar. Kemaluan eh rasa malu yang teramat besar ini bisa muncul karena berbagai hal. Malu kalau-kalau dianggap sudah tak mampu lagi bahkan menjadi tak pantas. Malu kalau-kalau upaya ini sekedar usaha untuk kembali namun cuman sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengetuk pintu rumah yang lama tak saya kunjungi, ada berjuta perasaan <em>nyempil</em> disana. Tapi rasa malulah yang ternyata paling besar. Kemaluan eh rasa malu yang teramat besar ini bisa muncul karena berbagai hal. Malu kalau-kalau dianggap sudah tak mampu lagi bahkan menjadi tak pantas. Malu kalau-kalau upaya ini sekedar usaha untuk kembali namun cuman sekali itu saja, setelah ini melempem lagi.</p>
<p><span id="more-91"></span>Menulis. Di tengah badai kerinduan saya akan menulis, ada banyak sekali rasa yang membuncah seperti bisul imajiner yang ingin meletus di dalam dada saya. <em>Sampeyan </em>semua tahu blog ini lama (sekali) absen, tapi bukan berarti saya berhenti menulis apalagi berhenti <em>ndopok</em> <em>(Sir Mbilung says; <a title="Sir Mbilung" href="http://ndobos.com" target="_blank">ndobos!</a>)</em>.</p>
<p>Jaman SMA dulu, menulis itu relatif lebih gampang dibanding saat ini tapi jaman itu saya masih setia dengan dunia membaca (apa saja), dan belum mulai (belajar) menulis. Jaman itu saya mabuk kepayang dengan ide-ide, pendapat, pola pikir milik para penulis yang buku-bukunya saya baca.</p>
<p>Saking mabuknya, saya minder kalau disuruh menulis. Minder kalau-kalau dengan begitu banyaknya yang saya baca, begitu hebatnya pemikiran para penulisnya, begitu beragamnya wawasan yang saya bisa cerna kemampuan menulis saya bahkan tak mencapai seujung kuku dari <em>slilit </em>para orang hebat itu.</p>
<p>Ketika akhirnya saya makin berumur, saya melihat, tak semua dari kawan-kawan saya menjadi nomer satu, menjadi yang terhebat, menjadi orang di puncak singgasana dunia. Namun meskipun begitu, tak menjadi alasan bagi seseorang untuk minder apalagi merasa tak pantas untuk hidup dengan penuh bangga dan syukur. Hal ini membuat saya mulai berani menulis, meski sekedar hanya menyampaikan uneg-uneg. Tak banyak yang bisa dilakukan. Melucu, masih banyak yang lebih lucu. Nulis soal serius seperti urusan duit biar pas ama kerjaan saya, masih banyak yang lebih jago. Mo nulis soal birokrasi, duh! <em>Abot, dab&#8230;</em> Jadi blog saya dan dunia saya ini melulu berisi uneg-uneg yang seringnya bikin <em>eneg</em>.</p>
<p>Pernah saya ketemu dengan kawan sekolah yang kini menjadi montir cabutan di sebuah bengkel, ketika melihat saya tak sedikitpun ada rasa minder atau malu itu. Padahal dulu ia dikenal sebagai anak yang lumayanlah dari segi status sosial apalagi soal duit. Dengan hangat ia sapa saya, dengan <em>sumringah</em> namun takzim ia meminta maaf tak bisa menjabat tangan saya betapapun inginnya dia lantaran tangannya masih gopak berlumuran oli dan dan bensin.</p>
<p>Persahabatan dan momentum yang langka ini ternyata tak membuat sepeda motor saya menerobos antrian di bengkel itu. Saya tetap harus ikut ngantri. Alhamdulillah-nya saya ndak mangkel ataupun jengkel. Saya malah dibuat kagum olehnya, betapapun bengkel itu bukan miliknya, kawan saya itu tetap menjaga nama baik bengkel di mata para konsumen dengan tidak membiarkan persahabatan mengacaukan segalanya.</p>
<p>Jadi <em>ngungun</em> dengan kawan-kawan yang lain, yang kuliahnya <em>nyundul</em> langit (<em>dus,</em> biayanya <em>nyundul </em>surga), yang jabatannya <em>mentereng</em>, yang tak boleh sembarang orang cengengesan dengannya, yang… pokoknya bukan <em>sak baen</em>-nya orang. Herannya mereka itu kok lain banget kalo dengan kawan-kawan mereka lho, jadi baik banget, jadi ramah banget, jadi punya banyak waktu senggang. Pokoknya lain.</p>
<p>Lain lagi kalo mereka sedang ketemu konsumen atau masyarakat (khusus buat yang bergerak di bidang <em>public service),</em> isinya itu melulu soal ndak punya waktu, <em>merengut</em> ndak mau senyum, paling <em>banter </em>nyengir yang <em>ndak sedep disawang</em>.</p>
<p>Kawan lain berkata, orang macam begitu itu kawannya boleh jadi banyak, Pay. Tapi temennya pasti lebih sedikit, apalagi sahabatnya!</p>
<p>Duh, ini pasti saya sedang menua. Lha wong jaman cilikan dulu kata “kawan” itu bersinonim dengan “teman” dan “sahabat” je. Lha sekarang… Duh! <em>D’oh!</em></p>
<p>Mari menjadi profesional, apapun profesi kita. Terutama buat yang bergerak di bidang <em>public service</em>, jangan sampai dianggep <em>pubic service</em> alias pelayanan j*mbut!</p>
<p><em>Wis ah, kerjo sik!</em> Nanti nulis lagi, Insya Allah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/06/30/mencoba-sukses-menulis-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Legend Of Lan Aang</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 05:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Aang]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[Avatar]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Yang namanya anak, selalu saja menjadi semacam pelipur lara bagi orang tuanya. Bagaimanapun tingkah pola sang anak, toh rasa sayang itu ada. Sialnya bagi si anak. Anak-anak perempuan sering jadi semacam boneka cantik yang bisa didandani apa saja oleh orang tuanya. Suka atau tidak suka, si anak nurut saja. Entah itu pake baju putri dongeng, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang namanya anak, selalu saja menjadi semacam pelipur lara bagi orang tuanya. Bagaimanapun tingkah pola sang anak, toh rasa sayang itu ada. Sialnya bagi si anak. Anak-anak perempuan sering jadi semacam boneka cantik yang bisa didandani apa saja oleh orang tuanya. Suka atau tidak suka, si anak nurut saja. Entah itu pake baju putri dongeng, kupu-kupu atau sailor moon, terserah orang tuanya.</p>
<p><img src="http://img27.imageshack.us/img27/1074/avatarlanang4001.jpg" alt="Avatar: The Legend Of Aang" width="400" height="107" /></p>
<p><span id="more-90"></span>Anak-anak juga sering jadi pelampiasan ambisi tak tercapai milik bapak-ibunya. Banyak anak dipaksa menempuh bidang ilmu tertentu, atau profesi tertentu meski tidak suka, hanya lantaran sang orang tua gagal meraihnya. Tapi lagi-lagi, anak bisa apa?? <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://img21.imageshack.us/img21/9701/avatarlanang4002.jpg" alt="Avatar: The Legend Of Aang" width="400" height="287" /></p>
<p>Tulisan ini tanpa maksud apa-apa, sekedar majang foto Lanang, anak saya, yang saya edit dengan segala adigang-adigung-adiguna saya sebagai Bapaknya Lanang. Piss!</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR<br />
Model : <a title="Lanang Sabrang Baruna Aji" href="http://bangpay.org/2008/09/15/lanang-sabrang-baruna-aji/" target="_blank">Lanang Sabrang Baruna Aji</a><br />
Kamera : Nikon D60<br />
Image Editing Tool : PhotoFiltre</p>
<p>*) Avatar : The Legend Of Aang, merupakan salah satu tokoh film animasi kesukaan saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/04/03/the-legend-of-lan-aang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dagelan Pabrik Skeptisme</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 16:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[caleg]]></category>

		<category><![CDATA[kampanye]]></category>

		<category><![CDATA[negara]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu sebentar lagi. Se-antero Indonesia bingung. Tapi bingungnya macam-macam. Tergantung kedudukan, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kepentingan pribadinya soal pemilihan umum. Otomatis respon masyarakat jadi macem-macem.

Buat yang serius menthelengi pulitik bak gebetan baru, maka lahirlah ini. Buat yang ingin tertawa dan mentertawakan aksi para calon wakil rakyat, dibuatlah ini. Macem-macem.
Tapi berhubung saya ngendon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu sebentar lagi. Se-antero Indonesia bingung. Tapi bingungnya macam-macam. Tergantung kedudukan, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kepentingan pribadinya soal pemilihan umum. Otomatis respon masyarakat jadi <em>macem-macem</em>.</p>
<p><img src="http://img158.imageshack.us/img158/1408/kampanye.jpg" alt="kampanye" /></p>
<p><span id="more-89"></span>Buat yang serius <em>menthelengi pulitik</em> bak gebetan baru, maka lahirlah <a title="Politikana adalah sahabat dagdigdug" href="http://politikana.com" target="_blank">ini</a>. Buat yang ingin tertawa dan mentertawakan aksi para calon wakil rakyat, dibuatlah <a title="Jangan Bikin Malu 2009" href="http://janganbikinmalu2009.com" target="_blank">ini</a>. Macem-macem.</p>
<p>Tapi berhubung saya <em>ngendon</em> di pelosok Indonesia yang jelas jarang sekali dibahas, maka tulisan kali ini hanya akan bersifat lokal saja.</p>
<p><em><strong>&#8220;The less you know, the more you believe&#8221; &#8212; Bono.</strong></em></p>
<p><em>Mangkel</em>, asyik, akrab, itulah yang saya rasakan selama berada di Luwuk dan mengobrol soal pilihan dan pandangan politik para penduduknya. <em>Mangkel,</em> karena seringnya obrolan itu hanya berujung kepada hal klenik dan nostalgia masa lalu.</p>
<p>Soal kesalahan terbesar bangsa ini adalah karena telah memilih SBY sebagai presiden republik ini pada pemilu sebelumnya. Alam murka dan menunjukkan kuasanya. Mulai dari tsunami Aceh, bencana kelaparan di papua, lumpur Lapindo yang sampai sekarang malah mulai dilupakan media dan yang paling gres ya soal Situ Gintung.</p>
<p>Lebih nelangsa lagi tatkala muncul semacam kawicaksanan entah bagaimana yang dengan begitu gampang menyimpulkan bahwa kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan jaman Orde Baru. Tak heran ada Caleg yang tanpa malu-malu (baik kucing maupun anjing) memajang foto dirinya sedang duduk di samping mantan presiden Suharto, atau lebih keren lagi, bersalaman.</p>
<p>&#8220;Waktu Pak Harto menjabat, Situ Gintung baik-baik saja kan?&#8221; ucap salah seorang kader partai di sebuah warung tatkala saya bersantap malam.</p>
<p>Belum lagi soal isu penting macam BBM ataupun BLT.  Berebut siapa yang paling berjasa bagi rakyat. Jika elit politik di <em>puser-</em>nya Indonesia saja sedemikian lucunya, apa kabar elit politik lokal?</p>
<p>Dalam menggalang dukungan, para Caleg memang melakukan banyak cara, hampir segala cara. Mulai dari poster-poster narsis bertebaran bak pohon tumbuh di mana-mana, kalender, kaus, jaket untuk Tukang Ojek, stiker di mobil bahkan <em>wallpaper</em> dinding-dinding tak bertuan.</p>
<p>Ketika tiba saatnya harus mengutarakan visi dan misi politiknya, inilah saat yang mendebarkan. baik buat si Caleg maupun buat para pendengarnya. Jangankan orasi langsung, <em>wong</em> kadang visi, misi dan tag line kampanye mereka dalam poster dan stiker saja ambigu dan belepotan lho.</p>
<p>Mulai dari sekedar memakai <em>boso walikan</em> alias bahasa kebalikan &#8220;membangun SULUT dengan TULUS&#8221;, sampai cari aman dari tanggung jawab bahkan cenderung memerintah: &#8220;Bangunlah persatuan dan kesatuan demi kesejahteraan kita&#8221;.</p>
<p>Beberapa kali saya juga terlibat perbincangan dengan para Caleg yang entah bagaimana ceritanya bisa <em>katut</em> jadi Caleg. Berbusa-busa mereka bicara, ada yang <em>micara</em> tapi adapula yang sama sekali tidak komunikatif namun sok pinter pada saat yang sama.</p>
<p>&#8220;Jadi, mas&#8230; misi saya adalah memperjuangkan APBD yang adil dan membela rakyat kecil!&#8221; sumbar si Caleg.<br />
&#8220;Lha memang APBD kabupaten ini tahun lalu berapa, Pak?&#8221; tanya saya memancing perkelahian.<br />
&#8220;Wah tahun lalu kan saya belum jadi apa-apa, mas&#8230; wajar donk ndak tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>Bahkan ada Caleg dari partai yang iklan di televisi yang sering diplesetin menjadi: &#8220;Geli, Ndra&#8230; Geli, Ndra&#8230;&#8221; itu mau ikut-ikutan dengan kandidat calon Presiden dari partai tersebut dengan membawa isu-isu penerimaan daerah termasuk pajak. Dengan jumawa ia pidato di depan seluruh pengunjung warung makan ikan bakar bahwa selama ini pemerintah pusat sudah sedemikian keterlaluannya dalam mengeruk bumi daerah ini. Bahwa sumber daya alam yang begitu melimpah ini habis digunakan justru untuk membangun Jawa. Bahwa pajak yang diperas dari penduduk lokal malah dinikmati oleh orang-orang kota besar.</p>
<p>Hampir saja saya keselek alias tersedak teh botol mendengarnya. Namun kali ini saya tak mau angkat bicara. Dasar sial, tetap saja saya kejatuhan sampur untuk ikut jual kecap. Nafsu makan sirna sudah. Sang caleg dengan tatapan penuh percaya diri berkata:</p>
<p>&#8220;Kebetulan saat ini ada orang pajak di sini, silakan bicara, mas&#8230; Apakah yang saya bilang soal pajak tadi itu ada yang kurang betul? Ndak usah takut, bicara saja, mas&#8230;&#8221;</p>
<p>Hati saya ndredeg, bukan apa-apa, saya bener-bener tak ingin menjatuhkan wibawa sang caleg di depan orang-orang, apalagi hendak menonjolkan ilmu dan wawasan dengan beliau. tapi toh saya harus bicara. Saya katakan dengan angka-angka bahwa penerimaan pajak daerah ini sangat kecil bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan dana APBN/ APBD-nya.</p>
<p>Kalimat saya tentu saja disambut dengan tepuk tangan dan merah padam muka sang caleg. Sungguh, saya tak bermaksud demikian&#8230;</p>
<p>Lain lagi cerita tatkala ada partai bergambar banteng dan berwarna dominan merah (banyak ya?) berkampanye, ada Caleg yang berteriak lantang di tengah orasinya: &#8220;Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!&#8221;, lalu ada orang nyeletuk: &#8220;Emang partai ini kenal Allah??? Kalo Partai Jenggot Sejahtera sih wajar teriak-teriak takbir!&#8221; Sejak kapan partai politik jadi agama baru? Sejak lama, dan kita tak juga menjadi pintar!</p>
<p>Konon di pemilu kali ini, yang menang justru dari sebuah partai <em>grassroot</em>. Namanya Golongan Putih! jika benar demikian, maka tingkat atau level skeptisme negara ini sedemikian tingginya.</p>
<p>Dan seperti yang sering saya bilang, saya sama sekali tak akan memilih golput dalam pemilu ini. Hanya saja, saya tak terdaftar sebagai pemilih. Itu saja! <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kampanye, apapun ceritanya banyak menyisakan kisah pilu. Atau jangan-jangan benar adanya soal rumor yang mengatakan bahwa pemilu itu berasal dari kata pilu. Pemilu, pembuat pilu?</p>
<p>&#8212;-Foto diambil dari <a title="kampanye" href="http://media.vivanews.com/thumbs/63710_atribut_kampanye_pemilu_partai_thumb_800_.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/03/29/dagelan-pabrik-skeptisme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
