<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>bangpay(dot)org</title>
	<atom:link href="http://bangpay.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangpay.org</link>
	<description>Kumpulan Tulisan. Koleksi Kutipan. Pamer Gambar. Atau Grundelan Yang Mungkin Tak Penting Buat Anda. Tapi Penting Buat Saya.</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 06:15:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Manusia Ulang Alik</title>
		<link>http://bangpay.org/2008/08/21/manusia-ulang-alik/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2008/08/21/manusia-ulang-alik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 06:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[bayi]]></category>

		<category><![CDATA[bini]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[kelahiran]]></category>

		<category><![CDATA[limboto]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<category><![CDATA[sulawesi utara]]></category>

		<category><![CDATA[trans sulawesi]]></category>

		<category><![CDATA[uka]]></category>

		<category><![CDATA[umar kayam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Kepulangan terakhir saya ke kampung istri saya hari selasa kemarin (12/08/2008), makin mengukuhkan saya sebagai –meminjam istilah Umar Kayam– manusia ulang alik. Istilah ulang alik disini memang bisa bermakna sebagai keadaan perpindahan jasmani tapi bisa saja kondisi spiritual kita.

Konon inti sari kehidupan manusia itu adalah perjalanan itu sendiri sehingga lalu muncul istilah “urip kuwi mung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepulangan terakhir saya ke kampung istri saya hari selasa kemarin (12/08/2008), makin mengukuhkan saya sebagai –meminjam istilah <a title="Umar Kayam Yang Saya Kagumi Itu..." href="http://en.wikipedia.org/wiki/Umar_Kayam" target="_blank">Umar Kayam</a>– manusia ulang alik. Istilah ulang alik disini memang bisa bermakna sebagai keadaan perpindahan jasmani tapi bisa saja kondisi spiritual kita.</p>
<p><img src="http://img355.imageshack.us/img355/9360/kotalimbotowa9.jpg" alt="Kota Limboto" /></p>
<p><span id="more-53"></span>Konon inti sari kehidupan manusia itu adalah perjalanan itu sendiri sehingga lalu muncul istilah <em>“urip kuwi mung mampir ngombe”</em>, dimana hidup diumpamakan hanya sekedar mampir minum (di tengah sebuah perjalanan panjang). Dan jelas lagi-lagi kata perjalanan bermakna jasmani dan rohani.</p>
<p>Menjadi bujang lokal atau bujangan geografis tentu –wajar– jika diembel-embeli dengan setumpuk rasa kangen pada istri dan calon anak pertama saya. Akibatnya perjalanan dinas saya ke gorontalo bersama ketua tim pemeriksa lengkap dengan supervisor saya yang sedianya selesai dalam tiga hari menjadi molor. Hari jumat menjadi hari <em>kecepit</em> karena sabtu jelas libur. Ditambah hari senin adalah tanggal merah. <em>Wis,</em> mantap!</p>
<p>Ada apa kok saya nampak <em>mata-bojonen</em>, dimana dikit-dikit saya mikirin istri saya. Kalo saya bilang alasannya adalah saya sayang istri nanti dikira sok atau malah dikira lagi dalam tahap mbaik-baikin istri untuk lalu minta ijin kawin lagi. Bukan.</p>
<p>Kandungan istri saya makin mateng, dan ndokter kandungan memperkirakan istri saya akan melahirkan pada tanggal 25 agustus ini. Sedang itung-itungan mertua saya yang –menurut cerita– ibunya berprofesi sebagai dukun beranak itu kelahiran anak pertama saya akan jatuh pada tanggal 24 agustus. Tentu pikiran saya makin <em>ndak</em> tenang. Antara senang, takut, deg-degan, gak sabar dan pingin boker. Yang terakhir itu lebih karena saya belum boker dua hari terakhir ini.</p>
<p>Pertanyaan kawan-kawan soal apakah saya sudah siap nama buat anak saya sejatinya masih menyisakan kebingungan buat saya. Nama jelas ada namun kok ya belum 100% yakin dan berharap masih ada wangsit baru pas <em>injury time</em> seperti saat ini sampai saat bayinya lahir ke  dunia nanti.</p>
<p>Soal nama saya hanya mempertimbangkan empat hal. Satu, nama itu jelas harus bagus dan bermakna yang bagus pula. Bagus disini tentu buat saya bukan sekedar bagus kedengarannya namun ada unsur doa disitu. Buat istri, maaf tak ada kesempatan untukmu menambahkan kata “afgan’ pada nama anak ini!</p>
<p>Dua, saya memang bukan dukun, <span style="text-decoration: line-through;">kenal Mama Lauren saja tidak,</span> tapi saya ingin agar nama anak saya nanti tidak memalukan baik buat si pemakai maupun untuk saya dan keluarga besar Jawa dan Gorontalo.</p>
<p><img src="http://img291.imageshack.us/img291/5366/menarakeagunganlimbotobq1.jpg" alt="Menara Keagungan, Limboto, Gorontalo" width="400" height="552" /></p>
<p>Tiga, saya takut kalo-kalo nama yang saya berikan nanti terlalu berat. Nama <strong>Joko Buldoser</strong> tentu bukan saja berat namun juga aneh. Berat disini banyak kategorinya namun yang saya takutin cuman satu, berat makna dimana si penyandang nama dibebani suatu angan-angan, cita-cita harapan orang tua dan target yang disimbolkan dalam nama si anak tadi. Hmm.. Apa kabar ya teman saya yang bernama Ideoloog World Peacer? (Nama betulan ini!)</p>
<p>Empat, karena saya orang Jawa dan istri orang Gorontalo maka diharapkan agar nama anak saya bisa diterima di dua kebudayaan yang jelas jauh berbeda itu.</p>
<p>Hmm.. makin deg-degan saja mengingat nantinya saya akan punya anak, <em>dus</em> saya menjadi bapak dan istri saya menjadi ibu <span style="text-decoration: line-through;">serta partai-partai politik beramai-ramai mengumbar janji</span>.</p>
<p>Rencananya, hari jumat nanti (22/08/2008) saya akan kembali ngabur dari kantor untuk kembali menuju ke Gorontalo menggunakan angkutan darat. Perjalanan 425 kilometer melewati jalur Trans Sulawesi itu biasanya ditempuh dalam waktu 8 jam.</p>
<p>Ndak pegel-pegel apa itu badan? Jika sampeyan termasuk manusia ulang-alik, tentunya rasa capek itu bukan apa-apa. Karena ada sesuatu yang ngangeni, bikin rindu, disayangi, diharapkan, diimpikan dalam tidur, dilamunkan dan dicita-citakan sehingga menjadi layak untuk diulang-alikkan.</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR :<br />
- Gambar Menara Keagungan Limboto yang merupakan ikon Gorontalo yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah istri saya. Terletak di Limboto, Kabupaten Gorontalo, Propinsi Gorontalo. Dijepret menggunakan kamera ponsel Nokia E71 di atas sepeda motor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2008/08/21/manusia-ulang-alik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rasa Syukur Dalam Secangkir Kopi</title>
		<link>http://bangpay.org/2008/08/11/rasa-syukur-dalam-secangkir-kopi/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2008/08/11/rasa-syukur-dalam-secangkir-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 02:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Buruh]]></category>

		<category><![CDATA[Hujan]]></category>

		<category><![CDATA[kopi]]></category>

		<category><![CDATA[Mall]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<category><![CDATA[Mega Mal]]></category>

		<category><![CDATA[sulawesi utara]]></category>

		<category><![CDATA[sulut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu sore hari, setelah seharian berkeliling Manado macam backpacker (karena ada backpack di pungung saya) saya nongkrong di Mega Mal. Hujan dan rasa lelah di kaki menghentikan acara jalan-jalan (beneran jalan) saya hari itu.
Soal hujan sih pada awalnya tak begitu mengganggu. Entah kenapa hati saya belakangan gembira terus. Mungkin lantaran (Insya Allah) hari-hari menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 2px;" src="http://img209.imageshack.us/img209/6877/kopisore1oq3.jpg" alt="kopi sore...." width="170" height="220" />Hari Minggu sore hari, setelah seharian berkeliling Manado macam backpacker (karena ada backpack di pungung saya) saya nongkrong di Mega Mal. Hujan dan rasa lelah di kaki menghentikan acara jalan-jalan (beneran jalan) saya hari itu.</p>
<p>Soal hujan sih pada awalnya tak begitu mengganggu. Entah kenapa hati saya belakangan gembira terus. Mungkin lantaran (Insya Allah) hari-hari menjadi seorang Bapak makin dekat. Saat semua orang berlari atau minimal mempercepat langkahnya menghindari tetes demi tetes hujan yang jatuh cinta pada bumi, saya malah memperlambat langkah saya. Ah! Saya memang jatuh cinta pada hujan.</p>
<p><span id="more-52"></span>Namun perasaan aneh ini entah darimana datangnya. Lama sekali saya tak hujan-hujanan. Entah sudah berapa tahun saya tak menikmati hujan. Makanya acara hujan-hujanan kali ini bak pertemuan dengan kekasih yang lama tak berjumpa.</p>
<p>Kaki yang lelah akhirnya membuat langkah saya berhenti di Mega Mal, lalu hujan berubah menjadi sangat deras. Dalam hati berpikir, hei mungkin ini yang namanya keadilan. Mungkin saya justru tak bisa menikmati hujan jika sedari tadi saya diberikan yang deras. Rintik-rintiklah yang nikmat. Jika deras, mungkin saya akan mengumpat. Terima Kasih.</p>
<p>Lantai empat, tempat orang-orang jualan makanan dan minuman. Dan tempat makan yang pertama saya datangi menjual Soto Rusuk Babi. Sirna rasa lapar saya. Saya beralih ke <em>stand</em> lain yang bertuliskan “Drink Mania” (teman saya pernah bertanya, kenapa bukan drinking mania atau beverages mania. Entahlah)</p>
<p>Secangkir kopi hitam dan satu botol kecil air mineral dingin. Sembilan ribu lima ratus. Saya duduk di meja yang sedianya menghadap ke arah laut. Tempat favorit saya dan bini kala masih pacaran. Tapi saya kecewa. Tak nampak lagi lautan atau (kota) pulau Manado Tua. Kini yang nampak adalah bangunan setengah jadi yang pembangunannya masih dalam penyelesaian yang konon (menurut keterangan supir taksi yang pernah saya naiki, taksinya bukan supirnya!) rencananya gedung ini akan menjadi arena salju.</p>
<p>Salju di daerah tropis? Manusia memang membingungkan. Karena saya pikir pasti ada alasannya kenapa kita para manusia-manusia sawo matang ini hanya diberi dua jenis musim dan salah satunya bukan musim salju.</p>
<p>Dan setelah diamati, meski hujan besar, ternyata para pekerja tetap melaksanakan pekerjaan yang tak seberapa besar gajinya itu. Dan yang membuat saya tercekat adalah kenyataan bahwa penopang yang menjadi pijakan kaki mereka di pinggiran tembok bangunan bertingkat itu hanya beberapa batang bambu. Ya, saya sejak kecil diajari guru-guru saya tentang betapa kuatnya bambu tapi menempatkan nyawa seseorang yang mencari nafkah demi keluarganya pada beberapa batang bambu saya rasa itu sebuah lelucon (yang sama sekali) tak lucu.</p>
<p>Samar-samar di kepala saya seperti ada film yang diputar secara acak. Sebuah kenangan akan iklan layanan masyarakat mengenai keselamatan kerja. Dimana digambarkan si tokoh utama bekerja di proyek pembangunan gedung bertingkat tak menggunakan sabuk pengaman dan piranti keselamatan kerja lainnya. Kemudian gambar selanjutnya adalah semangka yang jatuh dan isinya berhamburan kemana-mana. Penggambaran kepala yang pecah. Ngeri.</p>
<p><img src="http://img368.imageshack.us/img368/4339/kopisore2hy3.jpg" alt="they work!" width="400" height="492" /></p>
<p>Bukan lantaran manusia makin alim rasanya jika belakangan keselamatan disemua bidang makin tak diperhatikan terutama jika penanganan keselamatan itu akan merogoh kocek si penyedia. Untung Tuhan tak marah dan membakar pantat para bos dan petinggi negeri ini yang mengabaikan standar keselamatan masyarakat yang ketika terjadi kecelakaan mereka beramai-ramai berujar:</p>
<p>“Yah, ini memang kehendak Tuhan….”</p>
<p>Gusti, matur nuwun atas semuanya&#8230;.</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR : Dipotret oleh saya sendiri dari foodcourt Mega Mal, Manado menggunakan Kamera Ponsel Nokia E71.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2008/08/11/rasa-syukur-dalam-secangkir-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bujang Who Waits For His First Own Son</title>
		<link>http://bangpay.org/2008/08/06/bujang-who-waits-for-his-first-own-son/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2008/08/06/bujang-who-waits-for-his-first-own-son/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 02:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[anak pertama]]></category>

		<category><![CDATA[bini]]></category>

		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>

		<category><![CDATA[kehamilan]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<category><![CDATA[mutasi]]></category>

		<category><![CDATA[selamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi bujang (lokal) lagi pastinya ada enaknya dan enggaknya. Enaknya, saya jadi ndak perlu repot lagi nganter-nganter istri saya ke kantor. Saya juga bisa seenak jidat saya tidur kebo. Maklum saya tak begitu sering jalan-jalan selama berada di manado jadi sepulang ngantor bisa langsung nyungsep ke peraduan.

Istri sejak hari rabu (30/07/2008) memang telah resmi meninggalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi bujang (lokal) lagi pastinya ada enaknya dan enggaknya. Enaknya, saya jadi ndak perlu repot lagi nganter-nganter istri saya ke kantor. Saya juga bisa seenak jidat saya tidur kebo. Maklum saya tak begitu sering jalan-jalan selama berada di manado jadi sepulang ngantor bisa langsung nyungsep ke peraduan.</p>
<p><img src="http://img357.imageshack.us/img357/9265/slametan083wr6.jpg" alt="ayam goreng bertelor" width="400" height="298" /></p>
<p><span id="more-51"></span>Istri sejak hari rabu (30/07/2008) memang telah resmi meninggalkan kota ternate untuk cuti bersalin sekalian pualng kampung ke Gorontalo. Memang rencana kami adalah untuk melahirkan anak kami di kampung halaman istri saya itu.</p>
<p>Saya ikut mengantarkan istri saya dengan mencarter mobil dan menempuh perjalanan darat melalui jalur trans sulawesi selama 10 jam lebih. Selama (hampir) seminggu itu juga saya membolos toh belum ada kerjaan.</p>
<p>Nah kesempatan saya berada disana (satu paket) dengan istri saya itu dimanfaatkan oleh mertua untuk mengadakan acara baca doa serta selamatan kehamilan istri saya. Maunya sih dengan tata cara adat Gorontalo lengkap, namun opsi itu ditolak mentah-mentah oleh istri saya. Jalan tengah yang diambil, adat tetap dipakai dengan berbagai modifikasi.</p>
<p>Saya ndak tahu detil acara selamatan minggu lalu itu. Ndak banyak ngerti juga. Tapi sebagaimana adat di jawa, banyak perlambang yang dipakai yang merupakan doa para orang tua agar si jabang bayi lahir dengan selamat dan sehat.</p>
<p>Satu hal yang membuat saya geli setengah mati adalah tatkala saya (bersama istri) harus menghabiskan satu ekor ayam kampung goreng. Anehnya si ayam dimasak dalam keadaan hendak bertelor seperti gambar di atas. Kasihan to?</p>
<p>Hahahaha&#8230;</p>
<p>KETERANGAN GAMBAR : dijepret menggunakan kamera ponsel Nokia E71</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2008/08/06/bujang-who-waits-for-his-first-own-son/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Ketiga Di Manado</title>
		<link>http://bangpay.org/2008/07/24/hari-ketiga-di-manado/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2008/07/24/hari-ketiga-di-manado/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 02:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kantor]]></category>

		<category><![CDATA[kantor baru]]></category>

		<category><![CDATA[manado]]></category>

		<category><![CDATA[mutasi]]></category>

		<category><![CDATA[pegawai baru]]></category>

		<category><![CDATA[pengangguran]]></category>

		<category><![CDATA[sulawesi utara]]></category>

		<category><![CDATA[sulut]]></category>

		<category><![CDATA[ternate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, seperti kemarin manado begitu dingin. Maklum saya baru pindah dari ternate yang pagi haripun saya sering bersimbah keringat. Kemarin, pukul 9 WITA saya bersama empat orang lainnya dilantik menjadi pejabat fungsional pemeriksa.
Keberangkatan saya ke manado menggunakan pesawat merpati tentu saja diantar oleh bini tercinta yang untuk sementara waktu harus berpisah dengan saya karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, seperti kemarin manado begitu dingin. Maklum saya baru pindah dari ternate yang pagi haripun saya sering bersimbah keringat. Kemarin, pukul 9 WITA saya bersama empat orang lainnya dilantik <a title="promosi!!!" href="http://bangpay.org/2008/07/05/akhirnya-boyongan-ke-manado/" target="_blank">menjadi pejabat fungsional pemeriksa</a>.</p>
<p><a title="link ke blog bini ya..." href="http://bini.bangpay.org/2008/07/21/ketika-bangpay-ke-manado/" target="_blank">Keberangkatan saya ke manado</a> menggunakan pesawat merpati tentu saja diantar oleh bini tercinta yang untuk sementara waktu harus berpisah dengan saya karena dia memang masih harus ngantor di Ternate. Rencananya minggu depan istri saya akan nyusul saya ke manado.</p>
<p><span id="more-50"></span>Manado memang bukan kota yang asing buat bini dan saya namun jadi asing ketika saya harus berada disini sendirian. Buta arah dan tentu saja buta jalur angkot.</p>
<p>Manado, kota yang begitu berbeda dari kota tempat saya bertugas sebelumnya. Jika di ternate bertebaran masjid di sana-sini seperti yang diceritakan bung uli <a title="tentang kota ternate" href="http://www.uliansyah.or.id/2008/07/11/untaian-permata-hijau-tidore-dan-ternate/" target="_blank">di sini</a>, di manado kita hanya akan mendapatkan masjid di sudut-sudut perkampungan padat.</p>
<p>Soal makan, yang biasanya ndak rewel karena bersifat omnivora, kini saya jadi rewel setengah mampus. Bingung mau makan dimana, kalo perut tak bisa lagi bertoleransi, maka saya pasti akan ngabur ke Warung Ayam Goreng Tepung milik Purnawirawan Kolonel Sanders.</p>
<p>Pusing saya tiap kali ke manado, karena dimana-mana akan menemukan tempat makan yang kebanyakan tak bisa dikonsumsi oleh seorang muslim seperti saya. Nama-nama makanan dari mie goreng babi, sampai sup rusuk babi atau sate anjing jelas ndak masuk ke daftar makanan saya (sehari-hari dan kapanpun). Yah, namanya juga di kampung orang, harus pinter-pinter beradaptasi.</p>
<p>Lalu ngapain aja saya di kantor hari ini?</p>
<p>Dari lima orang yang baru dilantik, hanya dua orang yang masuk kantor hari ini. Dua-duanya sama-sama eks ternate pula. Saya cuman lontang-lantung ndak jelas dari tadi, baca koran, dan akhirnya setelah ada kabel LAN nganggur, saya bisa ngeblog lagi.</p>
<p>Sebagai pegawai baru, saya memang belum mempunyai meja atau jatah komputer kantor sendiri, wong ruangan buat saya saja baru disiapkan lho.  Jadinya kayak hantu saja.</p>
<p>Gentayangan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2008/07/24/hari-ketiga-di-manado/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gusti, Ajari Kami Memanusiakan Manusia</title>
		<link>http://bangpay.org/2008/07/18/gusti-ajari-kami-memanusiakan-manusia/</link>
		<comments>http://bangpay.org/2008/07/18/gusti-ajari-kami-memanusiakan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 14:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpay</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>

		<category><![CDATA[hedonisme]]></category>

		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>

		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<category><![CDATA[materialistis]]></category>

		<category><![CDATA[moderen]]></category>

		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<category><![CDATA[status]]></category>

		<category><![CDATA[tai kucing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangpay.org/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Di umur bumi yang sudah begitu tua, sangat tua sehingga panasnya pas sampai-sampai makhluk hidup bisa melata di atasnya. Dalam panjangnya sejarah manusia sejak turunnya Nabi Adam sampai sekarang. Kenapa saya merasa kita para manusia ini malah semakin ndak kenal dengan diri kita (sesama manusia)?

Status, kekayaan, intelektualitas bahkan merek celana dalam bisa membuat manusia lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di umur bumi yang sudah begitu tua, sangat tua sehingga panasnya pas sampai-sampai makhluk hidup bisa melata di atasnya. Dalam panjangnya sejarah manusia sejak turunnya Nabi Adam sampai sekarang. Kenapa saya merasa kita para manusia ini malah semakin <em>ndak</em> kenal dengan diri kita (sesama manusia)?</p>
<p><img src="http://img300.imageshack.us/img300/3151/nasigorenggusuranya7.jpg" alt="nasi goreng digusur" width="400" height="229" /></p>
<p>Status, kekayaan, intelektualitas bahkan merek celana dalam bisa membuat manusia lupa diri dan <em>gede sirah</em> menganggap dirinya jauh melebihi manusia lain.</p>
<p><span id="more-48"></span>Entah bagaimana pandangan manusia begitu ketika memandang kedudukan nyamuk dalam tata kosmik kehidupan ini. Padahal jelas kita ini belum mampu mengungkap segala rahasia dalam seekor binatang bernama nyamuk, apalagi menciptakan yang serupa.</p>
<p>Saya masih <em>sendika dawuh</em> kalo ada yang bilang &#8220;Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya&#8221;. Karena kesejatian bukan mengembara ke luar mencari kebenaran, namun menggali ke dalam. Celakalah saya kalo ndak mau belajar mengenal wujud saya sebagai manusia.</p>
<p>Di dunia yang serba konotatif dimana segala sesuatu tidak dimaknai sebagaimana ia yang sebenarnya. Maka kata sukses dan kesuksesan pun ikut bermutasi. Suksesnya manusia kini bukan tentang bagaimana ia menjadi figur ayah yang bijaksana dalam seribu kacamata dan sejuta pertimbangan, tapi bagaimana seorang ayah mencukupi segala kebutuhan keluarganya. Suksesnya seorang pemimpin kini diukur dengan sejauh mana ia mampu meningkatkan pendapatan per kapita, bukan soal bagaimana ia berlaku adil dan <em>amin</em> lagi terpercaya serta mampu menjaga harga diri dan nama baik bangsa di mata internasional.</p>
<p>Lalu dimana posisi Tuhan di dunia moderen?</p>
<p>Jika saya naik bus dalam kota, maka niscaya saya lebih memilih untuk menyumbat telinga saya dengan MP3 player daripada mengajak penumpang lain di sebelah saya untuk ngobrol. Ya dunia penuh syak wasangka memang menyebabkan kita untuk lebih banyak tenggelam dalam usaha menjaga keamanan pribadi. Karena konon di angkutan umum kalo ada yang mengajak ngobrol biasanya justru penjahat, tukang racun, tukang hipnotis. Makanya saya lebih milih diam daripada diteriaki sebagai penjahat.</p>
<p>Manusia makin tak kenal dengan manusia dan kemanusiaan. Tanyakan saja sama anak SD apa yang namanya kemanusiaan? Jangan kaget kalo jawabannya adalah : &#8220;Kalo ada pengemis ya kita harus nyumbangin sedikit uang jajan&#8230;&#8221;. Ah makin susah saja cuek dengan yang namanya uang. <em><span style="text-decoration: line-through;">Asu!</span></em></p>
<p>Kecendekiaan juga begitu. Tolak ukurnya adalah bagaimana kepintaran seseorang menghasilkan uang, baik buat dirinya sendiri, keluarganya, orang banyak atau negara. (baca <a title="Ajisaka" href="http://ppsjs.blogspot.com/2008/03/j-i-s-k.html" target="_blank">puisi ini</a>, jangan tertawa, itu kita)</p>
<p>Konon kejernihan hati justru ada pada kesederhanaan, baik kesederhanaan dalam pola pikir, tutur kata maupun tingkah laku. Karena itulah saya ingin menjadi bagian dari mereka yang banyak, bagian dari mereka yang ingin rame-rame diberantas. Kaum marjinal, <em>kere</em>, <em>wong cilik</em>, proletar, pinggiran atau apapun sebutan yang intinya sama itu.</p>
<p>Menjadi bagian dari mereka itu beda dari menjadi mereka. Menjadi bagian dari mereka adalah lebih kepada belajar memandang kehidupan a la survival. Mengerti isi hati mereka. Untuk lalu mencari solusi terbaik. Mungkin bukan untuk mencoba mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan. Sekedar membuat tersenyum pun (semoga) sudah menjadi ibadah. Kalo memang <em>mentok</em>, minimal saya tahu apa yang tak boleh saya lakukan yang bisa membuat mereka marah dan bersedih. Karena konon orang miskin tak memiliki apapun kecuali Tuhan.</p>
<p>Gusti, saat kata gusur berkonotasi menjadi kata penertiban. Ketika kata arogan menjadi &#8220;tegas membela kebenaran versi pribadi&#8221;. Ketika kata hak berubah wujud menjadi &#8220;kewenangan untuk tidak menghormati sedikitpun hak makhluk lain untuk sekedar numpang hidup&#8221;. Ketika anarkisme disulap menjadi &#8220;tindakan yang dianggap perlu demi tercapainya tujuan mulia, demi rakyat&#8221;. Saat caci maki jadi halal karena telah menjelma menjadi &#8220;pendongkel ketulian yang menahun&#8221;.</p>
<p>Saat itu semua terjadi &#8212;mungkin sudah&#8212; tolong lembutkan hati hamba, tajamkan penglihatan mata dan hati hamba, perjelas pendengaran hamba, permudah langkah hamba, perpanjang uluran tangan hamba, permurah air mata hamba sehingga tak malu untuk menangisi sesuatu yang memang pantas untuk ditangisi.</p>
<p>Dan bagi manusia-manusia yang terpinggirkan di dunia materialis hedonis seperti saat ini, tolong beri mereka sebanyak-banyak kesabaran, tundukkan hati mereka dalam ketabahan, lembutkan urat nadi mereka, perlambat aliran darah emosi mereka. Beri mereka kesabaran, ketabahan, kelembutan namun jangan beri mereka kekuatan. Karena bisa saja jika kekuatan yang Engkau beri maka banjir darah sesama manusia akan terjadi, Gusti. Dan (memang) sudah sering terjadi. Entah bagaimana <a title="masa depan entut!" href="http://kalangkabut.wordpress.com/2008/05/08/dongeng-tentang-indonesia-untuk-anakku/" target="_blank">masa depan</a> dunia nanti.</p>
<p>Karena manusia yang terpinggirkan itu jumlahnya,</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;..sangat banyak!</p>
<p>Tulisan ini ditulis dengan penuh amarah dan duka yang teramat dalam setelah mengalami sendiri makan malam di gerobak pinggir jalan yang lalu gerobak tersebut diusir (hampir ditabrak dengan mobil) tanpa ba-bi-bu oleh si empunya lahan. Cerita lengkapnya mengenai kejadian itu ditulis <a title="bini ku sayang... halah!" href="http://bini.bangpay.org" target="_blank">bini</a> saya di <a title="Reportase Penggusuran Kuliner" href="http://bini.bangpay.org/2008/07/18/wisata-kuliner-yang-tergusur/" target="_blank">sini</a>. <em><span style="text-decoration: line-through;">Tai Kucing!</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangpay.org/2008/07/18/gusti-ajari-kami-memanusiakan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
