<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>bangpay.org</title>
	<atom:link href="http://bangpay.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangpay.org</link>
	<description>Grundelan, ngunandika, ngomyang dan ngromed di kala senggang.        Sekedar mampir ngombe di jagad maya.</description>
	<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:22:52 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kartini</title>
		<link>http://bangpay.org/2010/04/22/kartini/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2010/04/22/kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 08:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[freemason]]></category>

		<category><![CDATA[gender]]></category>

		<category><![CDATA[julia perez]]></category>

		<category><![CDATA[jupe]]></category>

		<category><![CDATA[kartini]]></category>

		<category><![CDATA[modern]]></category>

		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengetahui bahwa kemarin adalah Hari Kartini karena rekan sejawat di kantor mengucapkan “Selamat Hari Kartini” kepada saya. Ya, kepada saya. Sebuah seloroh dengan maksud tak lain dan tak bukan kecuali untuk bercanda di pagi hari sebelum berkutat dengan angka dan angka.

Namun bagi saya, sekali lagi bagi saya, seandainya diseriusi, ndak salah juga kalau hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengetahui bahwa kemarin adalah Hari Kartini karena rekan sejawat di kantor mengucapkan “Selamat Hari Kartini” kepada saya. Ya, kepada saya. Sebuah seloroh dengan maksud tak lain dan tak bukan kecuali untuk bercanda di pagi hari sebelum berkutat dengan angka dan angka.</p>
<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/memo-ibubijak-bni.jpg" alt="Ibu Bijak? Kartini Modern?" width="400" height="222.4" /></p>
<p><span id="more-98"></span>Namun bagi saya, sekali lagi bagi saya, seandainya diseriusi, <em>ndak</em> salah juga kalau hari kartini itu seharusnya lebih sering dibahas oleh kami para kaum pejantan. Kenapa? Agar tidak timpang.</p>
<p>Maksudnya jika melulu tanggal 21 April dibahas oleh mayoritas perempuan se-nusantara namun para kaum adam-nya <em>cuek bebek</em>, maka yang ada hanyalah dua sisi yang berbeda yang seolah-olah saling berperang.</p>
<p>Di satu sisi para perempuan berjuang, ingin berjuang, ikut berjuang atau kadang-kadang berjuang demi posisi perempuan yang lebih baik terutama di mata laki-laki. Di sisi lain para laki-laki berdebar-debar tak sadar menunggu perhelatan akbar <a href="http://sekadarblog.com/2010/02/04/tahun-piala-dunia/">Piala Dunia</a>, misalnya.</p>
<p>Buat orang seperti saya membicarakan Hari Kartini dan segala <em>uba rampe</em>-nya sering membuat serba salah dan perbincangan menjadi sering terlalu luas dan ruwet. Pernah saya berbicara soal Kartini tiba-tiba ada yang menyahut :</p>
<p>“Mas tahu <em>tho</em> kalo sebenarnya ada agenda sekte <em>freemason</em> dalam sejarah Kartini??”</p>
<p>Nah lho!</p>
<p>Pernah juga ketika obrolan ringan sambil minum es dawet soal Kartini berujung pada kesetaraan gender dilihat dari sisi agama. Lagi-lagi saya jadi serba salah. Maklum kawan-kawan saya semuanya laki-laki. Sehingga saya takut jika obrolan diteruskan, obrolan yang <em>gayeng </em>dan hangat soal kekeliruan pandangan masyarakat Indonesia soal kesetaraan gender hanya lantaran para bapak takut para istri jadi berani dan <em>ndak</em> mau nurut dengan mereka lagi.</p>
<p>Oleh karena itu saya jarang mbahas Kartini. Soal pendapat saya bahwa beliau lebih sebagai korban akan jamannya, bukan pahlawan, saya kubur dalam-dalam. Buat para wanita, Kartini adalah pahlawan. Namun samakah jeritan hati Kartini dengan rengekan para wanita modern jaman sekarang?</p>
<p>Kartini, bagaimanapun juga tak pernah (setidaknya dalam banyak literatur yang saya baca) ingin minggat, kabur ke <em>Hollywood</em> dan mencoba peruntungannya sebagai artis, misalnya. Atau mengisi status Facebook-nya dengan caci maki kepada ayahnya ataupun suaminya. Dia, bagaimanapun juga tetap mengabdi, menjadi istri bagi suami yang dipilihkan (dipaksakan) untuknya. Meski sang suami adalah lelaki tua, gendut dan telah berbini tiga.</p>
<p>Kartini juga <em>ndak</em> pernah berhasrat untuk menjadi adipati untuk lantas bisa berkacak pinggang di depan suaminya yang Adipati Rembang itu. Yang ia damba adalah kesetaraan. Bukan kesamaan, seperti yang banyak diterjemahkan di masa kini.</p>
<p>Tentang wanita seharusnya tak hanya melulu ngurusin dapur, namun bukan lantas absen dari dunia dapur sama sekali. Tentang wanita yang bukan hanya sebagai mesin pemuas laki-laki dan pabrik pembikin anak, namun banyaknya jumlah perempuan <em>single parent</em> tentulah bukan cita-cita Kartini.</p>
<p>“Menjadi perempuan sebaik mungkin dalam setiap peran yang diemban, bukan mengejar mimpi setinggi mungkin, apalagi untuk gantian menjajah kaum pria. Bukan!” lamat-lamat saya teringat kalimat Guru SMA saya. Soal Hari Kartini jadi jalan para pebisnis untuk memasarkan produknya atau Hari Kartini hanya diidentikkan dengan <a href="http://memo.blogombal.org/2010/04/21/hari-kartini-kenapa-harus-berkebaya/">hari berkebaya</a>, itu soal lain.</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_UNZz5vcZ06E/S3Nt1VU6_LI/AAAAAAAAAKY/Hcbs-UkmIfU/s320/Biografi+Julia+Perez+-+Artis.jpg" alt="Suster Jupe" /></p>
<p>Jika saja, dan andai saja saya bisa mengajak Kartini nonton televisi, tentu bukan tayangan soal Gayus atau Susno apalagi soal Century. Saya akan carikan berita soal Jupe yang nyalon jadi wakil bupati Pacitan. Dan tentu saya siapkan juga mobil ambulan, takut kalau beliau nanti jatuh pingsan.</p>
<p>KETERANGAN :<br />
-  Gambar &#8220;Ibu Bijak versi BNI&#8221; diambil dari <a href="http://memo.blogombal.org/2010/04/09/ibu-indonesia/">paman</a>.<br />
-   Gambar Suster Jupe, diambil dari <a href="http://gudang-biografi.blogspot.com/2010/02/biografi-julia-perez-biografi-artis.html">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2010/04/22/kartini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngangsu!</title>
		<link>http://bangpay.org/2010/04/09/ngangsu/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2010/04/09/ngangsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 12:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cekeremes]]></category>

		<category><![CDATA[bapak]]></category>

		<category><![CDATA[Kantor]]></category>

		<category><![CDATA[kerja]]></category>

		<category><![CDATA[kinerja]]></category>

		<category><![CDATA[ngangsu]]></category>

		<category><![CDATA[PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Teringat jaman kecil dulu, saya berasal dari keluarga kelas menengah meski tak bisa dibilang ke atas. Untuk urusan kebutuhan air, keluarga kami tak perlu keluar tenaga untuk menimba air dari sumur karena kami mempunyai pompa listrik. Jaman itu di desa kami jelas belum ada air ledeng yang disuplai PDAM, misalnya. Dan jumlah pemilik pompa air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teringat jaman kecil dulu, saya berasal dari keluarga kelas menengah meski tak bisa dibilang ke atas. Untuk urusan kebutuhan air, keluarga kami tak perlu keluar tenaga untuk menimba air dari sumur karena kami mempunyai pompa listrik. Jaman itu di desa kami jelas belum ada air ledeng yang disuplai PDAM, misalnya. Dan jumlah pemilik pompa air bertenaga listrik masih bisa dihitung.</p>
<p><img src="http://www.galeri.maswahyu.com/albums/userpics/sumur.jpg" alt="sumur" width="400" height="300" /></p>
<p><span id="more-97"></span>Namun, Bapak saya seringkali menyuruh saya untuk menimba air atau yang dalam bahasa jawa disebut <em>ngangsu</em>. Beliau membeli sebuah katrol yang biasa digunakan untuk meletakkan tali timba yang terbuat dari karet seperti karet ban luar mobil, dan jadilah alat <em>ngangsu</em>.</p>
<p>Jaman saya SD, tak banyak penjelasan dari Beliau soal kewajiban saya untuk sekali-kali <em>ngangsu</em>, minimal  <em>ngangsu </em>air untuk kebutuhan saya mandi. Paling-paling, biar badanmu gede, nggak kerempeng kayak sekarang. Ya, kala itu memang badan saya kecil dan kurus dibandingkan anak-anak sebaya saya.</p>
<p>Masuk jaman SMP, penjelasan Bapak mulai bertambah, meski kala itu tak juga me<em>mudeng</em>kan saya. Biar kamu sehat! Biar kamu menghargai tiap tetes air yang kamu gunakan, kata Beliau. Atau, biar kamu minimal pernah <em>ngangsu</em>, siapa tahu nanti pas udah gede kamu jadi orang gajian yang ndak perlu <em>ngangsu</em>.</p>
<p>Maafkan keleletan otak saya. Jaman SMA-lah saya baru paham istilah orang gajian tak perlu ngangsu yang didengung-dengungkan kepada saya.</p>
<p>Sekarang kala kerja, saya kembali teringat ucapan Bapak saya itu. Dimana-mana, di semua instansi dan kantor banyak saya temui orang-orang yang digaji padahal mungkin hanya bekerja ala kadarnya atau bahkan ada yang sama sekali ndak ngapa-ngapain. Di sinilah mungkin maksud Bapak saya soal digaji tapi <em>ora ngangsu</em>.</p>
<p>Ya perilaku orang ngantor kan macem-macem. Ada yang banting tulang ngerjain kerjaan sendiri, ada yang ngerjain kerjaan sendiri dan kerjaan orang lain, ada yang ngerjain kerjaan orang lain, ada yang ndak tau malu sama sekali ndak kerja. Biasanya orang dengan tipe terakhir justru yang paling jempolan di mata bos kalau bukan jadi yang paling jelek tentu saja.</p>
<p>Buat sampeyan yang jengah melihat banyak PNS cuman ngantor trus bengong, untuk tidak su&#8217;udzon-nya ya <em>anggep</em> saja beliau itu memang lagi ndak ada kerjaan. Pegawai yang bengong tentu saja susah dibandingin dengan pegawai yang nampak serius di depan komputer padahal main game atau internetan. khusnudzon sajalah.</p>
<p>Soal PNS, kalau ingat tugas saya, kalau memang lagi ndak ada kerjaan ya beneran ndak ada yang bisa saya kerjaan. Kalau saya lancang ngerjain kerjaan yang bukan tanggung jawab saya biasanya ada dua kemungkinan yang akan muncul. Pertama saya dianggap kemeruh, sok tau dan sok mau paling rajin sampai-sampai saya nyerobot kerjaan orang lain.</p>
<p>Kedua, ini yang paling sial. Orang yang pekerjaannya saya kerjakan justru malah akan tuman dan nanti akan mengandalkan saya dalam pekerjaannya. Bahaya tho?</p>
<p>Lalu apa gunanya PNS bengong? Saya yakin PNS yang 100% lagi ndak ada kerjaan tapi dia memilih untuk bengong di kantor masih lebih baik daripada mereka-mereka yang nganggur tapi mutusin untuk pulang setelah absen pagi untuk lalu kembali ngantor kala absen sore tiba. <img src='http://bangpay.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenernya alasan kuat untuk bengong di kantor itu jika bener-bener ndak ada kerjaan. Untuk pegawai macam saya yang jelas SOP (Standar Operating Procedure) dan Tupoksi-nya bisa saja saya bener-bener bengong. Lain dengan pegawai yang ndak jelas tugas dan tanggung jawabnya, sebenarnya buat mereka ndak ada alasan untuk bengong.</p>
<p>&#8212;pembenaran pribadi</p>
<p>Nah, apapun kerjaannya, <em>ngangsu</em>-kah anda?</p>
<p>KETERANGAN :<br />
- Gambar diambil tanpa ijin dari <a href="http://www.galeri.maswahyu.com/albums/userpics/sumur.jpg">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2010/04/09/ngangsu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Petugas Pajak Ketiban Awunya Gayus</title>
		<link>http://bangpay.org/2010/03/31/ketika-petugas-pajak-ketiban-awunya-gayus/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2010/03/31/ketika-petugas-pajak-ketiban-awunya-gayus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 10:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kantor]]></category>

		<category><![CDATA[Direktorat Jenderal Pajak]]></category>

		<category><![CDATA[DJP]]></category>

		<category><![CDATA[Gayus]]></category>

		<category><![CDATA[Gayus Tambunan]]></category>

		<category><![CDATA[GT]]></category>

		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<category><![CDATA[pajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari terakhir memang bukan hari yang baik bagi kami, para petugas pajak. Hari-hari yang tiba-tiba seperti bisul pecah. Tiba-tiba semua seolah menghakimi. Tiba-tiba banyak pakar yang mengaku mengerti soal prosedur dan birokrasi pajak. Tiba-tiba saja banyak pribadi yang merasa telah banyak membayar uang sehingga merasa telah sia-sia menghamburkan uangnya dengan membayar pajak.

Diakui, ini semua berawal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari terakhir memang bukan hari yang baik bagi kami, para petugas pajak. Hari-hari yang tiba-tiba seperti bisul pecah. Tiba-tiba semua seolah menghakimi. Tiba-tiba banyak pakar yang mengaku mengerti soal prosedur dan birokrasi pajak. Tiba-tiba saja banyak pribadi yang merasa telah banyak membayar uang sehingga merasa telah sia-sia menghamburkan uangnya dengan membayar pajak.</p>
<p><img src="http://img94.imageshack.us/img94/1158/kamibencikorupsi1.jpg" alt="Kami benci korupsi!!!" /></p>
<p><span id="more-96"></span>Diakui, ini semua berawal dari salah satu oknum yang juga bekerja di <a href="http://pajak.go.id">Direktorat Jenderal Pajak</a> yang berinisial GT.</p>
<p>Dan tiba-tiba saja banyak yang lupa bahwa para petugas manusia itu juga hanyalah para manusia yang jelas tak luput dari salah dan dosa. Bukannya saya mau membela GT, GT dalam hal ini memang terbukti bersalah. Salah dalam hal yang saya tahu saja. Saya tidak ikut menyidik GT. Saya juga tidak dan tidak bisa apalagi berhak untuk mengecek isi rekening GT. Makanya sebatas itu saya menganggap GT bersalah.</p>
<p>Saya <em>ndak</em> berhak menilai akhlak GT, lantaran saya <em>ndak</em> tahu. Soal dia misalnya terlibat tindak pidana, toh saya  <em>ndak</em>tahu kejadian sebenarnya, apa yang mendorongnya, apa yang memotivasinya, apa yang merasukinya, keinginan pribadi atau didorong atau dipaksa atau bahkan sedang sial saja terjebak keadaan. Intinya saya dan sampeyan semua seharusnya, menempatkan diri masing-masing dalam posisi tidak tahu.</p>
<p>Adalah hak dan kewajiban saya dan juga sampeyan untuk mencari tahu. Jelas sarana paling masuk akal bukan dengan mendatangi dukun, normalnya kita merujuk pada media. Baik media cetak, internet maupun yang paling dipelototin manusia di jagad ini ya melalui televisi.</p>
<p>Buat yang rajin <em>pencet-pencet</em> tombol ganti channel saat menyaksikan televisi, termasuk saat berburu berita untuk kemudian mendapati bahwa banyak perbedaan isi berita yang ditayangkan masing-masing stasiun televisi, jangan heran. Itu hal yang wajar dan manusiawi, berhubung yang menjalankan stasiun televisi itu masih sama seperti kita-kita para manusia juga.</p>
<p>Namun hal itu jangan lantas menjadi pembenaran bagi kita untuk lebih meyakini kebenaran isi berita hanya dari sudut pandang stasiun televisi mana yang beritanya paling <em>serem</em> maka itulah yang paling <em>bener</em>. Kita jelas sudah lepas dari jaman dimana media dikuasai dan dibuat bertekuk lutut oleh rezim pemerintahan, sehingga yang harus kita lakukan dengan sedemikian bervariasinya berita adalah dengan melakukan <em>cross-check</em>. Kembali, <em>cross-check</em> ini bukan kepada dukun, ini semua tergantung <em>sampeyan</em> lah mana yang terbaik untuk dijadikan referensi.</p>
<p>Sebagaimana tak semua kyai itu suci hama, kita tak bisa juga mengatakan bahwa semua kyai itu laknat. Seperti halnya kita sering mendengar ungkapan bahwa di negeri ini bahwa hampir semua koruptor (kelas kakap) yang beragama islam itu pasti minimal sudah pernah naik haji satu kali, namun kita ndak bisa membalik dengan berujar bahwa setiap yang naik haji itu adalah para koruptor.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan para petugas pajak yang berjumlah lebih dari 32.000 orang yang <em>sumebar</em> tersebar di seluruh nusantara? Kiranya sama saja.</p>
<p>Saya juga petugas pajak. Masa kerja saya tercatat sudah 7 tahun 10 bulan lebih, dan saya bangga. Kenapa? Saya bangga karena telah berhasil membuat bangga keluarga saya. GT pun pasti bangga telah berhasil membuat bangga keluarganya. <strong>Bedanya terletak pada definisi keberhasilan itu sendiri. </strong>Saya bahkan pernah menuliskan berbagai pertanyaan salah kaprah orang-orang yang saya temui di lapangan soal pajak <a href="http://bangpay.org/2008/06/10/melawan-mitos-tentang-orang-pajak/">di sini</a>.</p>
<p>Meski sedih, saya bangga tatkala tak bisa begitu banyak membantu bapak ibu saya yang gagal panen lelenya, misalnya. Atau ndak bisa banyak membantu secara finansial kepada adik saya yang tengah dilanda bencana banjir di Karawang. Atau menunda membelikan laptop guna keperluan kuliah adik bungsu saya. Ponsel untuk adik ipar saya, dan sebagainya.</p>
<p><a href="http://bini.bangpay.org/">Istri saya</a>, yang atasnya saya benar-benar berterima kasih kepada Gusti Allah dimana saya jelek-jelek begini dikaruniai istri macam dia. Hidup sederhana dalam suka dan duka, <em>rain or sunshine </em>dia tetep <em>keukeuh</em> mendampingi saya. Tak banyak yang dia tuntut secara finansial dari saya. Yang dia minta hanyalah kebutuhan primer kami terutama kebutuhan anak sulung kami, <a href="http://bangpay.org/2008/09/15/lanang-sabrang-baruna-aji/">Si Sabrang</a>. Dia tahu <em>take home pay</em> saya tiap bulannya, sehingga dia selalu menanyakan jika saya memegang uang melebihi hak saya.</p>
<p>Di situlah letak kebanggaan saya. maka saya, juga banyak teman-teman sejawat saya, bersedih bahkan menitikkan air mata atau selebihnya geram bukan kepalang sebagai respon atas imbas kasus GT. Saya dalam meyakini bahwa masih banyak petugas pajak yang hidup bersih dan lurus, sama yakinnya akan masih banyaknya manusia di muka bumi ini yang sayang dengan planet yang mereka tinggali.</p>
<p>Makanya buat siapapun, cermati dulu sebelum lebih jauh dalam menanggapi kasus GT ini. Buat kawan-kawan petugas pajak, <em>ndak</em> usah bersedih,  <em>ndak</em>usah juga marah-marah. Sesuai instruksi Pak Tjip,  <a href="http://pajak.go.id">Direktur Jenderal Pajak</a> , marilah kita terus bekerja sepenuh hati mengamankan penerimaan negara. Bagi para wajib pajak, sudah saatnya <em>panjenengan</em> semua untuk lebih mengenal pekerjaan kami dan bagaimana kami bersinergi.</p>
<p>Setelah usai bersedih atau geram, banyak dari kami terbahak-bahak menyaksikan ulah beberapa orang yang dengan penuh <em>gusto</em> mencoba menyebarkan aura negatif seperti membuat grup sekian juta pengguna sebuah situs jejaring sosial. Apa pasal? Sebagaimana beberapa orang yang kami temui langsung di lapangan yang secara terus terang mencaci maki kami, selalu kami temukan bahwa sesuangguhnya mereka tak mengenal kami dan bagaimana kami bekerja.</p>
<p><img src="http://img408.imageshack.us/img408/5899/kamibencikorupsi2.jpg" alt="karena nila setitik, rusak DJP se-Indonesia" /></p>
<p>Secara pribadi saya temui mantan calon anggota legislatif yang gagal dalam PEMILU kemarin mencecar saya  dengan fakta bahwa saya adalah petugas pajak dan lulusan STAN, sama seperti GT. Berhubung saya sedang menyantap ayam goreng, maka saya biarkan beliau <em>ngoceh</em> kesana kemari berusaha meyakinkan saya dan para pelanggan lain di warung makan tempat saya makan malam pada sore hari itu.</p>
<p>Setelah selesai berorasi dan diamini saya jadi panas tatkala beliau berujar : &#8220;Tuh kan&#8230; Masnya diam saja.. <span style="text-decoration: underline;">Orang kalau salah pasti ndak bisa bicara apa-apa!</span>.&#8221;</p>
<p>Setelah mengelap sisa nasi di mulut saya jawab dengan setenang-tenang dan seartikulatif mungkin. Begini, semangat yang Bapak tunjukkan barusan itu membuat saya bangga karena dengan begitu Bapak telah membuktikan kecintaan Bapak akan negeri ini. Namun sebagaimana kita dalam urusan mencintai istri kita, kita harus mengenalnya. maka maaf lho pak kalo ada beberapa hal yang harus saya garis bawahi.</p>
<p>Pertama, <span style="text-decoration: underline;">saya diam karena sedang berusaha mengunyah ayam goreng</span>, lapar seharian penuh perut belum diisi. Lalu selanjutnya soal bahwa uang yang telah bapak bayar itu sia-sia karena dikorupsi semua orang pajak itu pembuktiannya bagaimana? Bapak jelas-jelas mengaku baru membuat NPWP saat dicalonkan sebuah partai untuk menjadi anggota legislatif. Dan semua jenis pajak yang bapak katakan telah Bapak bayar itu ndak ada <em>po-bengkong </em>alias sangkut pautnya dengan GT apalagi Direktorat Jenderal Pajak, pak. Jadi, Pajak Restoran (PPb I), Pajak Hotel, Pajak Kendaraan Bermotor itu bukan wewenang DJP untuk mengurusnya. Dan soal bayar pajak ke kantor pajak terus duitnya buat makan-makan itu darimana dasarnya? <em>Wong mbayar</em> pajak itu kalo ndak di Bank (persepsi) ya di Kantor Pos lho, pak. Di Kantor Pajak itu cuma tempat melaporkan atas segala kewajiban pajak yang ditunaikan.</p>
<p>Meski miris saya masih punya keyakinan akan bangsa ini, sebab meski kadang lucu, rasa cinta tanah air ini sebenarnya masih ada. Yang diperlukan adalah arah dan arahan yang benar. dan itu adalah tanggung jawab semua pihak.</p>
<p>Jadi, demi negeri ini, mari kita ikut membangun dengan menjadi sebaik-baiknya warga negara. Sebisa kita, semampu kita. <strong>Buat para Wajib Pajak, jangan takut, tetap bayar dan laporkan pajak anda!</strong></p>
<p>KETERANGAN :</p>
<p>- Ketiban Awu, (kejatuhan abu) istilah dalam literatur jawa yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi tengah dilanda musibah atau celaka, lawan dari &#8220;Kejatuhan Duren&#8221; yang diartikan sedang mendapatkan rejeki. Padahal realitasnya kita akan lebih merasa beruntung jika kejatuhan abu daripada kejatuhan durian.</p>
<p>- Gambar diambil dari banner situs portal internal (intranet)  <a href="http://pajak.go.id">Direktorat Jenderal Pajak</a> , diambil tanpa ijin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2010/03/31/ketika-petugas-pajak-ketiban-awunya-gayus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Petik</title>
		<link>http://bangpay.org/2010/03/01/tanda-petik/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2010/03/01/tanda-petik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 01:02:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cekeremes]]></category>

		<category><![CDATA[Kantor]]></category>

		<category><![CDATA[pegawai]]></category>

		<category><![CDATA[pemilukada]]></category>

		<category><![CDATA[Pilkada]]></category>

		<category><![CDATA[tanda petik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.
Bukan hal yang baru kalau di media massa saat ini si tanda petik (terutama yang dua petik) sering dicantumkan pada sebuah kata untuk menandakan ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanda petik belakangan menarik perhatian saya. Sebuah tanda baca dalam penulisan ini semula dimaksudkan untuk menuliskan kalimat langsung atau untuk menegaskan sesuatu seolah hendak mengajak ngobrol saya tentang nasibnya saat ini.</p>
<p><span id="more-95"></span>Bukan hal yang baru kalau di media massa saat ini si tanda petik (terutama yang dua petik) sering dicantumkan pada sebuah kata untuk menandakan ada yang aneh, janggal atau mencurigakan. Bahkan dalam obrolan sudah banyak manusia yang dengan sengaja membuat tanda dengan jari (telunjuk dan jari tengah) dengan kedua tangannya untuk menegaskan kata yang ia ucapkan. Anda?</p>
<p>Nah, tanda petik yang meresahkan saya adalah tatkala saya menemukan jargon kampanye seorang calon kepala daerah. Anggap saja kalimat itu berbunyi: Mari &#8220;kita&#8221; lanjutkan &#8220;Pembangunan&#8221;!!.</p>
<p>Anda tentu bisa mengira calon tersebut dari partai mana namun bukan itu intinya karena toh calon dari partai lain juga (ada) yang melakukan kesalahan penulisan yang sama atau bahkan lebih parah.</p>
<p>Saya yang suka cerewet akan segala sesuatu yang dipampang di tempat umum dimana dari anak SD sampai kakek tua renta jelata bisa membacanya menjadi bingung dengan penambahan tanda petik pada kata &#8220;kita&#8221; dan &#8220;pembangunan&#8221;.</p>
<p>Pertanyaan yang timbul adalah siapa dari kata &#8220;kita&#8221; yang dimaksudkan oleh tim sukses calon bupati tersebut? Kita seluruh manusia? Rakyat Indonesia? Warga di kabupaten itu? Pemda-nya? Tim suksesnya? Lalu apa makna &#8220;pembangunan&#8221; yang mereka pakai sehingga perlu diimbuhi tanda petik?</p>
<p>Banyak dari kita, apalagi saya salah menggunakan tanda petik dalam kehidupan. Maksudnya tanda petik dalam hal menegaskan sesuatu. Kita keliru menanda petiki diri kita. Apa yang harusnya dicetak dalam ukuran huruf kecil kita cetak besar-besar, bold dan pakai garis bawah, tak lupa kita bubuhi tanda petik.</p>
<p>Seorang bapak melarang anaknya merokok sedangkan buat si anak ia membaca tanda yang sangat jelas, dalam tanda petik, bahwa bapaknya, sang <em>patriarch</em>, suri tauladan, adalah seorang perokok berat. Seorang ibu yang melarang anak perempuannya yang sudah remaja untuk tidak bergosip, sedang dalam tanda petik besar sang ibu rajin <em>ngumpul</em> dengan ibu-ibu komplek lainnya tidak lain dan tidak bukan untuk bergosip.</p>
<p>Di dunia kerja kita juga <em>nemu</em> tanda petik yang kurang tepat. Seorang pegawai apalagi PNS, sibuk menandapetiki bahwa ia tak pernah telat absen, baju rapi, sepatu mengkilap, sedang soal kerjaan malah nol besar. Atau pegawai yang sibuk menandapetiki pegawai lain untuk dilaporkan kepada atasan dengan reward kepercayaan yang tinggi dari <em>big boss</em>, meski mulutnya jadi berbau pantat karena terlalu banyak menjilat.</p>
<p>Para bos, kadang juga keliru memberi tanda petik kepada anak buahnya. Seorang pegawai yang kerja banting tulang, minum bergelas-gelas kopi saat lembur, kurang tidur sehingga keesokan harinya datang ke kantor dengan acak-acakan dihadiahi dengan semprotan di pagi hari hanya karena penampilannya tersebut dari bos-bosnya secara birokratis.</p>
<p>Nah, sebagai manusia, apa yang <em>sampeyan</em> tanda petiki? Berhubung dalam hidup, banyak sekali yang membaca &#8220;kita&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2010/03/01/tanda-petik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mudik Online</title>
		<link>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 23:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[13897]]></category>

		<category><![CDATA[bini]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<category><![CDATA[kereta]]></category>

		<category><![CDATA[Lanang]]></category>

		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<category><![CDATA[mudik]]></category>

		<category><![CDATA[online]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat terbang]]></category>

		<category><![CDATA[PT. KAI]]></category>

		<category><![CDATA[purwokerto]]></category>

		<category><![CDATA[ternate]]></category>

		<category><![CDATA[tiket]]></category>

		<category><![CDATA[tiket kereta]]></category>

		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari menjelang lebaran, meski Ramadhan masih sangat belia, isi kepala perantau macam saya jelas sudah penuh dengan bayangan akan pulang kandang ke kampung halaman. Sudah empat kali lebaran saya tidak mudik ke Jawa. Atas nama penghematan, pekerjaan maupun pertimbangan lain, saya justru lebih sering pulang (ke Jawa) di luar hari lebaran.

Tiga kali lebaran saya lewatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari menjelang lebaran, meski Ramadhan masih sangat belia, isi kepala perantau macam saya jelas sudah penuh dengan bayangan akan pulang kandang ke kampung halaman. Sudah empat kali lebaran saya tidak mudik ke Jawa. Atas nama penghematan, pekerjaan maupun pertimbangan lain, saya justru lebih sering pulang (ke Jawa) di luar hari lebaran.</p>
<p><img src="http://rollit.roll.co.id/area%2051/sites/roll/leisure/images/stories/lionairplane.jpg" alt="Pesawat Lion Air" width="385" height="256" /></p>
<p>Tiga kali lebaran saya lewatkan di tanah kelahiran <a title="Blog Bini" href="http://bini.bangpay.org" target="_blank">istri saya</a> di Gorontalo dan satu kali saya berlebaran di Ternate. Jadi dengan semangat, tekad dan tabungan yang ada, saya beserta istri sepakat akan merayakan lebaran kali ini di Jawa.</p>
<p><span id="more-94"></span>Ternyata mempersiapkan segala sesuatu untuk mudik kali ini cukup repot. Pertama soal transportasi. Kampung saya itu terletak di lutut gunung tertinggi nomor dua di pulau Jawa. Jadi dari Gorontalo, tempat saya mengambil start mudik saya harus naik pesawat ditambah dengan perjalanan darat. Harga tiket (pesawat) jelas menjadi pertimbangan yang bukan main bolehnya saya serius menentukan hari mudik.</p>
<p>Tentu menentukan tanggal mudik bagi saya dan istri yang sama-sama abdi negara di departemen yang sama menjadi sebuah kesulitan tersendiri. Saya dan juga istri harus mempertimbangkan volume tunggakan pekerjaan, sisa jatah cuti, kebijakan Kepala Kantor dan lain-lain yang membuat kami sering gregetan sendiri.</p>
<p>Alhamdulillah, ada yang sudah mathuk gathuk antara hari yang tepat dengan harga tiket yang murah. Tanggal 19 September. Seperti biasa, saya membeli tiket secara online. Bukan lantaran sok hi-tech namun lebih karena malas bolak-balik ke agen tiket baik secara langsung maupun via telepon.</p>
<p>Rencananya saya pulang-pergi akan menggunakan maskapai yang berlogo singa. Mudik akan ditempuh dengan penerbangan Gorontalo – Makassar, lalu Makassar – Jakarta dan Jakarta – Jogja. Dan sesampainya di Jogja nanti, saya, Bini dan juga Lanang akan dijemput oleh keluarga saya dengan mobil. Lalu untuik balik saya akan menempuh perjalanan darat dari Purwokerto menuju Jakarta disambung dengan penerbangan langsung tanpa transit dari Jakarta ke Gorontalo.</p>
<p>Nah perjalanan darat inilah yang merupakan pengalaman baru bagi saya dimana saya untuk kali pertama <a title="booking tiket kereta" href="http://infoka.kereta-api.com/i/template/juklak%20e-tiketing.pdf" target="_blank">membeli tiket kereta secara online</a>. On line telepon, bukan internet! Sebagai pemalas dan tipikal bangsa Indonesia yang nyari gampang, sebelumnya saya menghubungi kawan karib saya yang kebetulan punya hubungan dekat dengan dunia perkeretaapian agar beliau mencarikan tiket kereta lewat pintu belakang. Jawaban kawan saya membuat takjub.</p>
<p><img src="http://akuinginhijau.files.wordpress.com/2007/07/argo_bromo.jpg" alt="Kereta Api" width="400" height="248" /></p>
<p>“Ndak bisa lagi, Pay! Sekarang jauh lebih ketat dari yang sebelumnya.. Aku saja gak dapet…”</p>
<p>Nah dari situlah saya mencari tiket via telepon. Menggunakan ponsel GSM (PT. KAI bilang belum bisa booking tiket pake ponsel CDMA) saya menghubungi nomor 13897 dan disambut oleh Mbak Operator. Oleh beliau saya ditanyakan tujuan dan tanggal keberangkatan, lalu dicarikan kereta yang bisa saya pilih. Pilihan saya jatuh kepada Taksaka Pagi seperti kepulangan saya di tahun baru 2009 kemarin. Sayangnya semua kursi sudah full booked.</p>
<p>Tak menyerah, dengan pola pikir bahwa tak semua orang yang beli tiket online akan membayarnya, maka saya juga mikir jangan-jangan ada orang yang sudah booking namun tidak membayarnya. Alasannya bisa macem-macem. Entah nemu alternatif kereta atau transportasi yang lebih baik, atau kelupaan sehingga batas pembayaran yang 3 jam dari waktu booking terlewati.</p>
<p>Saya telepon kembali. Kali ini Mbak Operatornya beda dengan yang pertama, namun nasib masih belum berpihak pada saya, kereta masih <em>full booked</em>. Lima menit kemudian saya telepon kembali, masih saja full. Sepuluh menit kemudian dengan sedikit <em>aras-arasen</em> alias males, saya telpon kembali, eh syukur <em>ngalkamdulillah</em>-nya ada kursi kosong sebanyak 4 buah!</p>
<p>Kemudian Mbak Operator menanyakan nama, alamat identitas saya. Karena lewat telpon yang belum tentu setiap saat terjamin kualitas kejernihan suaranya, saya harus berulang kali menyebutkan nama dan alamat saya sesuai dengan KTP saya.</p>
<p>Misalnya ketika menyebutkan Ternate, saya sampai harus mengejanya baik pake coro nginggris maupun pake <em>coro ndeso</em>. Tapi si Mbak akhirnya paham ketika saya eja dengan Teleprompter&#8230;. Eragon&#8230;. Rhapsody&#8230;. Namibia&#8230;. Alkohol&#8230;. Telek&#8230;. Enak!!!!</p>
<p>Lalu saya diberi nomer kode booking saya yang diperlukan untuk membayar via ATM. Setelah membayarnya via ATM, saya diwajibkan menyimpan slip ATM tersebut untuk ditukarkan dengan tiket yang sebenarnya di stasiun.</p>
<p>Cukup praktis, meski nampak ribet. Salut buat PT. KAI! Calo memang ada tapi perubahan itu cukup terlihat kok, bos… Jadi inget para blogger, fesbuker, twitterer, plurker atau forumer yang mencaci maki PT. KAI tanpa ampun. Ndak tahu saja mereka kalo merubah sesuatu di negeri ini itu bukan main susahnya. Ya sarananya, ya pejabatnya, ya lingkungannya, ya kepentingan ekonominya, ya transaksi politisnya, ya masyarakatnya, ya mentalnya… Ah! Pokoke salut!!!</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR :<br />
-  Gambar Pesawat dari <a title="Pesawat Singa" href="http://rollit.roll.co.id/area%2051/sites/roll/leisure/images/stories/lionairplane.jpg" target="_blank">sini</a>.<br />
-  Gambar Kereta Api dari <a title="Kereta Api" href="http://akuinginhijau.files.wordpress.com/2007/07/argo_bromo.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2009/09/02/mudik-online/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
